Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Secepat Itu Perginya


__ADS_3

Esok harinya Susi terus tidak dapat menahan keinginannya untuk terus memakan buah nanas. Apakah ini bawahan bayi atau bagaimana. Setelah memakan buah nanas, mood Susi jadi bagus. Susi mulai malas ingin melakukan rutinitas kesehariannya. Maklum bawahan ibu hamil sih. Bawaannya leyeh-leyeh saja di kasur sembari menonton televisi.


Sebulan pun berlalu, dan jadwal pemeriksaan rutin bayi dalam kandungan Susi. Yahya dengan semangatnya mengajak Susi melakukan cek ke Dokter Kandungan. Ternyata, bayi nya dalam kondisi sehat namun masih belum terlalu melekat di Rahim, ditakutkan terjadi keguguran, sehingga memberikan obat penguat kandungan untuk Susi minum, selain vitamin lainnya. Susi pun mengangguk.


Sepulang dari pemeriksaan, Yahya tidak banyak berkomentar. Ia tidak ingin istrinya terlalu banyak pikiran sehingga mengganggu kesehatan bayi di dalam perut. Untuk memecah kesunyian, Yahya berkata, "Nanti kita mampir beli buah ya sehabis makan dulu". Susi mengangguk. Yahya bingung, sudah dua kali istrinya mengangguk dan tidak banyak bicara. Tadi waktu bersama dokter, yang kedua menanggapi ajakannya pergi beli buah. Susi masih membisu. "Makan dulu yuk", ajak Yahya. "Iya mas", jawab Susi. Dan akhirnya Susi membuka mulutnya dan mulai bersuara. Mereka pun makan, tidak ada percakapan apapun selama makan, hanya sesekali Yahya memandangi istrinya yang makan dengan lahap. Susi begitu menikmati makanannya, terlihat dari habisnya seporsi makanan di piring itu. Yahya senang istrinya menghabiskan makanannya. Kemudian setelah selesai makan, Yahya pun mengajak Susi ke tempat yang ia janjikan sehabis dari tempat dokter tadi. Yahya berjanji mengajak Susi ke toko buah. Dan anehnya, lagi-lagi Yahya pun mengikuti kemauan istrinya, yang ingin membeli buah nanas.


Akhirnya, Susi seperti kecanduan makan buah nanas. Nikmatnya buah nanas sungguh tidak dapat ditahannya. Ia tidak ingat akan kondisi kandungannya yang masih belum begitu kuat menempel di rahimnya. Tetap saja ia memakan buah nanas, sampai suatu hari, Susi merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Ia berusaha menahan sakit perutnya itu, Susi menahan sakit perutnya dengan berusaha rebahan di tempat tidur. Dan hasilnya, ia pun masih merasakan sakit yang tidak tertahankan. Setelah berupaya bertahan dengan rasa sakit, tiba-tiba keluar cairan darah dari selangkangannya. Ia pun kaget dan ketakutan. Susi menangis sekeras-kerasnya, sampai Riri tetangga sebelah kontrakan pun mendengarnya. Riri pun bergegas mendatangi Susi. "Sus, kamu ga papa?", tanya Riri. "Masuk Ri", jawab Susi lirih. Riri pun langsung masuk dan melihat Susi dalam kondisi rebahan dengan darah yang keluar banyak. "Kamu hamil Sus?", tanya Riri. "Iya, aku ga tahu kenapa begini", jawab Susi. "Ya udah, mana Hp mu. Kita hubungi suamimu dulu, aku akan mengantarmu ke rumah sakit", jelas Riri.

__ADS_1


Riri menjelaskan kondisi Susi yang sebenarnya kepada Yahya. Kemudian, Riri pun segera menghubungi suaminya Ahmad untuk memberitahukan semuanya, ia bingung bagaimana membawa Susi dalam kondisi seperti itu. Tapi suaminya bilang, tidak mungkin dirinya segera pulang kantor dan perlu waktu untuk ia pun segera sampai ke rumah. Akan lebih efektif kalau Riri bisa menemukan sesama penghuni yang ada di sudah ada di tempat untuk diminta mengantar mereka. Riri berusaha mencari cara, karena tidak mungkin dengan menggunakan sepeda motor.


Akhirnya ia mencoba keluar dari rumah Susi, dan bertemu dengan mas Sandy yang juga penghuni kontrakan yang kebetulan baru datang dari aktifitasnya. Riri langsung menodong mas Sandy yang baru mau keluar dari mobilnya. "Mas tolong antar Mba Susi ke rumah sakit", pinta Riri. "Kenapa dengan mba Susi?", tanya mas Sandy lagi. "Sepertinya keguguran", jelas Riri lagi. "Ayo", ajak mas Sandy bergegas. Sandy Dan Riri pun memapah Susi dan memasukkannya ke dalam Mobil. Sedangkan Riri langsung memasukkan beberapa pakaian Susi yang dibawa ke rumah sakit, kalau nantinya Susi harus menginap ke rumah sakit.


Susi pun langsung dibawa ke IGD rumah sakit untuk segera diperiksa. Dengan kondisi seperti itu, pihak rumah sakit langsung memberikan pertolongan. Kemudian setelah menunggu, akhirnya dokter yang membantu Susi keluar. Dokter mengatakan kalau Ibu Susi keguguran dan kandungannya tidak dapat diselamatkan, namun ibu Susi sudah dalam kondisi normal, tidak berbahaya dan bisa masuk ke dalam fasilitas kamar di rumah sakit untuk beristirahat.


Setelah mengucap syukur, Riri pun membantu pengurusan proses kamar inap rumah sakit agar Susi bisa dipindahkan ke kamar rumah sakit. Sandy pun turut membantu. Akhirnya Susi pun sudah berada di kamar rumah sakit, Riri memilihkan kamar VIP untuknya.

__ADS_1


Akhirnya Yahya pun muncul di sana. Riri dan Sandy pun berpamitan untuk pulang karena sudah ada Yahya yang datang untuk menemani Susi di rumah sakit. "Terima kasih ya Riri dan Sandy", kata Yahya. "Sama-sama", jawab mereka kompak.


Setelah kepergian mereka. Susi dan Yahya saling berpandangan. Kemudian suara isak tangis Susi memecah keheningan. Yahya memeluk istrinya dan berusaha menyenangkan dengan menepuk bahunya. Yahya tidak ingin menambah kesedihan istrinya. Walaupun dirinya merasa keadaan lagi tidak berpihak pada mereka. Yahya berkata, "Kita masih bisa punya kesempatan memiliki bayi yang lain, mungkin belum rezeki untuk yang satu ini. Ikhlaskan saja. Yang sudah pergi, tidak mungkin kembali". Tangis Susi pun mulai mereda. Ia mulai tenang, namun sesegukan akibat menangis masih tersisa. Yahya pun tidak ingin berkata apa-apa lagi, yang bisa dilakukannya hanya menghiburnya.


Esoknya Susi sudah bisa pulang. Yahya mengurus proses rumah sakit sebelum Susi meninggalkan rumah sakit. Setelahnya, Ia dan Susi pulang. Susi masih lebih banyak diam. Yahya memaklumi. Kejadian yang menimpa istrinya tentunya bukanlah kejadian yang diharapkan seorang ibu. Tidak ada seorang ibu yang ingin melukai anaknya.


Sesampai dirumah, Yahya mengangkat barang-barang. Susi langsung disuruh Yahya segera masuk rumah dan segera beristirahat. Segala sesuatu berupa barang dan lain-lain, Yahya sendiri yang mengurusnya.

__ADS_1


Riri yang merupakan tetangga di sebelahnya mendengar ada suara di samping rumahnya langsung keluar melihat. "Bu Susi sudah pulang Pak?", tanya Riri pada Yahya. "Alhamdulillah iya, Bu Riri. Tapi Susinya harus istirahat dulu", jawab Yahya. "Saya mengerti kok Pak, yang penting kondisi ibu sehat", kata Riri lagi. Riri pun masuk kembali ke dalam rumahnya. Sementara Yahya segera masuk ke rumah setelah semua barang telah diangkat.


Didalam rumah, Yahya sudah melihat Susi sedang rebahan sambil menonton televisi di dalam kamarnya. Ia senang istrinya sudah mulai santai, walaupun Yahya tahu tidak semudah itu melupakan kejadian yang baru saja dialami, apalagi kejadian itu merupakan kejadian pahit dalam hidup kita.


__ADS_2