
Tidak terasa sudah memasuki bulan ketiga pernikahan Yahya dan Susi. Pernikahan yang cukup membahagiakan, walaupun ada banyak pro kontra di banyak sisi.
Saat di kantor, Yahya yang satu ruangan dengan Andi sahabatnya, tiba-tiba Andi mengajak ngobrol. "Hei, setelah punya istri selalu pulang buat makan siang dirumah. Cie Cie...", sapa Andi. "Diam Ndi, nanti kedengaran orang", kata Yahya. "Walaupun pernikahanmu siri, orang-orang di kantor jua pasti sudah tahu kok informasi itu, ga perlu kamu sembunyikan. Cuma ya kenapa masih kamu rahasiakan, toh di keluargamu juga sudah tahu kamu sudah menikah lagi", kata Andi. "Masih siri Ndi, nanti kalau sudah di resmikan di KUA. Baru deh diumumkan", kata Yahya lagi. "Kapan?", tanya Andi lagi. "Tergantung Susi, aku menuruti kemauan dia saja", jawab Yahya. "Terserah kamu saja lah, kalau pernikahan siri sih menurutku sangat rapuh, mudah sekali goyah. Tapi kembali ke kamunya, asal kamunya bahagia ya ga masalah, mau status pernikahanmu siri atau tidak", kata Andi. "Cuma ya jarang ada perempuan mau siri, mereka rata-rata ingin jadi istri sah", tambah Andi. Yahya hanya menggelengkan kepalanya saja. "Kapan-kapan kenalin istrimu tuh, jangan disimpan sendiri saja", celetuk Andi. "Ga disimpan kok, sudah diajak ekspos kok. Kamu saja ga pernah ketemu kita berdua pas jalan", jawab Yahya. Andi tersenyum. "Sana, cepat pulang makan siang bareng istri tercinta. Nanti ada yang marah kalau dirimu telat", kata Andi. Yahya tertawa mendengar candaan Andi.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Yahya juga berpikir kapan ya seharusnya ia mulai memikirkan agar status pernikahannya dengan Susi bisa diakui secara hukum. Mungkin harus menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya berdua dengan Susi.
Saat bertemu Susi, Susi menyambutnya dengan senyuman. "Ada apa?", kata Yahya. "Ga kok", jawab Susi. Sambil makan siang bersama, Yahya bertanya, "Sudah ke rumah utama?". "Iya", jawab Susi. Yahya pun tidak bertanya lagi. Susi pun menjelaskan kalau rumah begitu besar tidak dibersihkan ya akan kelihatan seperti rumah tidak berpenghuni, mungkin Yahya perlu mempekerjakan asisten bertugas untuk membersihkannya. Dan lagi, menurut Susi dengan adanya asisten, maka kondisi rumah utama di dalam dan diluar tetap terawat karena sudah ada yang pegang tanggung jawab itu. Yahya berkata, "Dulu semua Fatma yang melakukannya, kita tidak pernah mempekerjakan asisten".
__ADS_1
Susi terdiam sejenak. Ia ragu untuk melanjutkan pemikirannya kalau-kalau suaminya berpikir dirinya tidak mau membantu membersihkan sama halnya seperti yang dilakukan almarhumah istrinya dulu. "Mas ga bisa berharap Kevin yang akan membersihkan rumah itu kan mas? Anak laki-laki Lo ga bisa diharap punya tanggung jawab untuk bersih-bersih", jelas Susi. Ia saja merasa sudah kelelahan dengan melakukan aktivitas di rumah kontrakan, apalagi ditambah dengan mengurus rumah utama. "Mas tidak memaksamu, nanti saja kita bicarakan ini. Kalau kamu tidak bersedia ikut membantu Kevin mengelola rumah utama terutama masalah kebersihannya. Aku cuma berharap kamu bisa memperlakukan anak-anakku seperti anakmu sendiri", jawab Yahya.
Susi pun langsung mengecek Handphone nya, siapakah yang akan Ia hubungi agar tahu kondisi anak-anaknya. Pertama saat melihat kontak Reza, Susi ragu untuk menghubungi mantan suaminya itu, walaupun hanya sekedar mengetahui keadaan Reva di Banjarmasin. Namun karena rasa kangen, semua perasaan ragu tidak dipedulikannya. Ia langsung menghubungi Reza. "Assalamualaikum Sus", kata Reza menyapa. "Wa'alaikum Salam Za", jawab Susi. Susi tidak ingin berbasa-basi lagi. Ia langsung menanyakan kabar Reva. Reza langsung meminta Susi untuk menunggu sebentar sambil Reza ke kamar Reva agar Susi bisa langsung berbicara dengan anaknya. "Va, ini mama", kata Reza sambil menyodorkan handphonenya kepada Reva. "Mama", kata Reva. Susi senang bisa mendengar suara anak perempuannya itu. "Mama kapan kesini?, Reva kangen", kata Reva lagi. "Iya, mama juga kangen. Apa disana baik-baik saja?", tanya Susi. "Disini baik-baik saja ma, Reva kalau dirumah ada nenek yang menemani, jadi Reva ga merasa sendiri", kata Reva. "Mama senang mendengarnya kalau Reva merasa begitu, nanti kalau ada waktu luang mama akan jenguk Reva ya", kata Susi. "Janji ya ma?", kata Reva. "Iya, tapi Reva juga janji jadi anak yang baik disana", kata Susi. "Iya ma", jawab Reva. "Mama tutup telp nya ya, mama sayang Reva. Dah Reva", kata Susi sambil menutup teleponnya. Tidak berapa lama berselang, Reza menchat nya di WA, Reza mengatakan kalau Susi tidak perlu khawatir karena Reva ada bersama dirinya. Ia akan menjaga Reva dengan baik. Susi pun membalas dengan kata yang singkat yaitu terima kasih.
__ADS_1
Perasaan Susi senang, kabar Reva baik-baik saja di Banjarmasin membuatnya tenang. Ia pun mencoba menghubungi saudaranya di Palangkaraya untuk mengetahui bagaimana keadaan Boy disana. Semenjak Boy dan Reva memutuskan tidak ingin ikut dengannya karena menikah dengan Yahya, Susi harus menerima konsekuensi harus terpisah dengan anak-anaknya. Ia berharap nantinya kedua anaknya Boy dan Reva mau tinggal bersama, sehingga mereka menjadi keluarga yang utuh tidak terpisahkan. Beberapa kali mencoba menghubungi sepertinya teleponnya tidak terhubung. Mungkin lagi gangguan telp nya Susi ke Palangkaraya tidak bisa dilakukan. Susi akhirnya menyerah dan menchat saudaranya, kalau Ia tadi ada menghubunginya, kalau sudah tidak sibuk agar menghubunginya kembali. Susi menjelaskan ia ingin berbicara dengan Boy di telepon.
Sehabis menghubungi kedua anaknya. Ia teringat Kevin dan Adam, anak dari Yahya. Bagaimana ia bisa mendekati Kevin agar mau menerima dirinya sebagai istri bapaknya sekaligus ibu baru. Saat ini mau menyapa dan mengajak ngobrol saja susah, sedangkan frekuensi untuk bertemu juga sedikit karena Kevin juga bekerja, dan lebih parah lagi Kevin ga pernah pulang makan siang dirumah. Karena jomblo, Kevin lebih sering makan siang diluar bersama teman-teman kantornya. Sedangkan waktunya juga lebih banyak dihabiskan dengan suaminya Yahya. Susi hanya bisa memikirkan akankah ada perubahan sikap Kevin terhadapnya. Ia tidak bisa terus-terusan hidup dalam tatapan yang tidak mengenakkan dari kedua anaknya Yahya itu. "Ternyata tidak mudah menganggap anak tiri sebagaimana anak sendiri", gumam Susi.
__ADS_1