
Memasuki sebuah keluarga baru tidaklah mudah bpenuhagi Sinta. Sinta yang hidup dengan kasih sayang kedua orang tuanya, merasa tidak pernah kekurangan apapun. Sekarang ia sudah harus beradaptasi dengan keluarga dari pihak suaminya.
Resepsi pernikahan sudah berakhir, namun babak baru kehidupan pernikahan Sinta baru saja dimulai. Kevin bisa dengan mudahnya menyesuaikan diri bergabung dengan keluarga Sinta, tapi tidak mudah bagi Sinta, karena setelah menikah, ia terus menelaah bagaimana situasi di keluarga Kevin.
Berbekal mengamati dan informasi yang di dapat dari Kevin, Sinta pun mulai mencoba mempelajari bagaimana situasi nya.
__ADS_1
Sinta sudah mengetahui kalau mertuanya menikah lagi dengan perempuan yang beda usianya cukup jauh. Bahkan sangat cantik. Kevin sendiri memang masih belum bisa menerima kehadiran ibu sambungnya itu. Saat bertemu pun, Kevin berusaha agar tidak berinteraksi cukup banyak dengan istri abahnya itu. Sinta memahami perasaan Kevin yang sangat menyayangi almarhumah ibunya. Dan tetiba saja menerima kenyataan, sang abah menikah lagi dengan perempuan lain. Artinya Kevin harus menerima kalau di hati abahnya sudah ada perempuan lain yang mengisi kekosongan hati itu. Bagi Sinta itu adakah wajar dan normal bagi seorang laki-laki yang ditinggal istrinya meninggal, kemudian menikah lagi. Sinta sering melihat kenyataan kalau seorang suami jarang bisa hidup sendiri tanpa teman hidup, berbeda kalau sebaliknya. Ia menganggap tindakan abah mertua tidak Salah, namun juga tidak menyalahkan sikap suaminya itu. Sinta berusaha netral.
Hari-hari setelah pernikahan dilalui dengan damai. Sampai tibalah waktunya janji Paman Dion buka suara, paman Kevin yang bernama Dion datang menemui Kevin. Mereka berdua berbicara serius. Sinta hanya bisa meninggalkan mereka berdua bicara, karena tidak ingin ikut campur pembicaraan paman dan keponakan.
"Nanti kita bicara lagi, Selamat atas pernikahanmu. Walaupun nanti Sinta masih kuliah di Barabai, ya tetap kamu lebih banyak di rumah utama ini. Siapa lagi yang menjaganya, karena Adam juga masih kuliah", kata Dion. "Iya paman", jawab Kevin. "Paman pamit pulang ya, berhubung acara sudah selesai. Seninnya paman sudah masuk kerja lagi", kata Dion sembari pamit ke Kevin. "Salam buat istrimu", tambahnya.
__ADS_1
Kevin yang baru saja menyelesaikan semua rangkaian acara resepsi perkawinannya masih tidak percaya dengan informasi dari pamannya Dion. Ia selama ini tidak berpikir yang tidak-tidak terhadap abahnya sendiri. Namun Kevin juga tidak bisa mempercayai Ibu sambungnya yang baru, apakah memiliki motif tersembunyi atau tidak. Apakah benar-benar murni sayang sama Abahnya atau karena melihat silau akan harta yang nampak.
Setelah beberapa menit berlalu, Sinta pun mendatangi Kevin yang masih merenung. Pikirannya seperti melayang entah kemana, apa yang dipikirkan pun Kevin sendiri juga galau. Sinta pun mengagetkan suaminya itu, "Vin...", sambil menepuk bahu suaminya. Kevin menoleh istrinya. "Dikira siapa, ternyata kamu", jawab Kevin. "Hayoo, kaget gitu mukanya. Ga nyangka istri yang membuyarkan lamunan indahmu ya", goda Sinta. "Ngaco, ga, bukan itu", jawab Kevin. "Hanya masalah serius saja mengenai peninggalan almarhumah mama", jelas Kevin lagi. "Jadi Paman Dion berbicara masalah itu ya, pantas saja setelah Paman pergi, suamiku masih berpikir keras", kata Sinta. "Iya, diluar dari semua yang kupikirkan", jawab Kevin lagi. "Jalani apa adanya saja seperti air mengalir, nanti harus bagaimana kamu pasti bisa kok", kata Sinta. "Bagaimana kamu mengerti, sedangkan aku belum cerita", Kevin penasaran. "Menebak saja, soalnya kamu bicara tentang peninggalan almarhumah mama, biasanya sih masalah harta. itu jadi masalah karena berurusan dengan orang baru yang tidak tahu asal usul harta itu. Sinta ga mau menuduh siapa orangnya, ya nanti pelan-pelan dijelaskan biar Salah paham berlanjut", terang Sinta. "Cerdas juga kamu Sin", puji Kevin. "Istri siapa dulu dong, mana hadiahnya?", goda Sinta. "Hah?", tanya Kevin. "Kan tadi bilang istri cerdas, masa dapat pujian doang", Sinta sambil tertawa. Kevin juga ikut tertawa. "Istriku ini mau apa?", tanya Kevin balik. "Hmmm apa ya....?", Sinta berhenti sejenak sambil berpikir. Kemudian melanjutkan lagi. "Sebenarnya ga ada sih, pengen godaian orang yang seriusan aja. Tampak tua", canda Sinta. "Aduh Sinta, pikir tadi mau beli apa, sudah mau tarik nafas dalam-dalam, kalau-kalau permintaanmu susah", jawab Kevin. "Ada dong", goda Sinta lagi. "Mau ini", kata Sinta sambil menunjuk dahinya. Kevin bingung, ada apa dengan dahi Sinta. "Mas kiss disini", jelas Sinta yang tersipu malu. Kevin menyadari istrinya yang sedang malu itu. Ia pun langsung kiss di dahi istrinya itu. "Nah gitu dong", kata Sinta senang. "Memang itu hadiah?", jawab Kevin. "Hari-hari juga bisa", tambahnya lagi. "Wow beneran hari-hari ya, awas kalo lupa, ada dendanya lo ya", terang Sinta. "Waduh jadi takut sama dendanya", Kevin berlagak seperti ketakutan. Mereka berdua larut dalam canda tawa.
Tetiba muncul Adam, "Lanjutkan terus bercandanya, dunia serasa milik berdua kalian aja. Yang jomblo minggir", kata Adam sembari berjalan melangkah keluar dengan membawa helm nya. "Mau kemana Dam?", tanya Kevin. "Mau hang out bentar, kalian berdua mah enak, bulan madu. Daripada gue jadi jomblo ngenes di rumah lihat kemesraan kalian, mending cabut juga ma teman-teman. Nanti makan diluar. Ga usah ditunggu", jelas Adam. "Siapa jua mau nungguin situ", jawab Kevin lagi. Adam membalas perkataan kakanya itu dengan lambaian tangan dan ucapan pergi "Assalamualaikum", Adam pun pergi dengan motornya. Tinggallah Sinta Dan Kevin di rumah. Mereka berpandangan mata. "Kita siap-siap juga yuk", ajak Kevin. "Kemana?", tanya Sinta. "Kita keluar jalan juga, masa Adam aja", jawab Kevin. "Tapi kita baru selesai resepsi pernikahan, apa ga cape?", tanya Sinta balik. "Keluar sebentar ngajakin makan diluar aja", jawab Kevin. Sinta pun langsung pergi bergegas ke kamarnya untuk bersiap. Cepat juga respon istrinya itu.
__ADS_1