
Jika berat melepaskan masa lalu, setidak nya coba lah menata masa depan.
Kau berhak bahagia, bukan karena kau lemah hanya saja kau butuh waktu untuk berpasrah.
Mendung sendu menghiasi petang ini, malam kelabu telah datang dengan sejuta mimpi. Rindu menatap lekat setiap inci demi inci rumah yang telah menjadi tempat ia berlindung dari bahaya selama ini.
Wanita itu memandangi satu persatu figura yang terpajang rapi, foto masa kecil bersama ke dua orang tua dan kakak nya membuat kenangan Rindu kembali menyeruak di dalam hati nya.
"Kenapa kau bersedih Rindu?" tanya Elang menghampiri adik nya.
"Jika Rindu pindah, kakak akan kesepian." ucap nya dengan berlinang air mata.
Elang memeluk adik nya, "Jangan sedih, kalian kan bisa lebih sering menjenguk kakak di sini." bujur Elang.
"Menikahlah kak." pinta Rindu "Kakak butuh pendamping untuk menemani kakak juga merawat kakak."
Elang terdiam sejenak, lalu pria itu melepaskan pelukan adik nya. Elang berjalan menuju jendela kaca yang basah akan air hujan.
"Apa kau pernah melihat kakak dekat dengan wanita?" tanya Elang.
"Tidak." jawab Rindu singkat.
"Kakak hanya ingin kau bahagia Rindu, setelah kematian mamah dan papah kamu adalah tanggung jawab kakak."
"Tapi kakak juga berhak bahagia, jika kakak seperti ini Rindu bukan nya bahagia tapi malah sebaliknya nya kak."
"Jadi, kakak harus bagaimana?" tanya Elang tak mengerti.
__ADS_1
"Bukankah kakak dan Lintang sangat akrab, lagian kakak bilang dia belum punya kekasih."
"Lalu..?"
"Kenapa kakak tidak mencoba untuk menjalin hubungan dengan Lintang."
"Bagaimana cara nya, dia jauh di sana."
Rindu terdiam, namun dari jarak yang tak terlalu jauh, Chandra mendengar semua percakapan istri dan kakak ipar nya.
"Aku harus membantu Elang, siapa tahu gadis yang bernama Lintang adalah jodoh nya." batin Chandra.
Di sebrang sana, di kota S seorang pria tengah tertangkap basah oleh warga karena ketahuan sedang menguntit rumah Laras di tengah malam buta.
Pria itu memohon untuk di lepaskan, bukan nya takut dengan warga, ia hanya takut jika harus bertemu dengan anak dan istri saat ini.
"Ada apa ini kok ribut di depan rumah saya?" tanya Laras bingung.
"Ini bu, ada maling." jawab salah seorang warga.
Laras kemudian melihat pria yang sedang tertunduk menahan kesakitan karena di hajar warga. Laras terpaku, jantung nya berdebar kencang tak karuan. Ada kerinduan yang mendalam saat melihat wajah pria itu, namun ada rasa benci yang juga menghantui nya.
"Saya mengenal orang ini." ucap Laras datar.
"Apa ibu yakin?" tanya warga.
"Saya yakin, kalian boleh bubar." perintah nya.
__ADS_1
Kemudian para warga tersebut bubar, tinggallah mereka yang masih saling diam. Sedangkan Lintang terus saja bertanya pada mamah nya, namun gadis itu tak mendapat kan jawaban.
"Mah, jawab dong siapa orang ini?" tanya Lintang penasaran.
"Bawa masuk dia Lintang." perintah Laras, dan Lintang hanya menuruti omongan mamah nya.
Lintang memapah Hisyam, pria itu hanya menurut saja. Lintang mengobati sedikit luka yang ada di wajah Hisyam. Sedangkan Laras, wanita itu hanya diam terpaku memandangi laki-laki yang ada di depan nya.
"Jelaskan." pinta Laras dengan sorot mata tajam, namun Hisyam hanya diam. "Tolong jelaskan semua nya, kemungkinan aku tak salah lihat jika kau ada di bandara saat itu."
"Mah, ini maksud nya apa?" tanya Lintang semakin bingung.
"Dia papah mu Lintang." ucap lirih Laras, air mata nya mulai membasahi pipi yang sudah mulai keriput itu.
Lintang tak percaya, ia diam membisu mendengar ucapan mamah nya. Lintang memandang wajah tua di depan nya lalu tak terasa air mata nya menetes.
"Maafkan aku." ucap Hisyam kemudian bersimpuh di bawah kaki laras. "Bukan maksud ku menelantarkan kalian, hanya saja masa lalu dan penyesalan membuat ku merasa bersalah waktu itu." ujar nya di bawah kaki Laras, namun wanita itu masih diam. "Ketahuilah Laras, sejak kepergian mu sejak saat itu duka di hati ku semakin mendalam, penyesalan demi penyesalan selalu menghantui ku."
"Lintang, papah tidak pernah meninggalkan mu nak, maafkan papah mu yang jahat ini." ujar nya kembali bersimpuh di kaki anak nya.
Lintang semakin terisak, ia kemudian langsung memeluk tubuh tua itu. "Tak ada dendam di hati Lintang pah, Lintang tahu jika semua ini pasti punya alasan tersendiri."
Tangis Laras semakin deras, ada rasa bahagia ketika melihat anak nya berjumpa dengan papah nya. Wanita itu tak berkata lagi, sejujurnya ia juga merindukan Hisyam namun ego lah yang menentang hati nya selama ini. Malam ini mereka bertemu, malam sendu yang di iringi dengan isak air mata. Antara cinta rindu dan kebencian sedang bergaul menjadi satu dalam hati.
Terimakasih sudah mampir dan membaca karya oppa, terimakasih juga sudah Like Rate Coment and Vote karya oppa.
Jangan lupa Like Rate Coment Vote karya oppa "Sebatas Senja Aku Menunggu" karena Vote kalian adalah semangat oppa😘
__ADS_1
Salam hangat dari oppa untuk kalian para pembaca karya oppa😘