Sebatas Senja Aku Menunggu

Sebatas Senja Aku Menunggu
66.Kehilangan


__ADS_3

Pagi menjelang, semua orang masih berada di ruang rawat menunggu Rindu siuaman. Lintang dan Laras yang baru saja tiba merasa kan kesedihan juga. Chandra bahkan tak mau jauh sejengkal pun dari sang istri.


"Chan, kita bicara sebentar." Elang dengan wajah penuh amarah.


Mereka berdua akhirnya keluar, "Ada apa?" tanya Chandra lesu.


"Lo tahu siapa yang udah buat Rindu celaka?" tanya Elang dan Chandra hanya menggeleng. "Cctv menangkap wajah Arana yang dengan sengaja menyandung kaki Rindu." jelas Elang.


Chandra mengusap wajah nya lalu meninju tembok yang ada di samping nya, "Gue yakin pasti ibu nya Bayu juga ada disitu." ucap Chandra lalu terduduk lemas. "Arana tak pernah tahu jika gue punya usaha di sini."


"Gue udah lapor polisi." ucap Elang lalu masuk kembali.


Ingin rasa nya Chandra berteriak namun ia tahan, pria itu kemudian masuk kedalam dan mendapati Rindu yang sudah sadar. Rindu menangis histeris karena kehilangan anak nya.


Chandra langsung memeluk istri nya yang mengamuk itu, semua orang berusaha menenangkan Rindu namun tetap saja wanita itu tak bisa tenang hingga di suntik obat bius kembali.


Samar-samar Rindu mendengar pembicaraan Chandra pada orang tua nya siapa yang telah menyebabkan diri nya celaka, setelah itu Rindu tertidur pulas kembali.


"Aku telah memanggil Bayu untuk datang kemari." ucap Elang.


Jam berganti jam namun Rindu belum juga sadar, Chandra bahkan menggenggam tangan istri nya memberi kekuatan. Hati nya sakit mana kala melihat Rindu bersedih.


"Mungkin kita belum berjodoh dengan nya." ucap lirih Chandra "Dia adalah jaminan kita di syurga nanti."

__ADS_1


Kini air mata yang belum kering mengalir kembali, Wulan bahkan sudah tak bisa lagi membendung air mata nya, wanita paruh baya itu memilih untuk keluar.


Namun tiba-tiba semua orang terkejut saat melihat Elang datang dengan menyeret Bayu masuk ke dalam ruangan Rindu.


"Kau lihat dia," ucap Elang menunjuk Rindu yang masih belum sadar "Akibat perbuatan mamah mu adik ku harus kehilangan anak yang mereka nantikan."


"Maksud nya apa? apa hubungan dengan mamah?" tanya Bayu tak mengerti.


Elang memperlihatkan rekaman saat Maya dan Arana berada di hotel milik Chandra, "Ibu mu harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan nya." ucap Elang emosi, Lintang yang tak pernah melihat Elang emosi mencoba menenangkan suami nya.


"Gak mungkin,..." ucap Bayu lalu menatap ke wajah pucat Rindu.


"Gue minta sama lo, cari nyokap lo dan antar dia ke kantor polisi karena mereka sudah meninggalkan kota ini."


Chandra hanya diam, pria itu tak bergeming sedikit pun melihat keributan yang ada di depan nya. Yang di pikir nya adalah Rindu, bagaimana cara ia menjelaskan ke istri nya.


"Rindu..." ucap nya lirih.


"Tinggalkan aku sendiri mas." pinta nya dengan suara serak.


"Ku mohon jangan seperti ini, bukan hanya kau yang kehilangan tapi aku juga."


"Pergi lah mas, jika bukan karena mantan mu aku tak akan seperti ini."

__ADS_1


Chandra kaget mendengar ucapan istri nya, pria itu tak bisa lagi berkata-kata selain memohon maaf.


"Aku butuh sendiri mas, kehilangan ini jauh lebih menyakitkan ku." ujar Rindu terisak.


"Aku juga kehilangan, kau tahu jika aku selalu menanti kehadiran nya."


"Aku butuh waktu sendiri." lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut Rindu, wanita itu bahkan tak menatap sedikit pun wajah gundah suami nya. Demi kebaikan istri nya, Chandra memilih untuk keluar. Di luar, semua orang merasa kaget melihat Chandra yang menangis sesegukan.


"Ada apa Chan?" tanya Wulan panik.


"Rindu mah, Rindu membenci ku." ucap nya lalu jatuh ke pelukan sang ibu "Semua gara-gara Arana, lalu Rindu membenci ku."


Tama dan Wulan menguatkan Chandra, Elang yang melihat keadaan Chandra langsung masuk ke dalam ruangan menghampiri adik nya yang sedang menangis. Elang memeluk adik nya, ada rasa perih yang tersayat di hati pengantin baru itu.


"Bukan salah suami." ucap Elang "Jangan salahkan dia, dia juga kehilangan atas anak nya."


"Aku tak menyalahkan nya kak, hanya saja hati ku berkata aku butuh waktu untuk sendiri."


"Sudahlah Rindu ikhlaskan, mungkin belum rezeki siapa tahu besok Tuhan kasih lebih."


Semakin dalam isak Rindu, wanita itu bahkan tak kuasa membawa diri, kesedihan kedukaan menjadi satu menyayat hati memberi luka mendalam untuk kenangan.


Terimakasih sudah mampir dan membaca karya oppa, terimakasih juga sudah Like Rate Coment and Vote karya oppa.

__ADS_1


Jangan lupa Like Rate Coment Vote karya oppa "Sebatas Senja Aku Menunggu" karena Vote kalian adalah semangat oppa😘


Salam hangat dari oppa untuk kalian para pembaca karya oppa😘


__ADS_2