Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bahagia yang menyeruak


__ADS_3

"Apa benar aku bisa menerima bayi ini?", tanya Susi didalam hatinya. Pernikahan Yahya dan Susi baru seumur jagung. Susi Masih dalam kebingungan. Ia belum siap dengan bayi di dalam perutnya.


Kring... kring... handphone nya berbunyi. "Assalamualaikum...", sapa Susi. "Waalaikumsalam, kamu hamil Sus?", tanya suara dari seberang telepon. "Iya ka", jawab Susi. Saat ini Susi menerima telepon dari kakanya di Palangkaraya. Susi terdiam sesaat. Tia yang merupakan kakanya pun bingung mengapa tidak ada respon suara dari Susi. "Sus, kamu gak apa-apa kan?", tanyanya khawatir. "Ga papa kak", jawab Susi. "Jaga kesehatanmu, apalagi ada bayi di perutmu", kata Tia. "Iya", jawab Susi singkat. Tia merasakan keanehan pada sikap Susi. "Ya sudah, kamu perbanyak istirahat. Jangan pikirkan yang tidak perlu. Kak Tia tutup teleponnya ya", kata Tia sembari menutup perbincangan dengan Susi. Susi sendiri masih merasakan kegalauan di hatinya.


Sorenya, Yahya yang baru pulang kantor langsung mengajak Susi untuk cek ke Dokter Kandungan. "Ayolah Sus", bujuk Yahya agar Susi mau ikut dengannya. "Males mas", jawab Susi. Segala cara dilakukan Yahya agar Susi mau memeriksakan kandungannya lagi. Susi masih ogah memenuhi keinginan suaminya itu. Yahya pun juga tidak berani memaksakan keinginannya. Ia memaklumi kabar yang mendadak yang membahagiakan bagi dirinya itu, dan Susi juga perlu adaptasi dengan perubahan yang ada.

__ADS_1


"Wah, hebat kamu Yahya. Baru beberapa bulan menikah sudah akan menjadi ayah", celetuk Andi menyapa Yahya saat di kantor. Yahya pun menarik tangan Andi. "Sssst jangan keras-keras, nanti kedengaran banyak orang", kata Yahya. "Masa kabar bahagia disembunyikan", balas Andi. "Kehamilannya kan masih baru, takutnya pamali kalau sudah beritanya tersebar kemana-mana. Tunggu sampai usia kehamilannya sudah besar", jelas Yahya. Andi pun mengangguk.


Yahya merasakan bahagia sekali atas kehamilan istrinya, ia ingin istrinya fokus dengan kehamilannya dan tidak kecapean. Ia pun merencanakan akan perlunya asisten untuk membantu istrinya di rumah.


Sesampai di rumah, Yahya melihat istrinya yang asyik rebahan sambil menonton televisi. "Seriusnya menonton televisi, santai aja wajahnya", kata Yahya. Susi hanya menoleh dan tidak merespon suaminya. Susi merasa tidak senang karena komentar suaminya membuat mood nya menonton acara TV menjadi tidak seru lagi. Susi pun mematikan Televisinya. Melihat perubahan wajah istrinya jadi cemberut, Yahya berusaha menghiburnya. "Deuu... Ibu hamil yang lagi marah sama suaminya", goda Yahya. Susi semakin tidak menghiraukan godaan suaminya itu. Merasa tidak digubris godaan nya, ia langsung mengajak istrinya jalan-jalan makan diluar. Susi langsung berubah senang. Lain di mulut, lain juga dihati.

__ADS_1


Kalau bahagia secukupnya, dan kalau pun sedih juga secukupnya. Itulah yang seharusnya. Terlalu bahagia bisa menimbulkan rasa iri di hati orang lain. Cukup diri sendiri yang bahagia, tidak perlu pamer ke orang lain.


"Sus, terima kasih karena adanya dirimu, hidup mas sekarang berwarna", kata Yahya. Susi tersenyum dan terharu akan ungkapan perasaan suaminya itu. Ia teringat akan janin yang ada di dalam perutnya. Mungkin bayi ini memang tepat muncul di tengah-tengah kebahagiaan mereka berdua.


Setelah berkeliling dan jalan-jalan belanja barang yang disukai istrinya. Yahya mengajaknya makan. Kali ini mengajak makanan Arab. Susi bingung kenapa ga makan bakso dan menu lalapan pada umumnya. Yahya membaca pikiran istrinya itu. "Sekali-kali kita ganti menu lah, menu ala-ala Arabian gitu", goda Yahya kepada istrinya. "Terserah mas lah, kan uang nya juga di mas", colek Susi manja di tangan suaminya. Yahya hanya bisa tertawa menanggapi sikap istrinya itu. Tidak berapa lama mereka pun menikmati makan malam yang penuh kebahagiaan. Setelah 9 bulan nanti, akan ada bayi mungil yang akan hadir di tengah-tengah mereka. "Terima kasih, karena kehadiranmu di perut mama membuat mama bahagia", kata Susi didalam hatinya sambil memegang perutnya sendiri. Selesai makan malam, Yahya dan Susi pun pulang dengan perasaan senang sudah menghabiskan quality time berdua, disela-sela kesibukan Yahya yang masih harus bekerja esok paginya.

__ADS_1


Setiba di rumah, Susi yang sudah mulai mengantuk dan langsung bersiap-siap ke tempat tidur. "Ganti bajumu dulu, baru istirahat", saran Yahya pada istrinya yang sudah kelelahan ingin langsung merebahkan diri di kasur. "Iya mas", jawab Susi sambil berusaha bangun dari kasur yang tadi sudah hampir jadi pelabuhan mimpinya. Yahya tersenyum saja melihat kelakuan istrinya, setiap hari ada-ada saja hal baru yang diketahuinya dari istrinya itu. Semakin menambah rasa sayang nya kepada Susi, apalagi akan ada anak yang akan menambah kebahagiaan pernikahanmya dengan Susi.


Yahya sudah melihat istrinya yang langsung terlelap dalam tidurnya. Dikecupnya kening istrinya sambil bergumam, "Mimpi indah istriku, aku mencintaimu". Yahya pun kemudian menonton televisi acara favoritnya. Setelah selesai menonton, ia pun juga menemani istrinya yang sudah tidur lebih dahulu. Sambil menyelimuti istrinya, Yahya mulai mematikan lampu kamar sebagai pertanda ia pun juga akan segera tidur. Malam yang panjang dan gelap, semoga dihiasi dengan mimpi indah yang akan menjadi kenyataan esok harinya. Siapa yang tahu apa takdir esok hari, sebagai insan hanya bisa menjalani dan berharap agar memiliki takdir kehidupan yang baik. Tidak pernah ada yang berharap besok hariku akan tidak menyenangkan. Hari ini adalah anugerah Tuhan yang dijalani dan disyukuri. Apa yang terjadi esok masih penuh teka-teki rahasia Sang pencipta.


__ADS_2