
Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Sudah terhitung selama dua minggu ini Senja belum memberikan akses pada Bumi untuk bertemu. Sebelum berangkat bekerja, Bumi sempatkan untuk singgah sejenak di depan gerbang rumah Bu Resti.
Saat sore hari tiba, sepulang dari kantor, Bumi juga akan menunggu Senja keluar. Nyatanya, hingga suasana semakin malam, sosok Senja tidak pernah muncul. Istrinya itu seperti sengaja menghindari dirinya.
Bumi melirik arloji yang melingkar di lengannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bumi harus pulang karena Arta hanya bersama Siska dan Bi Tijah di rumah.
Bumi menghembuskan napasnya kasar. Sekali lagi dia melempar pandangan ke arah balkon dimana Senja pernah terlihat berdiri di sana. Setelah memastikan tidak ada Senja, Bumi melajukan mobilnya untuk pulang.
"Aku akan coba lagi besok," gumamnya lelah, tetapi berusaha untuk tidak menyerah.
Sedangkan Senja, dia selalu berdiri di balik jendela hanya untuk melihat Bumi yang duduk di kursi kemudi. Jelas Senja bisa melihatnya karena Bumi selalu membuka kaca mobilnya. Walau tak terlalu jelas, setidaknya Senja bisa mengobati rasa rindunya yang membara.
"Aku kasihan ke kamu, Mas. Namun, aku belum puas memberi kamu pelajaran," ucap Senja sambil mengelus perutnya pelan.
Ketika Senja melihat mobil Bumi bergerak, saat itu juga Senja menghela napas kasar. Entah karena apa, atau karena hormon kehamilannya, Senja ingin sekali memeluk Bumi dan tidur dengan posisi di dekap erat.
Sayangnya, Senja masih gengsi untuk mengakui. Dia tidak ingin mengemis cinta lagi. Kali ini, dia akan membiarkan Bumi merasakan apa yang selama ini dia rasakan.
"Sabar sebentar lagi ya, Sayang. Bunda butuh waktu untuk bisa membuktikan keseriusan Papa," gumam Senja seperti sedang berbicara dengan calon anaknya.
Senja pun berniat keluar dari kamar. Dia sampai belum makan malam hanya untuk bisa memandangi wajah Bumi dari kejauhan. Setibanya di meja makan, ada Regi yang juga sedang makan.
"Hai, Kak. Lapar ya?" tanya Regi terkekeh geli.
__ADS_1
Senja meringis dan mengangguk membenarkan. "Kamu lapar juga? Belum makan ya?" kini giliran Senja yang melempar pertanyaan.
"Aku udah makan tadi. Namun, aku lapar lagi. Sini. Nasinya biar aku yang ambilkan. Kakak duduk saja," ucap Regi yang sudah beranjak dari kursinya. Laki-laki remaja itu mempersilahkan Senja untuk duduk di sampingnya.
Senja ingin menolak. Namun, Regi buru-buru mencegah. "Santai aja, Kak. Ini demi keponakanku," ucapnya dan Senja hanya bisa mengulum senyum, merasa salah tingkah.
"Terimakasih, Gi."
Setelah itu, Regi berlalu untuk mengambil nasi di penanak. Senja masih memerhatikan bagaimana Regi dengan cekatan melakukan tugasnya.
Tidak berapa lama, Regi kembali dengan sepiring nasi. "Ini, Kak. Lauknya sudah aku panasi tadi. Masih hangat," ucap Regi sambil menyodorkan sepiring nasi di hadapan Senja.
"Terimakasih, Gi. Kok kamu tahu porsi makanku?" tanya Senja sedikit heran.
"Kan aku mengamati, Kak. Dah, makan dulu. Kasihan keponakanku nanti," pinta Regi dan Senja mengangguk menyetujui. Berulangkali Senja bersyukur dalam hati memiliki saudara seperti Regi dan Reysan.
Keesokan harinya, Senja sudah menunggu kedatangan Bumi di teras depan rumah. Dia memang belum ingin berbicara dengan suaminya. Namun kali ini, dia ingin membiarkan Bumi melihat jika Senja baik-baik saja.
Namun, hingga matahari mulai berarak naik, tak Senja temui mobil Bumi terparkir di depan rumah. Hal itu membuatnya kecewa. "Apa Mas Bumi menyerah?" tanya Senja gelisah.
"Kenapa, Sayang?" tanya suara yang tidak lain adalah milik Bu Resti. Senja tadi beliau memang mengamati.
Bergegas Senja menggelengkan kepala. "Tidak ada, Bu," jawabnya bohong.
__ADS_1
Bu Resti tersenyum lalu mengambil posisi duduk di kursi rotan yang berbatasan dengan Senja. "Nunggu Bumi datang ya?" tebak Bu Resti dan Senja tidak mengangguk maupun menggeleng.
"Bumi tidak datang hari ini. Arta katanya demam," ucap Bu Resti lagi.
Mata Senja membelalak lebar. Rasa khawatir langsung menelusup masuk ke hatinya. "Demam? Sejak kapan, Bu?" tanyanya merasa bersalah.
"Ibu kurang tahu. Bu Sonia yang mengabari ibu tadi pagi. Katanya, Arta demam tinggi," jelas Bu Resti dan Senja seketika termenung.
Apa ini salahnya? Bukankah Senja sudah berjanji untuk menjaga Arta ketika Deandra pergi? Lalu, apa yang dia lakukan sekarang? Haruskah Senja datang ke rumah hanya untuk menemui Arta?
"Datanglah, Nak. Arta butuh kamu," celetuk Bu Resti seakan tahu isi kepala Senja.
"Hah?" Senja jelas terkejut karena ibunya seperti bisa membaca pikiran.
"Temui Arta. Anak itu tidak salah apa-apa. Dia tidak tahu apa-apa juga," pinta Bu Resti lagi dengan penuh kelembutan. Seketika Senja merasa bimbang. Jika dia datang ke rumah, sudah dipastikan akan bertemu dengan Bumi. Namun jika dia tidak datang, bagaimana nasib janjinya dulu pada Deandra?
"Sudahlah. Jangan banyak berpikir. Bu Sonia juga mengatakan jika sejak semalam Arta selalu memanggil nama Bunda. Itu kamu kan?" Mendengar itu, Senja segera bangkit.
"Ibu mau temani aku tidak?" tawar Senja yang segera mendapat anggukan antusias dari Bu Resti.
"Tentu saja. Ibu akan temani kamu. Ayo, segeralah bersiap!"
Senja dan Bu Resti akhirnya pergi ke rumah dimana Arta berada. Ketika mobil berhenti di pinggir jalan perumahan, Senja bisa melihat rumah yang sudah berhari-hari ini tidak dia tempati. Rindu? Tentu saja. Namun, kenangan pahit itu seperti masih menjelma di kepala.
__ADS_1
"Sudah siap?" Bu Resti bertanya sebelum beliau turun mendahului Senja.
"Harus siap, Bu," jawab Senja lalu turun dari mobil untuk menemui Arta, dang Putra.