Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Kabar Gembira


__ADS_3

Ternyata tidak perlu menunggu lama, penantian terjawab. Apa yang diharapkan Yahya dari pernikahan keduanya dikabulkan Tuhan. Tuhan memberikan jawaban atas doa-doanya.


"Kenapa perut terasa mual ya?", pikir Susi. Nanti juga bisa hilang sendiri pikir Susi lagi. Ia menganggap mual-mual yang dirasanya adalah gejala sakit maag nya kambuh lagi. Seperti biasa Yahya berpamitan kerja. Sementara Susi mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga selama suami bekerja. Saat lagi menyapu halaman rumah, tetangganya Riri berkata, "Waaah agak gemukan kamu Sus, artinya betah tinggal di Tanjung". Susi tersenyum, kemudian berkata, "Iya betul, apalagi ada suami yang perhatian", jawab Susi. "Harus dijaga tuh suami biar ga diambil orang, sekarang zamannya pelakor lo", kata Riri. "Betul itu, mata kita harus waspada, biar ga lengah", jawab Susi. Tetiba, Susi merasakan mual di perutnya. Wajahnya pun pucat, dan menahan rasa sakit di perut. "Aduh", kata Susi sambil memegang perutnya. Riri pun mendekat, dan membantu Susi untuk duduk. Sapu pun diletakkan di tempat asalnya. Setelah duduk, Riri bertanya lagi, "Gimana? Apa sudah baikan?". "Lumayan", jawab Susi. "Kamu mau ga ke dokter, kalau mau aku temani kesana", kata Riri lagi. Susi menggelengkan kepalanya. "Paling karena sakit perut biasa, nanti juga sembuh sendirinya", jawab Susi. "Mudahan saja kau benar", kata Riri lagi. "Aku tinggal pergi ya, soalnya jam jemput anak-anak sekolah lo", jelasnya lagi. "Semoga saja kecurigaanku tidak benar, apa mungkin Susi hamil", pikir Riri.

__ADS_1


Setelah Riri berlalu, Susi mulai melamun. "Apakah aku hamil? Ah tidak, ga mungkin. Aku dan Mas Yahya baru saja menikah. Tapi aku juga ragu. Apa harus beli testpack kehamilan ya?", pikir Susi. Pikiran Susi terus saja memikirkan bagaimana kalau dirinya benar-benar hamil, dirinya belum siap menjadi Ibu. Kedua anaknya saja dari pernikahan sebelumnya belum terawat dengan baik. "Apa yang harus kulakukan?", gumam Susi. Setelah duduk beberapa saat di bawah pohon yang rindang, Susi yang mulai tenang memikirkan apa yang harus dilakukannya memutuskan membeli testpack kehamilan untuk mengetahui apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak.


Seperti biasa, saat jam makan siang sang suami Yahya selalu datang menemaninya, walau terkadang ya sekali juga tidak bisa menemani istri makan siang, apabila ada kegiatan kantor seperti rapat dan urusan lainnya. Namun Yahya merupakan sosok suami yang sangat perhatian sama istrinya itu. Namun saat pulang, Yahya menemukan istrinya sedang rebahan di kamar dengan wajah pucat. Tidak seperti biasanya Susi yang menyambutnya dengan wajah gembira. "Kamu kenapa?", tanya Yahya kepada istrinya. Susi memandangi wajah Suaminya dan bangun dari tempat tidurnya. "Ga papa mas, sedikit pusing saja. Nanti juga hilang sendirinya", jawab Susi. Yahya yang khawatir bertanya lagi, "Tadi pagi setelah mas berangkat kerja, apa sudah makan?", tanyanya lagi. Susi menggelengkan kepalanya. "Ayo, cepat bersiap-siap!", ajak Yahya. "Maksudnya apa mas?", tanya Susi. "Kita pergi ke dokter. Ga bisa dibiarkan gejala sakitmu ini. Daripada menduga-duga sebaiknya langsung ke dokter saja", jelas Yahya. Susi pun menurut. Ia bersiap-siap pergi dengan Yahya. Sedangkan Yahya menghubungi teman sekantornya kalau dirinya izin tidak bisa balik ke kantor karena mau ke dokter untuk memeriksakan kesehatan istrinya. Akhirnya, mereka pun pergi ke dokter.

__ADS_1


Yahya dan Susi yang menunggu hasil lab dirumah tunggu dokter masih menanti dengan sabar. Perawat mempersilahkan mereka masuk lagi, karena ada hal yang akan disampaikan dokter. Sesaat mereka masuk dan duduk, dokter membaca hasil lab urin milik Susi. "Bagaimana dokter?", tanya Yahya. Dokter tersenyum. "Selamat bapak, anda akan segera menjadi ayah. Istri anda sedang hamil. Saat ini janin berumur sekitar dua minggu", jelas dokter. Yahya ingin rasanya berteriak kegirangan. Namun perasaan itu ditahannya, Dan berkata, "Alhamdulillah". "Jadi jaga kesehatan ya bu, Selamat atas kehamilannya. Untuk selanjutnya saya sarankan bapak ibu periksanya ke dokter kandungan", saran dokter itu lagi. "Iya dok, terima kasih", jawab Yahya. Keluar dari ruangan dokter, Yahya senang sekali namun ia terdiam melihat istrinya Susi yang terisak-isak menahan tangis. "Sus, kamu kenapa? Bukannya senang karena kita akan segera memiliki buah hati, kok malah menangis, mas jadi bingung", tanya Yahya. "Aku ga menyangka mas", jawab Susi. "Ga menyangka apa?", tanya Yahya. "Aku hamil mas, aku hamil!", jawab Susi. "Iya, kamu lagi hamil, mas senang kok. Doa mas terwujud ingin memiliki momongan lagi", jawab Yahya. "Justru itu mas, aku... ya sudahlah mas juga tidak akan mengerti walau dijelaskan mengapa", jawab Susi singkat. Melihat reaksi istrinya yang sepertinya Masih belum menerima kehamilannya, Yahya memaklumi karena pernikahan mereka belum lama dan sudah dikejutkan dengan berita bahagia ini. Yahya rasanya sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan kepada orang-orang kalau istrinya sedang hamil, dan ia akan menjadi seorang ayah.


Disatu sisi, Yahya sangat bahagia dengan kabar kejutan istrinya itu. Yahya pun mulai sangat perhatian kepada istrinya itu. Namun disisi lain, Susi malah merasakan ia belum siap dengan berita kehamilan dirinya. Ia tahu kalau Yahya memang benar-benar menginginkan anak ini. Susi masih shock sehingga dirinya hanya bisa diam saja sambil melamun. "Jangan melamun terus, Ibu hamil harus bahagia. Mau makan dimana? Susi kalau cape, ga usah masak. Mas beli makanan buat kita berdua", pesan Yahya. "Mas pergi kerja lagi ya", kata Yahya lagi. Susi mengangguk. Ia masih dalam kebingungan dengan kehamilannya ini. Didalam hatinya tahu kalau setelah menikah bisa saja hamil, namun tidak menyangka akan datang secepat ini. Apakah Tuhan sudah menambah amanah kepadanya secepat ini, sedangkan Susi sendiri merasa dengan kedua anaknya saja dirinya masih belum mampu mengasuhnya dengan baik.

__ADS_1


Selepas Yahya pergi ke kantor, Susi menghubungi Tia saudaranya. "Halo ka", sapa Tia. "Assalamualaikum", jawab Susi. "Waalaikumsalam wr wb", kata Tia. "Boy lagi main sama temannya ka, apa perlu kupanggilkan karena kaka menelpon?", tanya Tia. "Ga usah Tia, aku bukan ingin bicara dengan Boy", kata Susi. "Kaka kenapa? sakit?", tanya Tia. "Kaka ga kenapa-kenapa, kamu santai saja. Hanya saja....", Susi terdiam tidak dapat melanjutkan perkataannya. "Ka, hanya kenapa?", desak Tia. "Kaka hamil", jawab Susi lirih. "Alhamdulillah, Selamat ya ja", jawab Tia riang. Namun Susi hanya diam saja, dan sontak membuat Tia bingung. "Ka...", kata Tia. Kemudian Tia menaikkan nada suaranya, "Ka Susi...", kata Tia lagi. Susi kaget. "Iya Tia, kenapa?", tanya Susi. "Justru Tia yang mau nanya, kaka kenapa?", jawab Tia. Susi menahan nafas dan menjelaskan, "Kaka belum siap dengan kehamilan kali ini Tia", jawab Susi. "Terlalu cepat", jelas Susi lagi. "Tidak ada yang terlalu cepat atau sebaliknya, justru kaka bersyukur bisa dikasi amanah lagi oleh Tuhan. Banyak lo ja yang menanti punya anak, tapi belum dikasih sama Allah", kata Tia. "Iya, kamu benar. Mungkin kaka saja ya g berpikiran aneh", jawab Susi. "Ka, banyak2 sholat biar kaka bisa menerima kehamilan ini", jelas Tia. "Iya, kamu benar Tia", jawab Susi. "Sehat-sehat terus sama bayinya ya ka", kata Tia. "Iya, udah dulu Ti. Daah...", kata Susi menutup teleponnya. "Apa yang harus kulakukan dengan bayi ini?, tapi benar kata Tia aku harus menjaganya karena bayi ini adalah amanah Allah SWT", pikir Susi.


__ADS_2