
Kedewasaan bukan ditentukan dari berapa banyak angka di umur-mu.
Kedewasaan ditentukan dari kebesaran hatimu dalam menerima ketentuan yang sudah digariskan dalam hidupmu.
๐Dva
Hari ke hari keadaan Elang semakin membaik, seperti sore ini, Elang dan Hisyam duduk berdua di pinggir pantai. Mereka saling bertukar cerita meski tak semua masa lalu Hisyam ia ceritakan.
"Om..."sapa Elang "Apa aku boleh bertanya?"
"Katakan lah." pinta Hisyam tanpa menatap Elang.
"Apa om pernah menikah?" tanya Elang yang begitu penasaran.
Hisyam menutup mata nya, menarik nafas kemudian ia mulai bercerita. "Sejak menghilang nya kedua orang tua mu, aku sangat kacau hidup ku berantakan bahkan aku begitu terpuruk dengan penuh penyesalan. Di saat itu datang seorang wanita yang selalu setia menemani ku bahkan dia rela melakukan apa pun untuk ku. Singkat cerita kami menikah dan memiliki anak perempuan yang sangat cantik, namun karena aku tak bisa melupakan Gita akhir nya dia memilih untuk pergi. kau tahu Elang, sejak saat itu aku benar-benar sangat membenci diri ku Gita pergi istri dan anak ku juga pergi dan entah lah di mana mereka sekarang bahkan aku dan dia tidak pernah ada kata cerai." tutur nya, wajah sedih kembali menghiasi pria iti.
"Kalau Elang boleh tahu, siapa nama istri dan anak om?"
"Istri ku bernama Laras dan anak ku bernama Lintang Anjari."
Deg....jantung Elang tiba-tiba berdetak tak karuan.
"Kamu kenapa?" tanya Hisyam bingung.
__ADS_1
"Elang punya teman masa kecil yang nama nya persis dengan nama anak om bahkan nama ibu nya juga. Dia memang lebih mudah dari ku beberapa tahun tapi kami sangat akrab."
"Apa kamu yakin?" Kini Hisyam yang semakin penasaran.
"Yakin om, mereka kemudian pindah ke kota S karena ibu nya mendapatkan tawaran kerja di sana. Dan sampai sekarang Elang belum pernah lagi berjumpa dengan Lintang."
"Apa kamu ada foto mereka?"
Bergegas Elang mengajak Hisyam untuk pulang, meski berjalan dengan sedikit tertatih namun jiwa penasaran nya membuat ia tak menghiraukan kaki nya lagi.
Elang membongkar sebuah nakas yang sudah lama terkunci, ia mengambil kotak yang berukuran sedang. Elang mencari satu persatu potret lawas yang masih ia simpan.
"Ini om, ini foto saat Rindu ulang tahun bahkan selisih umur nya dengan Rindu hanya satu tahun setengah." ujar Elang, menyodorkan selembar potret keluarga nya juga bersama beberapa orang orang di dalam nya.
"Om kenapa? apa mereka........?"
"Mereka istri dan anak ku." ucap nya kemudian terisak "Katakan lah kalau aku ini pria yang jahat pria yang kejam." ujar nya lalu duduk tersimpuh di lantai dingin.
Rindu yang mendengar suara tangis Hisyam langsung menghampiri mereka, namun di cegah oleh Elang.
"Bantu aku mencari mereka Elang." pinta Hisyam "Aku ingin meminta maaf tapi aku merasa tak pantas untuk bertemu mereka."
"Jangan berkata seperti itu om, setiap manusia tak luput dari dosa."
__ADS_1
Hisyam hanya memandang ke foto yang di ambil dua puluh tahun lebih yang lalu. Pria itu kembali tenggelam dengan penyesalan.
"Setelah bertemu kalian, aku merasa sedikit tenang karena persaan bersalah ku pada Narendra membuat ku hidup tersiksa. Tapi ketahui lah, Hidup ku ini penuh dengan penyesalan, aku di tinggal dengan orang-orang yang sangat sayang dan peduli pada ku."
"Apa pun masa lalu om, itu adalah masa lalu om dengan orang tua kami. Kami sebagai anak tak bisa ikut campur dengan semua nya."
"Bantu aku mencari mereka." pinta nya sekali lagi.
"Aku juga merindukan Lintang om, nanti setelah aku sembuh kita cari sama-sama."
Hisyam tak henti nya mengucapkan terimakasih, bahkan ia sampai berlutut meminta bantuan Elang.
Dari balik pintu, Rindu yang mendengar kan pembicaraan kakak nya dan Hisyam mereka penasaran dengan wanita yang bernama Lintang. "Siapa Lintang?" batin Rindu penasaran "Ah...besok aku harus tanya dengan kakak." lirih nya kemudian kembali ke kamar nya.
Terimakasih sudah mampir ke karya oppa,
mohon maaf jika ada Typo
Oppa tunggu kritik dan saran dari para pembaca karya oppa๐๐
Jangan lupa Like Rate Coment and Vote karya Oppa ya๐๐
Karena Vote kalian semangat oppa๐
__ADS_1