Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 45. Arta!


__ADS_3

Hari berlalu sangat cepat ketika kita menjalaninya dengan perasaan bahagia. Apalagi, ada seseorang yang begitu berarti, ikut menemani. Tidak terasa, kehamilan Senja sudah berjalan hampir tujuh bulan. Dari dua pihak keluarga selalu mengadakan doa bersama dan santunan pada anak yatim setiap bulannya.


Seperti saat ini. Acara doa bersama diadakan di rumah Senja. Suasana rumah berlantai dua itu tampak ramai dari biasanya. Sudah ada beberapa tetangga dan kerabat yang hadir juga anak-anak yatim.


"Mas?" panggil Senja lirih. Saat ini, dia sedang duduk bersila, bergabung bersama tamu yang akan melakukan doa bersama.


"Kenapa, Sayang?" jawab Bumi lembut. Setelah apa yang dia lewati bersama Senja beberapa bulan yang lalu, dia benar-benar berubah dan fokus pada Senja juga Arta. Masa lalu akan tetap berada di belakang, sedangkan Senja dan Arta sudah pasti ada di dunianya yang sekarang dan hingga masa depan.


"Aku capek duduk di sini, Mas? Nggak kuat," keluh Senja memang sudah kesulitan untuk duduk lesehan. Perutnya juga sudah membesar karena perkiraan dari USG, bayinya sudah memiliki berat dua koma lima kilo di usia kandungan tujuh bulan.


"Ya sudah. Mau duduk di sofa ruang tengah nggak?" tawar Bumi dengan sigap memegang lengan Senja yang berusaha untuk bangkit.


"Aku bisa sendiri, Mas. Aku hanya sedang hamil, bukan sakit," tolak Senja sambil tergelak.


"Tidak apa-apa, Mbak Senja. Kelihatan sekali Mas Bumi tuh cintanya sangat besar. Perhatian gitu sama istrinya," celetuk salah satu tetangga satu kompleks.


"Iya bener, Mbak. Takut terjadi apa-apa kan. Bagus. Itu namanya suami siaga," sahut ibu yang lainnya.


Senja terkekeh menanggapi. "Maaf ya, Bu. Saya nggak kuat duduk lesehan terlalu lama," pamit Senja sopan.


Ibu-ibu itupun mengangguk tak masalah. Mereka sudah pernah mengalami kehamilan dan memang, itu sangat melelahkan bila harus duduk bersila terlalu lama. "Santai, Mbak. Kami para kaum emak-emak sudah khatam. Pergilah, Mbak. Kasihan kalau terlalu lama."


Pada akhirnya, Senja benar-benar berlalu dengan Bumi yang selalu melingkarkan lengan pada pinggang Senja. Setelah sang Istri duduk dengan baik, Bumi duduk bersimpuh di hadapannya.


Senyum tipisnya menunjukkan kekhawatiran melihat bagaimana wajah Senja meringis. "Apa sangat melelahkan?" tanyanya yang segera mendapat anggukan dari Senja.


"Maaf ya. Ini semua gara-gara aku. Kalau bisa, aku ingin menggantikan rasa sakit dan susahnya kamu mengandung. Namun, itu semua tidak mungkin. Makanya, katakan apapun yang kamu inginkan. Pasti akan aku turuti yang terpenting kamu nyaman." Tampak sekali Bumi merasa bersalah.

__ADS_1


Kepala Senja menggeleng cepat. "Ini bukan salah kamu, Mas. Hadirnya anak kita adalah suatu anugerah terindah yang pernah ada. Aku bahagia bisa merasakan hari-hari dimana aku harus berjuang bertahan demi anak kita." Tangan Senja bergerak mengacak rambut Bumi.


Suaminya itu justru memejamkan mata dengan bibir yang menyunggingkan senyum. Terlihat begitu menikmati sentuhan yang Senja berikan. "Ke kamar yuk!" ajak Bumi ketika matanya sudah terbuka.


Tatapan Senja memicing dan penuh selidik. "Mau ngapain?" tanya Senja curiga.


Tawa renyah Bumi pun terdengar. "Nggak mau ya?" Bumi justru langsung menarik kesimpulan.


"Ya nggak mau lah. Ini kan masih acara doa untuk mendoakan cucu Mama. Masa, kamu sebagai Papanya malah mau ke kamar. Yang benar saja." Ucapan itu membuat Bumi menoleh dan mendapati sang Mama tengah berdiri sambil berkacak pinggang.


"Iya. Apa yang dikatakan Sonia itu benar. Ibu-ibu kompleks sudah menyempatkan waktu untuk calon anak kalian. Masa, malah mau ditinggal ke kamar sih? Ya nggak etis dong," sahut Bu Resti ikut mendekat. Namun, ucapan beliau lebih lembut daripada Bu Sonia. Itu sudah biasa. Bu Sonia selalu mengomel bila berhubungan dengan Bumi. Di luar itu, Bu Sonia justru sangat lembut.


Arta yang kini berada di gendongan Bu Resti, diturunkan dan langsung berlari kecil mendekati bundanya. "Bunda? Mau ketemu adik lagi," ucapnya sambil menatap perut buncit ibunya.


Senja terkekeh lalu mengacak rambut Arta gemas. "Coba elus, Sayang," pintanya. Arta menurut. Tangannya bergerak lembut di atas perut Senja. Respon yang diberikan bayi dalam kandungan pun selalu tak terduga. Calon anak Senja memberikan tendangan, membuat Arta memekik tertahan.


"Ya sudah. Kita harus ke depan dulu. Doanya akan segera dimulai, Nia," ucap Bu Resti dan Bu Sonia menyetujui.


"Mama dan Ibu ke depan dulu ya."


Ketiganya mengangguk. Bumi kini beralih pada putranya. "Arta sebentar lagi mau sekolah loh," ucap Bumi membuka pembicaraan dengan Arta.


"Iya. Arta tahu. Kan, Arta udah gede," jawab bocah itu yang membuat Senja terkekeh, merasa lucu dengan tingkah anaknya. Bicaranya Arta juga sudah tak cadel lagi. Anak laki-laki itu tumbuh dengan baik sebagaimana mestinya.


"Arta!" panggil suara yang membuat ketiganya menoleh dan mendapati Pak Adhi baru saja tiba. Beliau berjalan mendekati ketiganya dengan kondisi kemeja yang sudah tergulung hingga siku.


"Hai, Opa," jawab Arta sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


"Papa? Sudah pulang, Pa?" tanya Senja sambil menyalami punggung tangan ayah mertua.


"Sudah. Kebetulan pekerjaan juga sedang tidak banyak," jawab Pak Adhi lembut.


"Berarti, besok aku bisa cuti lagi, Pa?" tanya Bumi yang segera mendapat pukulan di bahunya.


"Cuti terus yang ada dalam pikiran kamu. Sudah berapa kali kamu cuti di tahun ini? Banyak. Sampai tak terhitung," kesal Pak Adhi yang kini telah membawa Arta untuk duduk di pangkuan.


"Papa memang gitu, Opa. Di rumah setiap detiknya mengikuti Bunda. Nempel terus," sahut Arta membenarkan ucapan Opanya.


Pak Adhi berdecak. "Gini nih, kalau pacaran setelah nikah. Enak kan?" goda Pak Adhi tersenyum lebar.


"Kenapa sejak tadi, nggak Mama nggak Papa selalu memarahiku sih?" kesal Bumi tak habis pikir. Yang asli anak kandung dari Pak Adhi dan Bu Sonia adalah dirinya. Namun, yang paling di sayang justru Senja dan Arta. Bumi sampai merasa dianaktirikan oleh kedua orang tuanya.


Kendati demikian, Bumi justru merasa senang. Papa dan Mamanya begitu menyayangi Senja layaknya anak sendiri. Semakin menit berlalu, tamu-tamu mulai ramai berdatangan. Termasuk Regi dan Reysan yang turut hadir dalam acara doa.


"Mas?" panggil Reysan ketika seluruh tamu sudah pulang. Kini, tinggal meraka berdua yang duduk di teras, menyaksikan matahari akan tenggelam.


"Kenapa?" tanya Bumi heran.


"Minta uang jajan dong. Mama pelit kasih duitnya," keluh Reysan membuat tawa Bumi meledak. Dia memang akrab dengan Regi maupun Reysan. Saking akrabnya, Reysan tidak pernah segan padanya.


Hal itu membuat Bumi lebih bahagia. Berarti, kedua adik Senja sudah menganggapnya seperti kakak sendiri. "Berapa?" tanya Bumi tidak merasa keberatan.


"Ooh, jadi selama ini yang kasih uang tambahan ke Reysan itu kamu, Mas?" tanya Senja yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.


"Aku harus lapor Ibu."

__ADS_1


__ADS_2