Sebatas Senja Aku Menunggu

Sebatas Senja Aku Menunggu
71.Pria Itu


__ADS_3

Lalu kenapa luka selalu senang menyapa dari pada bahagia?


katakan lah wahai semesta, kau pasti tahu jawaban nya....


Jingga temaram menghiasai langit sore ini, sinaran mendamaikan hati, memberi tempat meski dia pergi. Chandra menyisir lembut rambut panjang istri nya, pria itu masih mencoba memberi semangat kepada wanita yang baru kehilangan dua minggu yang lalu.


"Kita harus menunggu tiga bulan kedepan mas, jika Tuhan masih mempercayai kita, maka tak akan lama ia akan segera menggantikan nya."


"Iya mas, aku mengerti." jawab singkat Rindu.


Malam semakin gelap, Chandra mengajak istri nya untuk pergi makan malam di luar. Rindu senang, malam ini sangat indah di pandang mata, mereka memilih makan malam di pinggir jalanan yang lumayan ramai.


"Kakak bahkan tak menghubungi ku." ujar Rindu.


"Maklumi saja sayang."


"Iya mas, sekali nya kenal cinta aku adik nya di lupa kan."


Chandra terkekeh, pria itu mengacak gemas rambut istri nya. Setelah perut kenyang, Chandra mengajak istri nya untuk berjalan-jalan sebentar menikmati indah nya malam di tengah kota.

__ADS_1


Di tempat lain, sepasang anak manusia sedang menikmati indah nya malam dengan saling melepaskan hasrat mereka masing-masing. Lintang lelah, wanita itu langsung tertidur dengan lelap di bawah selimut tebal nya. Elang mengecup kening istri nya lalu ikut tidur di samping sang istri.


Pagi menjelang, di balik jeruji besi Maya melemparkan sarapan yang di beri oleh petugas. Wanita paruh baya itu, masih tidak terima jika ia harus mendekam di penjara.


"Jika kau selalu membuang makanan ini, kami akan menghukum mu lebih berat lagi." ancam petugas.


"Aku tidak takut, panggil Elang dan Chandra yang telah memasukan ku ke sini." teriak Maya.


Tanpa menghiraukan ocehan Maya, petugas tersebut langsung pergi.


"Sudahlah tante, terima nasib saja." ujar Arana setengah mengejek.


"Diam kau, jika aku bebas nanti aku tidak akan menolong mu." ucap Maya dengan nada tinggi.


"Hahaha.....Memang nya siapa yang akan mengeluarkan wanita ular seperti mu?" tanya Maya sambil tertawa.


"Kau lihat saja nanti, aku memang telah mencelakai Rindu, tapi aku punya bukti jika semua atas perintah kau." tutur Arana membalas tawa Maya.


"Kau licik, dasar wanita licik gila kau." ujar Maya hendak menampar Arana.

__ADS_1


"Jauh kan tangan keriput mu ini, kulit ku akan kotor oleh tangan mu."


Maya menggeram kesal, ia mengoceh mengumpat setiap orang yang termasuk anak dan suami nya. Ocehan nya terhenti saat petugas lapas datang bersama seorang pengecara.


"Siapa yang akan kau bebaskan?" tanya Maya senang saat melihat pengecara itu. "Apa kau pengecara yang di utus suami ku?"


"Nyonya Arana, silahkan keluar." ujar petugas membuat Maya terperangah.


Arana tersenyum sinis ke arah Maya, "Apa ju bilang, kau sendiri sekarang." ledek Arana.


Arana kemudian mengikuti pengecara dan petugas tersebut, sedangkan Maya kembali berteriak tidak terima melihat Arana bebas.


"Apa dia yang telah menjamin ku?" tanya Arana.


"Iya, tuan telah kembali." ujar pak Haris pengecara.


"Ah...aku merindukan kehidupan ku, ayo kita pulang." ajak Arana.


Arana tertawa senang, wanita bahkab tidak pernah takut sejak awal masuk penjara karena ia tahu jika pria itu akan membebaskan nya.

__ADS_1


"Siapa yang telah membebaskan Arana?" tanya Maya penasaran, "Siapa dia sebenar nya?"


Maya sedang di liputi rasa penasaran atas orang yang telah membebaskan Arana."Siapa pun dia, aku yakin jika pria itu pasti mememiliki kedudukan yang sangat tinggi." ucap nya kembali.


__ADS_2