
Minggu berlalu, kehidupan rumah tangga Rindu dan Chandra berjalan harmonis, begitu juga dengan Elang dan Lintang yang telah pindah tinggal mengurus hotel milik keluarga nya.
Lintang mau pun Rindu sering bertemu, karena sejak menikah dengan Elang Lintang sudah menjadi pengangguran kelas berat.
Masih di pantau, dua orang masih suka memata-matai kehidupan Chandra maupun Rindu.
"Biarkan mereka bahagia dulu." ujar Gusti pada kedua anak buah nya.
Kedua anak buah Gusti pergi, "Bukankah kau keponakan tante Maya?" tanya Arana.
"Dari mana kau tahu?"
"itu tidak penting, yang jelas kenapa kau tak membebaskan tante mu sendiri?"
"Jika aku membebaskan dia, rencana ku akan berantakan karena dia begitu ceroboh."
"Aku sangat yakin jika semua itu bukan alasan mu untuk balas dendam, katakan lah." pinta Arana penuh selidik.
Gusti menghidupkan rokok, pria itu menikmati sesapan asap yang keluar dari hidung, "Ya, sejak pertama aku melihat Rindu saat aku berkunjung ke rumah om Darma di pantai itu, aku merasakan ada yang berbeda di hati ku. Namun hati ku kacau saat mengetahui jika Bayu saudara sepupu ku adalah kekasih nya. Aku memberi sedikit saham ku kepada om Darma dan tante Maya agar bisa memisahkan Bayu dan Rindu melalui Hilma dan berita kecelakaan." jelas Gusti.
"Lalu,.." ujar Arana penasaran.
__ADS_1
"Rencana berhasil, aku mulai mendekati Elang untuk mengorek semua informasi Rindu namun Elang tak memberi ku kesempatan. Elang tak pernah tahu jika aku saudara dari Bayu, dia menganggap ku orang asing yang akan mempermainkan adik nya, padahal kami teman lama. Aku kesal aku marah saat melihat Chandra yang datang begitu mudah nya menaklukkan hati Rindu."
"Owh...semua karena wanita itu? lalu kenapa kau menikah?"
"Aku di jodohkan, aku tidak pernah mencintai istri ku."
"Kenapa kau tidak menikahi ku saja?" ujar Arana.
"Dasar wanita gila, siapa yang ingin barang bekas orang banyak." ledek Gusti.
"Jaga ucapan mu Gus, biar jelek begini kau pernah mencintai ku." balas Arana meledek.
Satu dua bulan sejak kedukaan yang di alami Rindu, wanita itu berusaha menjalankan hidup sehat agar bisa secepat nya mendapatkan momongan. Rindu merasa iri melihat istri kakak nya yang baru saja di nyatakan positif hamil.
"Sabar sayang, mungkin belum waktu nya." ujar Chandra menguatkan.
Rindu berusaha tegar dan menutupi kesedihan nya, "Iya mas, aku hanya sedang merindukan kehadiran nya."
Chandra menarik Rindu ke dalam pelukan nya, pria itu membelai rambut panjang Rindu dengan sangat lembut.
Berbeda dengan kehidupan Bayu, pria itu di desak terus menerus oleh papah nya untuk membebaskan mamah nya. Hilma yang melihat mertua nya yang datang setiap hari mulai jengah akan sikap mertua nya itu.
__ADS_1
Hilma hanya jadi penonton di saat suami dan mertua nya adu mulut, menurut nya semua ini bukan lah urusan diri nya.
"Baiklah pah, Bayu akan menemui Elang besok." ujar Bayu sedikit melemah.
"Kau bodoh, jika kau menemui Elang anak itu tidak akan mau membebaskan mamah mu." bentak Darma.
"Lalu siapa yang harus ku temui?" tanya Bayu pasrah.
"Temui Rindu," ujar Darma.
"Pah, tidak mungkin aku menemui Rindu, suami pasti akan sangat marah."
"Dia tidak berhak marah, kau dan Rindu adalah teman lama."
"Pah, aku tidak bisa."
"Papah tidak mau tahu, besok kau harus menemui Rindu." ujar Darma lalu pergi.
Hilma menghampiri suami nya, "Orang tua mu sangat tidak berperasaan mas."
"Diam lah Hilma, aku pusing."
__ADS_1
Hilma memilih masuk kedalam kamar, wanita itu sudah muak dengan keadaan rumah tangga yang masih ia pertahankan saat ini.