Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Adaptasi bagi Susi


__ADS_3

"Ternyata sendiri di tempat yang belum kita kenal, sungguh perasaan dilanda sepi", gumam Susi pada dirinya sendiri. Susi berbenah rumah dan dirinya sadar melihat tumpukan baju kotor yang belum dicuci. "Pengen nyuci, tapi fasilitas belum ada. Mungkin bisa kutanya sama Mas Yahya ketika pulang kerja nanti", pikir Susi.

__ADS_1


Tetiba Susi teringat perjalanannya hari ini ditemani Riri keliling rumah kontrakan. Dirinya tidak menyangka, sosok sederhana seperti Mas Yahya punya usaha sampingan kontrakan, walau pun tidak banyak tapi lumayan juga buat menambah penghasilan per bulannya. Sekarang hanya punya 9 kontrakan yang bisa menghasilkan uang karena dirinya dan Yahya menempati salah satunya. "Mungkinkah dirinya bisa tinggal bersama dengan anak tirinya di rumah utama?", pikir Susi. Ia termenung saat dirinya baru datang dengan Mas Yahya setelah pernikahan mereka, pertemuan kedua dengan anaknya Yahya tidak terlalu membekas bagi dirinya, sehingga tidak tahu bagaimana sikap anak-anak Yahya kepada dirinya. Susi takut kedua anaknya Yahya menolak dirinya sebagai istri bapaknya, dan tidak mau mengakui dirinya sebagai ibu baru mereka. Susi menghela nafas. "Aku harus bersabar, sikap mereka juga sama dengan sikap anak-anaknya kepada Yahya, yang juga belum bisa menerima sepenuhnya Yahya", kata Susi didalam hati. Susi terus memikirkan bagaimana sikap seharusnya kalau bertemu dengan Kevin lagi. Apakah harus bersikap sok kenal sok dekat, padahal baru saja kenal tapi tidak dekat. Tidak tahu apakah nantinya Ia bisa dekat dengan anak-anak tirinya itu. "Ah Kevin saja aku bingung bagaimana menghadapinya, bagaimana dengan Adam? Aduuuuh ga bisa memikirkannya", perasaan Susi campur aduk. Ia kembali teringat sewaktu baru datang menunggu di rumah utama malah akhirnya diajak tinggal di kontrakan. "Sebenarnya aku tu sudah mempunya firasat, Kevin ga suka sama aku. Mendekati anak yang sudah dewasa ga bisa disogok-sogok dikasih permen saja sudah senang seperti anak kecil", pikir Susi. "Apa perlu aku tanyakan sama Mas Yahya, tapi takutnya malah membebani pikiran mas Yahya. Mungkin bersabar saja dulu di kontrakan kecil ini, sambil menunggu apakah ada perubahan sikap dari Kevin", tambahnya lagi. "Tapi, kalau Kevin tetap saja menolak diriku dan akhirnya tetap tinggal di kontrakan ini seterusnya aku harus bagaimana. Aku menikah karena ingin memperbaiki kehidupanku sebelumnya. Nanti saja lah dipikirkan lagi langkah selanjutnya", kata Susi lagi dengan dirinya.

__ADS_1


Tok tok tok. "Assalamualaikum", suara Yahya menyadarkan Susi kalau suaminya sudah pulang kerja. Susi langsung membukakan pintu untuk suaminya. "Waalaikumsalam, sudah pulang Mas", jawab Susi. " Nanti balik lagi, ini jam istirahat, aku mau makan siang sama kamu. Kalau dulu belum ada kamu, langsung makan di rumah makan dekat kantor. Sekarang sudah ada istri ya otomatis makan bersama istri di rumah", jawab Yahya. "Tapi aku ga masak mas", kata Susi. "Kita makan diluar sekalian beli perabot, kita Khan belum punya peralatan masak", jelas Yahya. "Susi siap-siap dulu ya mas", kata Susi. Sambil menunggu istrinya bersiap-siap, Yahya memandang kontrakan, dan berkata kepada dirinya mungkin dirinya harus membiasakan diri tinggal di kontrakan ini karena tidak mudah merubah pikiran Kevin. Apalagi Kevin memang dari awal tidak setuju dengan pernikahan ini. Dan untuk sementara ini sebaiknya ia tidak membicarakan penolakan Kevin terhadap Susi. Yahya takut nanti penilaian Susi buruk terhadap Kevin. Yahya yakin kalau tuduhan Kevin terhadap Susi yang mau menikah dengan dirinya hanya karena uang itu tidak benar. Lambat Laun nanti Kevin bisa melihat ketulusan Susi, sosok wanita yang dianggapnya tidak jauh berbeda dengan Fatma, ibunya Kevin dan Adam.

__ADS_1


"Permisi, sore Bu. Apa ada orang di dalam", kata seorang pria yang mengetuk pintu rumah Susi. Susi yang terlelap tidur tidak merespon, karena dirinya sama sekali sudah terhanyut dalam buaian mimpi indah tidur siang. "Ibu, permisi...", pria itu berkata lagi. Akhirnya Riri, tetangga di sebelah keluar dari rumahnya. "Ada apa Pak? Mencari siapa ya? Kok banyak sekali barang-barangnya yang dibawa?", tanya Riri lagi. "Begini Bu, kami mau mengantar belanjaan Ibu Susi dan Pak Yahya. Kami sudah janji akan mengantar sore ini. Tapi saya ketok-ketok berkali kali tidak ada sahutan juga, apa kami salah alamat ya?", tanyanya lagi. "Sini saya lihat Pak, ini benar nama orang yang tinggal disini. Mungkin tertidur di dalam orangnya", kata Riri. "Sus, Susi, Bangun... Susi bangun...", suara Riri seperti lonceng yang langsung mengagetkan saraf kesadaran Susi. Susi langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung membukakan pintu. "Ada apa Ri", tanya Susi dengan muka yang masih semrawut. "Apa kubilang Pak, orangnya tidur", kata Riri. "Maaf membangunkan kamu, tuh ada bapak-bapak yang mau mengantar barang belanjaan kamu", tambahnya. "Iya, benar. Makasih sudah membangunkan aku. Mari Pak barangnya tolong diangkat masukkan ke dalam rumah", ajak Susi. Riri pun juga masuk ke rumah Susi. "Pantas saja beli banyak barang, ternyata masih kosong di rumah", kata Riri. "Iya Ri, namanya juga baru pindah kesini", kata Susi. "Mengapa tinggal di kontrakan kalau punya rumah utama yang besar itu, kamarnya juga banyak?", tanya Riri. Susi hanya bisa menggelengkan kepala. "Terserah Mas Yahya, aku juga ga bisa maksa untuk bisa tinggal disitu", jawab Susi. "Kalau melihat dari barang-barang keperluan rumah sebanyak ini, sepertinya kamu akan terus-terusan tinggal di kontrakan", kata Riri. "Bisa jadi, karena Mas Yahya sendiri tidak memberikan batas waktunya", jawab Susi lagi. "Ga usah dipikirkan, yang penting ada rumah yang bisa ditinggali kalian berdua, namanya pengantin baru", kata Riri menghibur. Susi tersenyum karena ada yang mengerti akan keadaannya saat ini. "Pantas beli banyak barang, baru menikah ya Bu, selamat ya", kata Bapak-bapak yang mengantarkan barang. Susi menjawab singkat, "Iya Pak, makasih". "Ini semua barang-barang sudah saya antar, silahkan ibu tanda tangan disini", kata Bapak itu sambil menyodorkan selembar kertas untuk Susi tanda tangani. "Dimana Pak tanda tangannya", tanya Susi. "Disini", kata Bapak itu sambil menunjuk lokasi dimana Susu harus tanda tangan. "Kalau begitu, tugas saya selesai. Saya pergi dulu Bu", katanya lagi. "Makasih Pak", jawab Susi. "Aku juga mau pulang Sus, sepertinya kamu sibuk akan menata barang-barang kamu. Aku ga mau mengganggu kamu", kata Riri. "Makasih Ri", jawab Susi. "Sama-sama", jawab Riri. Sepeninggal Riri, Susi pun mulai menata barang-barang yang sudah dibelinya bersama mas Yahya.

__ADS_1


__ADS_2