
Menikah dan memiliki anak merupakan satu paket yang tidak terpisahkan, karena menikah memiliki cita-cita luhur agar keturunan terus berlanjut.
Pagi-pagi Yahya sudah berangkat kerja, setelah berpamitan dengan sang istri. Yahya langsung bekerja dengan perasaan senang. "Istriku hamil", kata hati Yahya yang terlihat dari raut wajahnya yang sumringah sendiri.
Sesampainya di tempat kerja, Yahya bertemu dengan Andi. "Tumben sepagi ini sudah di kantor", sapa Andi. "Kamu nyindir atau mau muji sih An?", tanya Yahya. Andi hanya tersenyum. "Ada kabar apa? Yang bisa membuat aroma wajahmu begitu wangi?", tanya Andi lagi. "Aroma apaan, kau kira parfum", jawab Yahya. Saling meledek dan bercanda, itu sudah menjadi keseharian duo sobat ini di tempat kerja.
__ADS_1
Kemudian Yahya mendekat ke arah Andi sambil berbisik, "Istriku hamil". Andi langsung seketika, badan Andi bergidik, bisikan Yahya yang berupa angin yang lewat melalui telinganya membuat Andi kaget. "Masya Allah Yahya, bikin kaget saja. Wow, hamil!. Serius?", tanya Andi lagi. Yahya mengiyakannya. "Selamat ya, tokcer juga kamu. Baru menikah sudah bisa membuat istrimu hamil", jawab Andi. "Pejantan tangguh tapi ya bukan aku yang hebat lo, Allah lah yang hebat bisa membuat istriku hamil", jelas Yahya. "Tapi ada kontribusi besar dari kamu juga kan? Jangan-jangan usaha keras terus hari-hari", goda Andi. "Hush, jangan keras-keras. Aku ga mau kedengaran rekan kerja yang lain", jawab Yahya. "Bukannya kabar bahagia itu perlu disampaikan , biar ya dapat banyak doa", jelas Andi lagi. "Nanti saja", jawab Yahya. Kedua sahabat ini pun bercanda dengan senangnya.
Sementara itu, Susi yang lagi belanja keperluan rumah dengan paman sayur yang biasa lewat didepan rumahnya setiap pagi, malah membeli buah-buahan pepaya, mangga dan nanas. Susi ngiler dengan buah-buahan tersebut. "Wah Ibu Susi mau rujakan ya di rumah", kata Ratna. "Lagi mood nya pengen makan buah aja", jawab Susi. "Hamil ya?", tanya Riri. Susi tidak menjawab kalau dirinya sedang hamil. "Biasanya awal-awal hamil begitu, inginnya makan yang asam-asam segar, tapi ingat nanas ga bagus lo bagi perempuan hamil. Tapi kalau nggak hamil, ya silahkan aja makan nanas kalau mau rujakan", jelas Ratna. "Sekali ngomong, panjang betul penjelasannya", celetuk Riri. "Aku kan jarang keluar seperti ini Ri, maklum lah banyak bicaranya. Kalau tugas domestik belum selesai mana bisa keluar, ya ga bisa talky-talky kaya sekarang", Ratna menjelaskan. Riri tertawa saja. Susi hanya tersenyum mendengar celotehan kedua tetangganya. Ia masih belum terlalu dekat dengan mereka juga.
Setelah menghitung berapa belanjaannya dengan paman sayur langganan. Susi pun langsung masuk ke rumah kontrakannya. "Aku memang ingin makan buah ini, tapi apakah aman bagi kehamilanku ya", kata Susi didalam hati sambil memandang buah nanas yang ranum menggugah selera.
__ADS_1
Susi pun mulai menjelajah Dunia Maya, ia mensearch di Google seputar buah nanas apakah aman bagi ibu hamil muda. Ternyata buah nanas selama kehamilan memang mitos yang beredar di masyarakat dan dipercaya. Padahal belum ada bukti ilmiah hingga saat ini kalau nanas bisa menyebabkan keguguran. Namun banyak juga Ibu hamil yang khawatir mengkonsumsi selama hamil karena takut keguguran. Memang dalam buah nanas ada kandungan enzim bromelain bersifat proteolitik yang dapat memecah protein di dalam tubuh. Selain itu senyawa ini dapat memancing kontraksi sehingga menyebabkan keguguran dan pendarahan. Namun kandungan enzim ini dalam nanas sangatlah kecil, jadi kalau dikonsumsi dalam batas wajar tidak menyebabkan efek berbahaya bagi ibu hamil. Bahkan mengandung nutrisi yang baik bagi ibu hamil, terutama vitamin C selama hamil. "Berarti boleh, tapi batasan normal tu seberapa banyak ya", pikir Susi sambil memandangi nanasnya yang masih utuh. "Daripada buahnya cuma dipandang saja, baiknya kupotong-potong dulu saja", pikir Susi. Susi pun langsung mengambil pisau yang ada di dapurnya untuk memotong buah nanas. Nanas itu pun dibelah dua, isi buah nanas berwarna kuning dan bau matang si buah nanas membuat makin menggoda. Susi menitikkan air liurnya, akhirnya ia pun berpikir ga papa kalau hanya mencoba sepotong. Susi merasa bahagia sekali, rasa buah nanas membuatnya ketagihan, diambilnya lagi sepotong, dan lagi dan lagi. Akhirnya tanpa disadari, buah nanas sudah habis dimakan oleh Susi. Susi menyadari kalau buah nanasnya sudah habis saat tangannya Masih ingin mengambil potongan buah nanas. Ternyata sudah tidak ada lagi buah nanas yang tersisa. Susi merasa kecewa. "Yah habis", kata Susi. Susi pun berpikir kalau besok dia akan membeli buah nanas lagi.
Handphone Susi berbunyi. Ternyata dari Tia. "Assalamualaikum Tia", sapa Susi mengawali perbincangan dengan Tia. "Waalaikumsalam", jawab Tia. "Ada kabar apa?", tanya Susi. "Ga ada kabar apa-apa, kangen saja bagaimana keadaan ibu hamil disana?", tanya Tia lagi. "Ya ga papa Tia, lancar saja. Sekarang aja aku baru makan buah nanas, saking enaknya sampai habis satu biji full", jelas Susi dengan semangatnya. "Eh ka, jangan sembarangan makan buah nanas, kaka lagi hamil muda lo, bisa menyebabkan keguguran", kata Tia. "Aku sudah baca di internet Ti, aman saja selama ga berlebihan makannya", jelas Susi. "Ga berlebihan bagaimana, ka Susi sudah habis satu biji, itu sudah kebanyakan kaka. Besok-besok stop makan nanas dulu, nanti kenapa-kenapa dengan bayinya", kata Tia lagi. "Iya, iya, cerewet betul", jawab Susi. "Dimana Boy?", tanya Susi. "Jam segini Boy pergi mengaji tuh di TK Al Quran, semoga cepat selesai khatam", jelas Tia. "Aamiin", jawab Susi. "Boy itu sudah lama betul baca Qurannya, mudah-mudahan bisa selesai, jadi tinggal mengulang sendiri baca nya biar lancar", jelas Susi. "Tahu aja Boy ka, kalo mood nya bagus pergi ngaji, kalo lagi tidak ya tidur, hahaha", suara tawa Tia yang kencang membuat Susi ikut tertawa juga. "Hahaha kamu kan tahu Boy gimana orangnya", jelas Susi. "Ya udah deh ka, asal mendengar kaka sehat-sehat aja, Tia senang. Tia tutup teleponnya ya", kata Tia. "Iya, sampai nanti", jawab Susi.
Susi pun menghela nafas. Syukurlah keluara di Palangkaraya baik-baik saja. Dan Boy tidak berulah macam-macam. Susi mengkhawatirkan Boy yang suka seenaknya saja dalam bertindak. Ia tahu kalau Boy menganggap perceraian dirinya dengan Reza ayahnya dulu adalah kesalahan Susi yang tidak mau bersabar dengan kehidupan bersama Reza yang hidup pas-pasan. Sekarang, Susi di kehidupan yang sudah berkecukupan dengan Yahya, tapi hatinya merasa hampa. Apa sebenarnya yang dicari olehnya. Susi melayangkan pikiran yang entah kemana arahnya.
__ADS_1