Sebatas Senja Aku Menunggu

Sebatas Senja Aku Menunggu
21. Jauhi Rindu


__ADS_3

Izinkan ku lukis senja


meski dengan derai air mata


ku pikir setelah luka ada bahagia


nyata nya masih ada luka di antara luka.


Pria paruh baya itu tergopoh-gopoh melewati koridor rumah sakit tempat di mana Elang di rawat. Mata tua sayu itu nampak memerah mengeluarkan air mata, sorot mata nya terlihat jelas sebuah penyesalan.


Ia membuka pintu, kemudian menatap gadis yang sedang menangis di pinggir brankar itu.Langkah kaki nya pelan, mencoba mengatur nafas dan kata-kata untuk memulai bicara. Hisyam menghampiri Rindu, mengusap rambut hitam panjang itu.


"Maafkan aku." lirih nya bersuara.


Rindu menatap Hisyam, "Semua bukan salah om, semua salah Rindu." ucap nya terisak "Jika Rindu tidak meminta hal yang aneh, tidak mungkin kakak akan menjadi seperti ini."


Gautama yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Elang sedikit kaget melihat sahabat nya yang sudah berada di rumah sakit. "Hisyam...." sapa nya pelan.


Hisyam menoleh ke arah sumber suara, kemudian mereka saling peluk membuat Hisyam berlutut menangis. Sudah lama sekali mereka tidak berjumpa.


"Aku merasa berdosa Tama." lirih nya dalam isak.


Semua hanya diam, mereka tidak tahu harus menjawab apa, Rindu sudah berhenti dengan tangis. Tangan lembut milik Rindu menggenggam erat tangan kakak nya.

__ADS_1


"Kak, bangun lah Rindu butuh kakak, jangan seperti ini." ucap nya pada tubuh yang tergolek lemas itu. "Jangan membuat Rindu semakin bersalah kak."


Chandra mengusap rambut Rindu, memberi kekuatan meski tak terlihat, "Kakak mu akan baik-baik saja Rindu." ucap nya.


"Kakak sudah berjanji akan mendampingi aku menikah mas."


"Dia tidak mungkin ingkar dengan janji nya."


Wulan menghampiri Chandra dan Rindu, "Chan, ajak Rindu makan, sejak siang dia belum makan apa pun." pinta Wulan namun Rindu tidak mau meninggalkan kakak nya.


"Sayang ayo lah, kalau kamu sakit kakak mu akan sedih." bujuk Chandra namun masih saja Rindu menolak.


"Makan lah Rindu." ucap Hisyam "Biar om yang menjaga kakak mu."


Mereka masih saja membujuk Rindu, dengan terpaksa Rindu mengikuti nya.


Wajah sayu itu tak menjawab, mata nya juga sembab namun tiba-tiba tubuh Rindu tidak sengaja di tabrak seseorang dari arah belakang. Rindu terjatuh, segera mungkin Chandra membantu Rindu berdiri.


"Rindu...." ucap pria yang masih menggenggam ponsel nya. Seringai senyum nampak jelas terlihat dari bibir Bayu mana kala ia berjumpa dengan Rindu.


"Mas Bayu..." lirih Rindu, Chandra sadar siapa yang ada di depan nya sekarang dengan cepat ia mengajak Rindu pergi. Chandra menarik tangan Rindu, wajah nya berubah dingin.


"Rindu tunggu." pinta Bayu, namun kedua nya tak mendengar ucapan Bayu. Dengan cepat Bayu mengejar Rindu dan Chandra yang berjalan ke arah parkiran.

__ADS_1


"Rindu tunggu.." pinta nya sekali lagi sambil menarik tangan Rindu yang akan masuk kedalam mobil.


Chandra geram, "Jauhkan tangan mu dari calon istri gue breng*sek." ucap Chandra emosi.


Bayu menyeringai dengan sombong nya, "Dia milik gue sampai kapan pun." racau nya angkuh.


Plakkkkkk.....Rindu menampar wajah Bayu, membuat Bayu terlonjak karena ia tidak pernah melihat wajah Rindu yang sangat marah.


"Hentikan omong kosong mu Bayu." ucap Rindu dingin tanpa embel-embel mas.


Bayu semakin kaget saat Rindu menyebut nama nya, "Kau bilang aku adalah milik mu, memang nya siapa kau untuk ku saat ini?"


Chandra hanya diam menyaksikan perdebatan di depan, sedangkan Bayu melirik tajam ke arah Chandra.


"Dulu kau membuang ku seperti sampah dan sekarang kau bilang aku adalah milik mu cihhhh.......Kau adalah seonggok kapal usang yang tak pantas untuk ku ajak berlayar." ucap Rindu kemudian masuk ke dalam mobil, air mata kembali jatuh membasahi pipi.


"Jauhi Rindu, lo hanya membuat dia semakin menderita." ucap Chandra kemudian berlalu pergi.


Mobil Chandra meninggalkan area parkiran, menyisakan Bayu yang diam mematung. "Aku akan menceraikan Hilma, aku tidak mencintainya." batin Bayu "Hanya Rindu yang ada di hati ini sejak dulu hingga sekarang."


Bayu pergi, ia kembali ke ruangan di mana anak nya sedang di rawat. Di otak nya hanya terbayang wajah amarah dari Rindu.


Hii...terimakasih sudah mampir di karya pertama oppa, mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan di hati para pembaca. Mohon maaf juga jika dalam setiap penulisan terdapat banyak Typo.

__ADS_1


Jangan lupa Like Rate Coment and Vote karya oppa ya😊


Karena Vote kalian adalah semangat oppa😊


__ADS_2