Sebatas Senja Aku Menunggu

Sebatas Senja Aku Menunggu
38.Tamu Itu Lagi


__ADS_3

"Mau apa anda datang ke sini lagi?" tanya ketus Chandra.


"Hanya menjenguk Rindu, kebetulan kami ada pekerjaan di sini." jawab Maya enteng.


"Menjenguk? lalu kemana kalian dulu saat Rindu terpuruk karena ulah kalian?" tanya Chandra kembali, bahkan ia tak mengizinkan istri nya untuk membuka suara.


"Berhenti menggangu kehidupan Rindu, kalian hanya membuat nya menderita."


"Apa hak mu melarang kami?" ucap Darma.


Chandra mendecih, kemudian menatap tajam ke arah Darma, "Aku suami nya, dan kalian hanya benalu yang tak tahu malu."


Darma mulai kesal dengan ucapan Chandra, "Jangan sombong kau Chandra, Rindu masih mencintai anak ku, kita lihat saja nanti." ucap nya dengan nada tinggi.


"Jika aku masih mencintai anak kalian, pasti aku sudah mengejar anak kalian yang tega menipu ku mentah-mentah." ujar Rindu yang sudah tak tahan mendengar semua ucapan Maya dan Darma.


"Kalian ini orang tua penjilat." ledek Chandra membuat emosi Darma semakin menjadi-jadi, bahkan pria paruh baya itu hampir saja memukul Chandra.


"Pergi dari ku." teriak Rindu, membuat Maya sangat terkejut dengan sikap Rindu.


Mau tidak mau Maya dan Darma pergi dari rumah Rindu. Wajah Chandra masih jelas terlihat marah, kemudian pria itu memilih pergi tanpa menghiraukan Rindu.


"Mas mau kemana?" tanya Rindu tapi tak di jawab.


Rindu menghempas kan bobot tubuh nya, ia merasa bersalah kepada suami nya dengan keadaan masa lalu nya. Wanita itu menangis sesegukan, perasaan bersalah pada suami nya kini semakin menyeruak ke dalam hati nya.


Malam semakin larut, Rindu yang kelelahan memilih tidur dengan mata sembab tanpa suami nya. Jam sebelas malam Chandra baru pulang, ia memandang mata sembab istri yang sedang tertidur.

__ADS_1


"Maafkan aku." lirih Chandra "Aku hanya butuh udara segar." ucap nya lalu ikut berbaring di samping istri nya.


Pagi menjalang, seperti biasa Rindu melaksanakan aktifitas sebagai seorang istri. Wanita sangat sibuk hingga tak sadar jika suami nya sedang memandang lekat diri nya.


Saat Rindu berbalik, ia sangat terkejut melihat tatapan tajam suami nya. Rindu sedikit takut, biasa nya Chandra akan melemparkan candaan jika bangun tidur, namun berbeda dengan pagi ini.


Chandra berjalan menghampiri istri nya yang masih berdiri mematung di dekat kompor. "Maafkan aku." ucap nya kemudian memeluk Rindu.


"Aku juga minta maaf mas."


"Sudahlah, lupakan semua nya."


Rindu melanjutkan acara masak nya, di temani Chandra dengan suasana hati yang mulai membaik.


Di lain tempat, Maya dan Darma baru saja tiba di kota mereka, namun baru saja tiba mereka sudah di sambut amukan dari Hilma.


"Apa maksud mu Hilma?" tanya Maya selembut mungkin, wanita tua itu berusaha pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di maksud menantu nya.


"Jangan kalian pikir aku tidak tahu dengan apa yang kalian lakukan di luar sana."


"Kami benar-benar tidak mengeti maksud kamu Hilma." ujar Darma.


"Berhenti bermuka dua di depan ku, kalian tak pantas menjadi orang tua." ledek Hilma.


"Jaga bicara mu Hilma." bentak Bayu yang baru saja datang "Kenapa kau mengatai orang tua ku? sadar lah Hilma mereka mertua mu hargai dan hormati mereka."


Hilma tertawa cukup keras, "Cih....mertua yang seperti apa yang harus aku hargai dan hormati? mertua yang berusaha menghancurkan rumah tangga anaknya, kemudian menyatukan kembali anak nya dengan mantan nya dulu."

__ADS_1


"Apa maksud mu?"


"Jangan pura-pura bodoh mas, kau pasti tahu jika orang tua mu suka datang bertamu ke rumah mantan mu itu."


Bayu menatap ke arah orang tua nya, "Apa benar yang di katakan Hilma mah pah?" tanya Bayu tidak percaya.


Maya dan Darma tak berani menjawab, "Jawab." bentak Bayu.


"Mamah hanya ingin kamu bahagia Bay, mamah dan papah tahu jika kamu masih mencintai Rindu."


"Berhenti mengatur hidup ku mah, aku bisa menentukan jalan hidup ku sendiri."


Hilma hanya tertawa sinis saat menyaksikan perdebatan antara suami dan mertua nya. Semakin jengah, Hilma memilih pergi ke kamar anak nya.


"Tolong jaga perasaan Hilma mah pah, aku sedang belajar menerima nya menjadi istri ku."


"Jangan bodoh, Hilma dan Rindu sangat jauh berbeda." ujar Darma.


"Kalian benar-benar gila harta."


"Realistis Bay, hidup butuh uang." sambung Maya.


"Tak ada kebahagiaan yang bisa di beli dengan uang." balas Bayu kemudian pergi meninggalkan orang tua nya. Bayu sangat kesal dengan sikap kedua orang tuanya, ia bahkan sengat kecewa.


Terimakasih sudah mampir dan membaca karya oppa, terimakasih juga sudah Like Rate Coment and Vote karya oppa.


Jangan lupa Like Rate Coment Vote karya oppa "Sebatas Senja Aku Menunggu" karena Vote kalian adalah semangat oppa😘

__ADS_1


Salam hangat dari oppa untuk kalian para pembaca karya oppa😘


__ADS_2