
"Senja? Aku bisa jelaskan semua," ucap Bumi ketika melihat Senja mulai menata pakaiannya ke koper besar. Senja tetap bergeming dan melakukan pekerjaan tanpa memedulikan ocehan Bumi.
"Senja? Tolong dengarkan aku dulu. Memang, seluruh barang Deandra masih tersimpan rapi. Namun, besok aku akan menyingkirkannya," jelas Bumi berharap Senja mau mendengarkan.
"Kenapa harus besok? Oh. Karena sudah ketahuan ya?" tanya Senja sarkas.
"Bukan. Namun, karena sudah saatnya aku melupakan semua." Bumi berusaha memegang pergelangan tangan Senja yang sayangnya langsung ditepis kencang.
"Sudah saatnya? Selama ini kamu kemana? Hah? Jadi, selama ini sikap yang kamu tunjukkan itu adalah sebuah kepura-puraan?" Pertanyaan Senja itu berhasil membungkam mulut Bumi.
Melihat itu, Senja tersenyum sinis. "Benar kan dugaan ku. Kamu jahat, Mas." Tanpa basa-basi, Senja kembali memasukkan barang-barang ke koper hingga seluruhnya sudah berpindah.
"Aku berniat untuk memulainya hari ini. Aku berniat untuk mencintai kamu sepenuhnya tanpa ada bayang-bayang masa lalu—"
"Dan semua itu sudah terlambat. Aku sudah terlanjur kecewa sama kamu. Pernikahan kita yang hampir enam bulan nyatanya tidak bisa membuatku jadi tempat ternyaman untuk kamu bercerita."
"Lebih baik, kita saling menjauh terlebih dahulu, Mas. Kita butuh waktu saling merenungi apa yang sebenarnya terjadi. Kita butuh jeda," putus Senja menatap manik dalam milik Bumi.
"Aku tidak butuh itu. Semua sudah jelas, Nja. Semua sudah jelas. Tolong jangan pergi," mohon Bumi dengan mata berkaca-kaca. Namun, Senja sudah tidak peduli lagi.
Saat Senja berniat untuk melangkah, Bumi kembali mencegah. "Jangan pergi. Ini sudah malam. Aku bisa antar besok pagi."
"Aku bisa pergi sendiri, Mas. Motorku sudah lama tidak digunakan. Aku rindu motorku," jawab Senja sarat akan kerinduan yang mendalam. Bukan karena rindu pada motornya, melainkan karena rindu pada kenangannya bersama motor kesayangan.
"Ini sudah malam, Nja," cegah Bumi lagi.
__ADS_1
Senja menghela napas kasar. "Coba kamu renungkan lagi apa arti aku di hidupmu, Mas. Kamu selalu mengatakan ingin memulai semuanya denganku. Namun ternyata, sejak dulu kamu tidak pernah memulainya. Padahal, aku sudah sejauh ini mencintai kamu. Aku sudah terlalu dalam jatuh." Senja mendongak untuk menghalau air matanya sudah terbendung di pelupuk mata.
"Kamu mau pergi kemana? Biar aku antar," lirih Bumi yang tenggorokannya seperti tercekat.
"Aku bisa sendiri," jawab Senja segera melangkah dan keluar rumah. Ada raut tak rela yang bisa Senja tangkap dari tatapan Bumi kali ini. Namun, Senja tidak mau tertipu lagi. Jika benar Bumi mencintai dirinya, maka laki-laki itu aku mengusahakan apapun. Kali ini, Senja ingin Bumi berjuang sedikit saja untuknya.
Jika Bumi tetap tidak mau mengusahakan, setidaknya Senja sudah berusaha cukup banyak. Dia tidak akan menyesal di kemudian hari jika seandainya hal paling buruk dalam hubungannya terjadi.
...----------------...
Entah hal apa yang membuat Senja pada akhirnya menghentikan laju motornya di depan rumah milik sang Ibunda. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Senja melirik arloji yang melingkar di pergelangan.
Ketika pandangannya terarah masuk, seluruh lampu dalam rumah masih menyala. Tidak mau membuat kegaduhan, Senja memutuskan untuk menelepon ibunya. Jika tidak diangkat, Senja akan berusaha mencari penginapan terdekat.
Apa ibunya itu belum tidur? Mengapa suaranya masih terdengar bugar? Karena Senja masih terdiam, suara Bu Resti kembali terdengar.
"Senja? Katakan pada Ibu, apa tujuan kamu menelepon tengah malam seperti ini?"
Setelah menghembuskan napas yang menyesakkan, Senja pun berkata. "Bu? Aku boleh nginep di rumah ibu untuk sehari saja?" tanyanya ragu.
Tidak ada jawaban yang membuat Senja pada akhirnya menggigit bibir bagian bawah, merasa gugup. Dibilang dekat dengan sang Ibu, belum terlalu. Oleh karena itu, Senja seperti merasakan ada tembok kecanggungan.
Namun, suara pintu yang dibuka membuat Senja mendongak dan menemukan sang Ibu berjalan tergesa-gesa mendekati gerbang. Senja bisa melihat ibunya melirik motor bagian depan dimana kopernya berada. "Ayo masuk, Sayang," ajak Bu Resti lembut.
"Motornya bawa masuk ke garasi saja, Nja," sambung Bu Resti lagi yang membuat Senja mengerjapkan matanya pelan.
__ADS_1
"Senja?" panggil Bu Resti ketika melihat putrinya hanya diam.
"Eh! Iya, Bu," jawab Senja segera mendorong motor masuk. Sengaja dia tidak menyalakan mesin, takut akan mengganggu tidur penghuni lain.
Setelah motornya berada di garasi, Bu Resti langsung menuntun Senja lalu membawanya ke sebuah kamar. "Kamu tidur di sini ya. Kopernya biar Mbok yang pindahkan besok pagi," ucap Bu Resti seperti sedang berpura-pura tenang.
Senja terdiam menatap sang Ibunda yang kini berdiri dengan jarak satu meter di depannya. "Ibu paham. Yang namanya rumah tangga, tidak mungkin berjalan mulus terus-menerus. Pasti ada tanjakan, turunan, bahkan jalan berlubang dan terjal. Kamu boleh tinggal di sini selama apapun yang kamu mau. Ini rumah kamu juga," jelas Bu Resti panjang lebar.
Tanpa aba-aba, Bu Resti segera membawa Senja dalam pelukan yang membuat Senja tak kuasa menahan buliran bening yang sejak tadi dia tahan agar tidak terjatuh. "Kamu kuat. Kamu hebat. Kamu pasti bisa melewati ini semua. Kalau kamu belum siap untuk cerita, Ibu nggak akan maksa. Tunggu kamu nyaman aja. Ibu akan selalu ada untuk kamu." Sambil menepuk pelan punggung Senja penuh kelembutan.
"Ibu kenapa belum tidur?" tanya Senja setelah perasaannya sedikit lega.
"Nggak tau. Perasaan Ibu sedang tidak enak saja. Ternyata benar, ada sesuatu yang terjadi sama kamu. Sekarang, kamu tidur dulu ya," pintar Bu Resti yang segera mendapat anggukan dari Senja.
Sebenarnya, Senja ingin memberitahukan tentang kehamilannya. Namun, dia belum mencoba periksa ke dokter hingga memutuskan untuk menyembunyikannya terlebih dahulu.
Sepeninggalan Bu Resti, Senja mengelus perutnya yang masih rata. "Maafkan Bunda ya, Sayang. Sementara kita tidak bertemu Papa dulu," gumamnya merasakan hampa.
Padahal, baru beberapa jam yang lalu Senja melihat Bumi. Namun, hatinya sudah rindu seperti telah berpisah berbulan-bulan. Teringat bagaimana senyum Bumi yang menenangkan hatinya, suara Bumi, hingga aroma wangi Bumi yang sudah melekat dalam kepala.
Senja rindu semua itu. Air matanya pun kembali jatuh. "Aku tidak boleh lemah. Jika benar Mas Bumi mencintaiku, dia akan memperjuangkan. Namun jika tidak, apakah aku harus kehilangan?"
"Bagaimana dengan Arta? Semoga dia bisa mengerti," gumamnya panjang lebar. Kepalanya seperti tak henti memikirkan dua laki-laki berarti dalam hidupnya.
"Kenapa aku lemah seperti ini saat berjauhan dengan mereka? Mengapa semangat hidupku seperti menghilang?" Senja menutup wajahnya yang sudah basah karena air mata.
__ADS_1