
Pusara batu dengan hamparan rumput hijau sedikit tajam menutupi gundukan tanah yang sudah lama mengering. Hisyam tersimpuh di antara makam Gita dan Narendra, tangis nya pilu, penyesalan nya dalam. Hisyam terus mengucapkan kata maaf tanpa jawab.
Di belakang Hisyam, Rindu dan Elang hanya bisa terdiam menyaksikan apa yang ada di depan nya sekarang.
"Om...." tegur Elang membuat Hisyam berbalik menatap ke arah Elang. "Ada apa?" yanya Hisyam dengan suara parau.
"Bisakah om ceritakan sesuatu yang masih om rahasiakan." pinta Elang.
Hisyam terdiam,lalu memegang kedua pucuk pusara. "Biarlah rahasia ini ku bawa sampai mati, bahkan Gautama saja tidak pernah tahu." ucap nya "Pulanglah dulu, aku masih ingin di sini." pinta Hisyam.
Dengan terpaksa, Rindu dan Elang memilih pulang meninggalkan Hisyam dengan makam ke dua orang tua mereka.
Jingga senja baru saja menyapa, deru ombak menghempas memecah keheningan. Rindu mulai khawatir karena Hisyam belum juga pulang.
"Kita tunggu aja dulu." ucap Elang.
"Tapi ini sudah hampir magrib kak." ujar Rindu gelisah.
"Biar aku yang menyusul nya." ucap Chandra tak kalah khawatir. Namun baru saja Chandra hendak keluar, ia melihat pria paruh baya itu nampak lusuh dengan mata sembab.
"Om...." ujar Chandra "Om gak kenapa-kenapa ?" tanya Chandra menghampiri Hisyam.
Bukan nya menjawab pertanyaan Chandra, Hisyam malah balik bertanya. "Kapan kau akan menikahi Rindu?"
Chandra menautkan ke dua alis nya, "Setelah Elang bisa berjalan kembali." jawab Chandra.
Hisyam memegang pundak Chandra, "Cintai dia, sayangi dia karena yang terbaik tidak akan datang untuk kedua kali nya." ucap nya kemudian berlalu masuk.
__ADS_1
Rindu menghampiri Chandra yang diam terpaku, "Mas, kamu kenapa?" tanya Rindu.
"Tidak, aku hanya bingung dengan sikap om Hisyam."
"Mas, sebenarnya aku penasaran akan satu hal." ucap Rindu.
"Apa?" tanya Chandra penasaran.
"Om Hisyam pernah menikah atau tidak ya?"
Chandra kembali menautkan kedua alis nya, 'Entahlah, rahasia yang dia simpan membuat hidup nya penuh dengan tekanan dan penyesalan."
Rindu mengajak Chandra masuk, mereka bersama-sama menyiapakan makan malam.
Setelah semua terhidang, mereka makan tanpa mengeluarkan suara. Setelah selesai makan, Chandra langsung pamit untuk pulang karena selama ini Chandra hanya tinggal di hotel milik nya saja.
"Kak, harus nya kakak banyak istirahat." nasihat Rindu sambil membantu kakak nya untuk duduk.
"Biarlah, hitung-hitung ini adalah latihan untuk kakak untuk bisa berjalan kembali."
Rindu hanya bisa tersenyum, untuk melawan kakak nya pun percuma karena Elang adalah pria yang keras kepala. "Maafkan kakak Rindu, sebab kakak pernikahan kamu dan Chandra di undur."
"Harus nya Rindu yang minta maaf kak, kalau bukan karena permintaan Rindu kakak gak mungkin seperti ini.''
"Kamu adik kakak satu-satunya, apa pun untuk mu kakak akan melakukan segala nya."
"Terimakasih kak." ucap Rindu
__ADS_1
"Kamu menginginkan konsep pernikahan seperti apa?" tanya Elang.
Rindu sedikit berpikir, "Impian Rindu sederhana kak, Rindu hanya ingin menggelar pesta kecil di pinggir pantai bernuasa putih fi temani senja." ucap Rindu sambil berhalusinasi.
Elang tersenyum saat mendengar penuturan adik nya, bayangan Rindu kecil kembali terlintas dalam memori Elang.
"Sekarang kakak istirahat biar cepat sembuh." ucap Rindu sambil menuntun Elang kembali ke kamar.
"Iya...iya...kamu sekarang menjadi Rindu yang sangat bawel dan cerewet." canda Elang.
Rindu memanyunkan bibirnya, "Cerewet gini masih juga adik dari Elang."
Rindu dan Elang tertawa, dari jarak beberapa meter, Hisyam menyunggingkan bibir nya saat melihat keakraban antara adik dan kakak itu. "Kalian memang beruntung memiliki anak yang sangat baik dan saling menyayangi Gita, maafkan aku yang dulu." batin nya kemudian kembali ke kamar nya untuk beristirahat.
Rindu yang paling berat ialah rindu kepada orang yang telah tiada.
Yakinlah, akan ada masa di mana kita sangat mencintai seseorang dalam satu hari dengan cinta yang sangat dalam bahkan tak ingin kehilangan nya.
Hari di mana seseorang sudah terbujur kaku dengan wajah dingin menutup mata.
Meski sejuta air mata memohon agar ia kembali, namun yang pergi akan tetap pergi berpangku kembali kepada sang ilahi.
👉Ni R
Hii...terimakasih sudah mampir di karya pertama oppa, mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan di hati para pembaca. Mohon maaf juga jika dalam setiap penulisan terdapat banyak Typo.
Jangan lupa Like Rate Coment and Vote karya oppa ya😊
__ADS_1
Karena Vote kalian adalah semangat oppa😘