Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 39. Diculik


__ADS_3

Wanita tidak pernah menyukai 'setengah-setengah' dalam suatu hubungan. Baginya, engkau akan menjadi salah satu di antara dua: 'segala-galanya' atau 'bukan siapa-siapa'.


Melihat Bumi yang hanya diam, Senja tersenyum mengejek. "Kamu tidak bisa membuktikannya bukan?"


Seketika Bumi ikut tersenyum. "Ini, bukti cintaku padamu," tunjuknya pada perut Senja dimana anaknya kini sedang bertumbuh.


Senja seketika tertawa. Suaminya itu sangat lucu. "Apakah seorang anak bisa dikategorikan sebagai bukti cinta? Sedangkan di luar sana banyak anak-anak terlantar yang lahir dari pasangan yang belum menikah. Mereka berkata jika apa yang mereka lakukan adalah atas nama cinta. Harusnya, mereka tidak membuang cinta itu sendiri kan?"


Bumi kembali menutup mulutnya. Pandangannya menatap manik dalam milik Senja. "Cinta dan nafsu itu beda tipis, Mas," lirih Senja tersenyum jumawa.


Tidak ingin berlama-lama dalam situasi tersebut, Senja bangkit dan berniat untuk pulang. "Aku pergi dulu. Coba kamu pikirkan lagi arti aku di hidup kamu. Kalau kamu sudah menemukannya, temui aku." Dengan tenangnya Senja berucap sambil menepuk pelan bahu Bumi yang masih dalam posisi menekuk lutut.


Sepeninggalan Senja, Bumi pun bangkit dan terpaku di tempat. Alasan yang Senja berikan sangatlah masuk akal. Tiba-tiba, kepalanya coba mencari arti Senja dalam hidupnya. Bukan sekedar ibu pengganti untuk Arta, atau jodoh yang dipilihkan mantan istrinya. Senja lebih dari segala-galanya.


Hari berlalu. Semua berjalan sebagaimana mestinya yang telah Tuhan skenario. Sudah terhitung tiga hari ini Bumi tak menampakkan barang hidungnya. Arta juga sudah sembuh dan kembali beraktifitas seperti semula.


Entah mengapa, Senja belum berniat untuk pulang. Rasanya, seperti ada masalah yang belum terselesaikan tentang hubungannya dengan Bumi. Namun, Senja tidak tahu apa itu.


"Senja? Ibu mau ke jalan Sukajati. Kamu mau titip sesuatu tidak? Martabak? Roti bakar?" tawar Bu Resti dengan penampilan yang sudah rapi.


Senja menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak, Bu. Aku justru lagi ingin jalan di kompleks depan," jawab Senja sambil mengelus perutnya lembut.


"Yah. Sayangnya, Ibu nggak bisa temani. Ibu sedang buru-buru karena ada investor yang mau ajak kerjasama. Ditunda sampai besok lagi masih sanggup tidak?" Tampak sekali Bu Resti merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bu. Nanti aku sendiri juga berani. Sudah. Ibu tenang saja. Lain kali kita bisa jalan bersama," jawab Senja sambil mengibaskan tangan, merasa tidak masalah.


"Ya sudah. Ibu tinggal dulu ya. Jaga diri baik-baik." Bu Resti berucap sambil memainkan ponselnya. Yang membuat Senja heran, ibunya itu masih belum beranjak dari tempatnya berdiri sekarang.


"Uang jajannya sudah Ibu kirim ke nomor rekening kamu ya. Jajanlah sesuka kamu. Kamu itu wajib bahagia agar cucu ibu nanti bisa sehat." Bu Resti kembali berucap yang membuat Senja mengerjapkan mata beberapa kali.

__ADS_1


"Aku masih punya uang loh, Bu."


Decakan kesal pun terdengar. "Sudah. Terima saja. Ini, kalau kamu mau pakai yang cash," ucap Bu Resti sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.


Mulut Senja sampai menganga lebar. "Aku susah dewasa loh, Bu. Masa masih di kasih uang jajan?"


"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Anggap saja untuk cucu Ibu yang belum lahir." Karena Senja enggan menerima uang pemberiannya, Bu Resti meletakkan beberapa lembar uang itu di atas meja.


"Ibu pergi dulu. Kalau mau jajan, pastikan jajanan yang sehat." Senja memandangi punggung ibunya yang berjalan menjauh. Setelah tak terlihat lagi, Senja menatap uang di atas meja.


"Uang sebanyak ini bisa dipakai untuk beli cilok se gerobaknya," gumam Senja tidak habis pikir.


Tepat pukul lima sore, Senja keluar dari rumah dengan berjalan kaki. Dia hanya sendiri karena Regi mengatakan tidak bisa ikut akibat pekerjaan sekolah yang menumpuk. Sedangkan Reysan, dia sedang melakukan belajar bersama teman-temannya.


Ketika telah keluar dari komplek perumahan, Senja kembali berjalan untuk menuju sebuah taman rekreasi terdekat. Di sana, biasanya banyak penjual gerobak dengan berbagai jajanan dan menu makan pinggir jalan.


Senyum Senja terukir lebar saat taman itu mulai terlihat dari kejauhan. Senja melihat kiri dan kanan lebih dulu sebelum menyeberang. Namun, sebelum niatnya tersampaikan, semua mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di samping Senja.


Namun, tanpa sempat Senja menyadari, karena kejadian itu terlalu tiba-tiba, lengannya ditarik oleh seseorang yang duduk di kursi belakang. Senja belum sempat melawan atau memberontak saat sebuah kain ditempel ke hidungnya, membuat kepalanya terasa pening dan berputar. Perlahan-lahan, pandangan Senja menggelap dan tak sadarkan diri.


Entah sudah berapa lama Senja tak sadarkan diri. Namun, dia tersadar saat mencium aroma yang tidak sedap. Ketika membuka mata, pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah sebuah kaos kaki yang posisinya sangat dekat dengan lubang hidungnya.


Refleks, Senja menendang pelaku hingga sosok pria di hadapannya terjungkal dan mengaduh kesakitan. "Gila! Ras terkuat di bumi kalau sudah beraksi mengalahkan keganasan Thanos," gerutunya yang membuat Senja melotot tajam.


Pandangan Senja mengedar. Dia mendapati dirinya berada di ruang gelap dan kedap udara. Tentu saja hal itu terlihat begitu menyeramkan. Apalagi ketika melihat ada tiga laki-laki yang hadir di ruangan tersebut.


Saat Senja berniat untuk berdiri, ternyata tubuhnya terikat di sebuah kursi dengan mulut yang disumpal kain. 'Apa aku sedang diculik?' batin Senja mulai panik.


"Mmmmmmp!" pekik Senja meminta dilepaskan.

__ADS_1


"Ck! Sabar!" kesal seorang pria yang mengenakan penutup wajah berwarna hitam. Sehingga, yang terlihat hanyalah mata dan bibir.


Senja bisa bernapas lega saat kain yang mengikat bibirnya dilepas. "Siapa kamu!" teriak Senja dengan suara meninggi.


Pria tadi mengusap kedua telinga akibat suara Senja yang kencang, membuat telinganya berdengung. "Kamu diculik! Hahaha." Pria itu menjawab dan tertawa tanpa dosa.


Mendengar itu, Senja seketika bergidik ngeri. "Kenapa menculik ku? Memang, aku salah apa?" tanya Senja tidak habis pikir. Seingatnya, dia tidak memiliki musuh.


Pria itu kembali berdecak. "Untung cantik. Kalau tidak, sudah aku tendang sejak tadi."


Pria tadi meminta anak buahnya untuk mendekat. "Telepon suaminya yang sok jadi pahlawan itu!" titah pria tadi yang mungkin adalah bos dari dua laki-laki yang berdiri di depan pintu.


"Sudah terhubung, Bos," ucap sang Anak Buah lalu menyerahkan ponsel pada bosnya.


"Halo? Siapa ini?" sapa suara di seberang sana yang sangat Senja kenali karena sambungan telepon itu di loudspeaker.


"Mas Bumi! Tolong aku!" teriak Senja spontan berteriak meminta bantuan. Dia sudah ketakutan jika saja hal buruk terjadi padanya di sini.


"Senja! Apa yang terjadi!" pekik Bumi di seberang sana begitu khawatir.


"Ckckck. Suami istri yang dramatis?" ucap pria di depannya tanpa perasaan.


"Lepaskan aku! Lepas!" berontak Senja meledakkan amarah. Ketiga pria di ruangan itu justru tertawa lebar.


"Kamu ingat kan dengan perempuan bernama Naura? Kamu sudah menyelamatkannya dan bertindak seolah-olah seperti pahlawan," ucap sang Bos tadi kepada Bumi yang masih terhubung dan Senja seketika membeku di tempat.


"Datanglah ke alamat yang aku sebutkan dengan menyerahkan Naura padaku. Naura aku dapat, maka istrimu akan aku kembalikan," ancam pria itu yang semakin membuat Senja bertanya-tanya.


Panggilan telepon terputus. Pria itu membuka penutup wajah dan berkata. "Aku Jovan. Bos dari segala Bos." Mendengar itu, Senja mengerjapkan matanya pelan.

__ADS_1


"Lepaskan dia. Kita akan pindahkan dia ke tempat yang lebih buruk lagi!" titah pria bernama Jovan yang membuat mata Senja membelalak lebar.


Ingin berteriak pun rasanya sudah tak memiliki tenaga lagi. Senja hanya pasrah pada jalan hidup yang sudah Tuhan tentukan.


__ADS_2