Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Pernikahan Kevin


__ADS_3

Susi hampir saja lupa kalau anak sulung mas Yahya akan segera menikah. Tidak selang beberapa lama setelah Yahya menikah, Kevin sudah mulai mempersiapkan rencana pernikahannya. Saat mulai mempersiapkan rencana resepsi pernikahan dua kali. Setelah akad nikah, Kevin akan melakukan resepsi di Barabai, kediaman Sinta. Dan dilanjutkan resepsi di Tanjung.


Yahya sebelumnya membicarakan rencana ini dengan Susi. Nanti mas mau ke tempat Kevin, apa saja persiapan dia menjelang pernikahan. "Mas, biaya resepsi pernikahan di Tanjung bagaimana?", tanya Susi. "Nanti dibicarakan, tenang saja ada dana simpanan untuk itu", jawab Yahya. "Menurut Susi, ga perlu resepsi di sini mas, soalnya di tempat istrinya sudah diselenggarakan juga", kata Susi. "Ga papa, sudah tradisinya begitu", jawab Yahya.


Yahya pun menemui Kevin di rumah utama. "Vin, apa yang perlu dipersiapkan?", tanya Yahya. "Semua sudah diatur EO nya, jadi kita beres", jawab Kevin. "Dananya gimana?", jawab Yahya. "Separo Kevin dan separonya Abah lah yang nombokin, gimana?", tanya Kevin. "Hahaha memangnya Abah ada dananya?", jawab Yahya. "Kevin tahu Abah pegang uang warisan mama yang jumlahnya sangat banyak, masa tidak bisa mengeluarkan sedikit saja untuk resepsi anak pertamamu ini. Lagipula ini juga langkah awal Abah menunjukkan sudah menikahkan anak pertama dengan sukses", jelas Kevin. "oke sepakat, kamu atur saja, nanti uangnya Abah yang selesaikan, terus ga usah separo gitu. Semuanya full Abah yang cover", jawab Yahya. "Nah gitu dong Bah, jangan cuma uang almarhum mama dihabiskan ke istri baru", jawab Kevin lagi. "Resepsi pernikahan Kevin di Tanjung setelah resepsi di tempat Sinta", kata Kevin. "Terserah kamu saja", jawab Yahya. Pernikahan Kevin memang menghabiskan biaya yang tidak sedikit, tapi bagi Kevin ini adalah momen penting bagi dirinya dan Sinta untuk melangkah ke jenjang yang lebih baik. Apalagi pernikahan ini juga memang sudah direncanakan dengan matang.

__ADS_1


Sesampai di rumah, "Bagaimana mas?", tanya Susi. "Alhamdulillah persiapan lancar, semua sudah diatur EO", jawab Yahya. "Menggunakan jasa EO kan mahal, biayanya gimana mas?", tanya Susi lagi. "Ya dari mas lah, terus mau dana siapa? Masih kewajiban mas untuk mengurus itu. Dan Kevin untung saja bisa mengurus semuanya sendiri. Awalnya biaya separo dari Kevin, separo nya dari mas. Tapi mas sendiri yang bilang, biaya ditanggung mas semua. Biar uang simpanan Kevin buat dia rencananya setelah menikah dengan Sinta bagaimana selanjutnya", jawab Yahya. "Kalau itu sudah keputusannya, memang itu yang harus dijalankan", jawab Susi. "Terima kasih atas pengertianmu Sus", jawab Yahya senang. Sebenarnya di dalam hati, Susi juga tidak ingin Yahya menghambur-hamburkan uang hanya untuk sebuah resepsi. Tapi itu demi anaknya sendiri Kevin, Susi pun mengurungkan niatnya untuk memberikan alasan apa tidak sebaiknya acara itu dilaksanakan secara sederhana saja. Susi tidak mau ada pandangan kalau dirinya pelit, tidak mau mengurusi masalah pernikahan Kevin nanti.


Beberapa hari lagi acara pernikahan Kevin akan dilaksanakan. Sanak keluarga dekat sudah mulai berdatangan. Rumah utama jadi rame dengan banyaknya keluarga yang berkumpul. Tante Suci sudah lebih dulu tiba, dan paman Dion rencananya sore baru datang. Kevin masih terlihat tenang, namun Adam menyadari kalau kakaknya sedang gugup. "Ka, santai dan jangan lupa latihan ijab Qabulnya biar lancar", kata Adam. "Iya iya, justru kamu bicara begitu, membuat gugupnya nambah", jawab Kevin. Adam tertawa saja.


Dion yang melihat Suci langsung menghampiri. "Bagaimana persiapannya?", tanya Dion. "Sejauh ini beres semua, tinggal menunggu rombongan siap atau tidak menuju acara akad nikahnya", jawab Suci. "Apa kamu kecewa ga bisa menikah dengan Yahya?", tanya Dion. Suci menggelengkan kepala. "Aku berharap Ka Yahya bahagia, kamu juga Dion harus memikirkan dirimu sendiri", jawab Suci. Dion hanya bisa tersenyum. "Kita bicarakan yang bahagia-bahagia saja. Ini kan hari pernikahan Kevin, nikmati saja kebahagiaan ini", kata Dion. Suci mengangguk setuju. Mereka pun segera bergegas untuk mengumpulkan seluruh rombongan untuk berangkat ke lokasi akad nikah di Barabai, tempat kediaman Sinta.

__ADS_1


Setelah semua persiapan siap, rombongan pernikahan Kevin segera bergegas menuju kota Barabai, tempat dimana akad nikah dilaksanakan, tepatnya di rumah Sinta.


Sementara di kediaman Sinta saat ini sedang ramai dan masih menunggu kedatangan rombongan Kevin dari Tanjung. Iring-iringan musik panting menghiasi prosesi pernikahan yang belum dilaksanakan, karena masih menunggu rombongan mempelai pria nya datang. Para tamu dan undangan sudah banyak yang berhadir, mereka mulai bertanya-tanya kapan acara akad nikah dilaksanakan melihat sudah banyak orang berdatangan. Pihak mempelai perempuan juga masih menunggu kedatangan rombongan mempelai pria. Dari jadwal yang direncanakan, seharusnya rombongan Kevin sudah tiba, namun meleset dari jadwal semula. Para tamu yang ingin melihat prosesi akad nikah sudah mulai gerah, bahkan mulai ada yang bergosip kalau pernikahan batal karena pihak prianya tidak datang.


Keluarga Sinta masih deg-degan karena rombongan Kevin belum juga tiba. Akhirnya ibu Sinta pun mulai gerah melihat para tamu sudah mulai tidak sabar lagi menunggu. "Coba kamu hubungi mereka dulu, sampai dimana mereka", kata Ibu Sinta meminta kepada Abah Sinta menghubungi rombongan Kevin. Abah Sinta hanya meminta agar ibu Sinta sabar, karena rombongan masih dalam perjalanan. "Kalau belum tiba, ya kita harus menunggu", jawab Abah Sinta dengan santainya. Namanya juga ibu-ibu, sesekali ia melihat wajah si suaminya alias Abah Sinta, namun Abah Sinta masih saja santai dan tidak ikutan gelisah dengan keterlambatan rombongan Kevin. "Mereka pasti datang, namanya juga mau nikahan. Supirnya pasti juga ga mau ngebut", kata Abah Sinta berusaha menenangkan istrinya itu. Ibu Sinta masih tidak bisa menutupi kegelisahannya, terlihat dari keringat yang mulai bercucuran. Dan sudah berapa gelas air mineral yang sudah diminumnya. Abah Sinta tetap saja santai dengan keadaan istrinya itu. "Yang nikah anakmu, kok kamu yang gugup", goda Abah Sinta kepada istrinya. "Ini bukan waktunya bercanda", jawab Ibu Sinta sambil mata melotot. "Nah itu bagus, ada semangatnya", kata Abah Sinta. Ibu Sinta diam dan tidak menanggapi suaminya itu. Tidak berselang berapa lama, akhirnya rombongan Kevin telah tiba. Ibu Sinta bisa bernafas lega, bayang-bayang pernikahan yang batal langsung menghilang. "Apa kubilang, sabar saja to, datang juga kan?", kata Abah Sinta. Ibu Sinta diam malu mendengar perkataan Abah Sinta. Sholawat terus berkumandang menyambut kedatangan rombongan Kevin. Pembawa acara pun akhirnya memulai acara pernikahan. Semua tamu pun mulai memperhatikan rombongan pernikahan yang sudah datang.

__ADS_1


__ADS_2