Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Suci Bertandang, Susi Kalang Kabut


__ADS_3

Setelah mendengar sedikit kisah dari Kevin. Suci kemudian terbersit di pikirannya untuk mengunjungi Yahya dan istrinya Susi. Suci penasaran bagaimana si Susi yang bisa meluluhkan pondasi pertahanan Yahya yang dulunya masih bertahan tidak langsung menikah setelah kepergian Fatma. Suci tahu betul betapa Yahya sangat mencintai almarhumah istrinya Fatma. Sebagai saudara dekat, sudah seharusnya ia berkunjung ke sana, jadi Suci berpikir tidak akan menimbulkan masalah apa-apa. Toh dirinya adalah adik.


Keesokan harinya, Suci bertandang ke rumah Yahya. Sesampai di rumah utama, Suci tidak bertemu Yahya dan Susi. Rumah dalam keadaan kosong. Suci berpikir, kemana orang-orang rumah ini. Padahal Suci sudah memilih jadwal berkunjung di siang hari agar bisa bertemu keduanya. Akhirnya ia bertemu dengan Riri, salah satu penghuni kontrakan yang kebetulan lewat mau pulang menuju rumah kontrakan.

__ADS_1


"Ri", sapa Suci. " Iya, kenapa Mba Suci?", tanya Riri. "Orang rumah pada kemana ya? Kok sepertinya kosong", kata Suci. " Mba mau mencari siapa? Kalau Kevin mungkin belum pulang ke rumah", jawab Riri. "Hari ini mau silaturahmi ketemu Ka Yahya sama istrinya, soalnya aku belum bertemu sama mereka setelah menikah", kata Suci. " Oo, kalau itu Riri tahu Mba, Pak Yahya dan Bu Susi tinggal di kontrakan belakang, tetanggaan sama aku. Persis bersebelahan", jelas Riri. Suci bingung memikirkan mengapa mereka tinggal disana, soalnya rumah utama besar, kamar kosong masih banyak.


"Mba kalau mau barengan ke kontrakan bisa sama aku", ajak Riri. "Boleh, kalau dirimu tidak keberatan", kata Suci. "Apa kamu tahu mengapa Ka Yahya dan Susi memilih tinggal di kontrakan?", tanya Suci. "Ini gosipnya ya Mba, pian saya kasih tahu lo. Katanya sih Kevin masih belum setuju Bapaknya menikah dengan Susi, yang jadi istri sekarang", kata Riri. "Apa iya?", tanya Suci seperti tidak percaya. "Aku juga kurang tahu Mba, tapi infonya sih begitu", kata Riri. "Kalau mau jelasnya, pian bisa tanya sama Pak Yahya atau Kevin nya langsung", tambah Riri lagi. "Aku belum tahu situasinya gimana, jadi ga bisa berkomentar apa-apa. Anak-anak mungkin kaget karena Abahnya menikah lagi. Biasanya mereka inginnya ya sang Abah jangan menikah lagi", kata Suci. "Benar itu mba", kata Riri. Mereka berdua terus mengobrol sampai akhirnya tiba di rumah kontrakan. "Nah mba, kita sudah sampai. Mba Suci ketok saja rumah yang itu", jelas Riri sambil menunjuk rumah kontrakan yang berwarna abu-abu, yang ditempati Yahya dan Suci. "Mba, saya masuk rumah ya", kata Riri lagi. "Makasih ya sudah mengantarkan", kata Suci. Riri menganggukkan kepala.

__ADS_1


Riri langsung masuk ke rumahnya. Dan Suci mencoba masuk ke rumah yang ditunjuk. Suci mengetuk pintu. Ia pun mengucapkan salam, saat salam yang ketiga barulah ada suara dari dalam yang merespon. "Siapa?", tanya Susi saat keluar dari rumah dan bertemu pandang dengan Suci. Mereka berdua saling pandang, dimata Susi wanita yang dilihatnya adalah seorang wanita dewasa yang cukup cantik di usia sekitar 40an, sedangkan di mata Suci, Susi adalah wanita cantik bak model di televisi.


Suci pun masuk dan melihat keadaan di dalam rumah kontrakan. Belum banyak perabot yang dipunyai. "Belum memiliki barang apapun, maklum baru menyesuaikan", kata Susi. Suci berkata, "Baru menikah khan wajar", sahut Suci lagi. Susi bertanya, "Dalam rangka apa Suci datang berkunjung?". Suci tersenyum. "Biasanya aku memang sering kesini menjenguk, apalagi sewaktu mendiang istri Ka Yahya sakit, akulah yang membantu menjaga kalau Ka Yahya pergi bekerja. Kalau sekarang aku ingin silaturahmi saja. Karena ke depannya kita juga harus saling mengenal, apalagi sebagai istri Ka Yahya", jawab Suci. "Iya, cuma kaget saja didatangi. Terbiasa sendiri saja", kata Susi lagi. "Jam berapa biasanya pulang kerja Ka Yahya?", tanya Suci. "Jam setengah 6 sih", jawab Susi. "Ternyata ga berubah", kata Suci pelan. " Maksudnya apa?", tanya Susi. "Kupikir karena ada istri akan pulang lebih cepat, ternyata sama saja", kata Suci santai. "Bukankah jam kantor pegawai sama, ini bukan berkaitan dengan ada tidaknya istri", kata Susi dengan nada sedikit memanas. Susi tidak tahu mengapa dirinya panas dengan ucapan Suci.

__ADS_1


Mendengar nada bicara Susi yang kurang enak, Suci pun pamit. "Sepertinya aku pulang saja, sudah bertemu dirimu. Salam saja Ka Yahya kalau aku tadi kemari bertandang", kata Suci. Suci pun pergi. Susi mengantar Suci sampai di depan pintu. Kemudian Susi pun masuk ke dalam rumah, namun tidak berapa lama ia pun keluar rumah lagi. Ia seperti mendengar suara Yahya yang sudah sampai pulang.


Ketika sudah di depan pintu, Susi melihat dari kejauhan Yahya sedang berbincang-bincang dengan Suci. Susi penasaran apa yang mereka bicarakan. Susi merasa gerah melihat suaminya berbincang sambil tertawa dengan perempuan lain, walaupun itu adik ipar suami sendiri. "Sepertinya aku cemburu", kata Susi di dalam hati. Susi memilih masuk kembali ke dalam rumah, menenangkan bola api di hati yang mulai memanas. "Tenaaang, tenaaaang, kok seluruh tubuh jadi panas sendiri", kata Susi sambil mengelus dadanya sendiri. Mereka keluarga, mengapa harus memikirkan hal yang tidak-tidak. Pikiran Susi terbagi dua, antara yang berpikir jernih dan yang tidak. Yang jernih berpikir agar Susi santai saja menyikapi sanak keluarga Yahya dan kedepannya juga bisa lebih banyak lagi keluarga yang datang. Hanya seorang Suci saja. "Apa yang kupikirkan", kata Susi dengan dirinya sendiri. Mereka sudah lama tidak bertemu, biarkan saja. "Susi, Susi, percaya saja dengan suamimu. Cemburu hanya menguras energi mu saja. justru harusnya kamu bahagia ternyata suamimu banyak yang suka, artinya pilihanmu memang bagus", kata Susi menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2