
Aku berharap bisa mendengar siul burung bersama mu,
Aku berharap bisa merasakan angin bersama mu,
Aku berharap kita bisa berdua berpeluk mesra di sepanjang senja.
Wahai jingga, tolong jadi saksi di antara cinta yang belum menyata.
"Apa yang ingin kau jelaskan mas?" tanya datar Laras pada pria yang baru saja datang bertamu ke rumah nya.
"Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat." ajak nya lirih.
"Aku tak mau." jawab nya ketus.
"Ku mohon, kau hanya mengetahui semua nya dengan sekilas tanpa pernah mengetahui awal dari masalah."
"Lalu, kenapa kau tak pernah menceritakan nya dulu pada ku?" tanya Laras dengan tatapan mata tajam.
"Ku mohon Laras, aku tak ingin mati dalam penyesalan." mohon Hisyam.
Laras terdiam mendengar ucapan Hisyam, sesengguh nya mereka belum resmi bercerai. Laras lah yang meninggalkan Hisyam saat Laras dan Lintang merasa di acuhkan oleh Hisyam.
"Ikutlah dengan ku Laras." ajak Hisyam sekali lagi.
"Baiklah." jawab nya pelan.
Mereka mulai pergi, mereka hanya jalan kaki tak terlalu jauh, hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk berjalan.
"Kenapa kau mengajak ku kesini?" tanya Laras bingung saat Hisyam mengajak nya ke kuburan.
__ADS_1
Hisyam tak menjawab, ia terus berjalan hingga ia berhenti tepat di makam yang di tumbuhi rumput hijau.
"Makam siapa ini?" tanya Laras.
"Duduk lah." pinta Hisyam dan Laras duduk tetap di sebrang Hisyam.
"Dia lah Gita." ucap Hisyam lirih "Dan ini Narendra, mereka orang tua Elang dan Rindu." jelas nya.
"Lalu apa hubungan nya dengan ku?" tanya Laras semakin tak mengerti.
"Dia lah Gita, orang yang pernah aku cintai sebelum diri mu." tutur Hisyam, Laras terkejut bukan main saat mendengar ucapan Hisyam.
"Jangan bercanda, kau pasti bohong." ujar Laras.
Hisyam lalu menjelaskan semua tentang masa lalu nya, pria itu sesekali terisak dengan pilu di atas makam Gita dan Narendra.
Begitu juga dengan Laras, wanita itu juga mengeluarkan air mata.
"Meraka tahu, tapi mereka anak yang baik, mereka memaafkan ku."
"Jika dari awal kau menceritakan semua nya pada ku, tak mungkin aku dan Lintang menjadi seperti ini."
"Maafkan aku." ucap Hisyam dengan tangis nya, bahkan ia tak henti nya meminta maaf pada Laras.
Hari semakin sore, Hisyam mengajak Laras pulang, mereka berjalan masing-masing karena mereka tak ingin ada fitnah.
Sesampainya di rumah, Laras menumpahkan semua air mata juga kesedihan nya di dalam kamar. Lintang yang baru saja pulang kaget saat mendengar suara tangis mamah nya.
"Mamah kenapa?" tanya Lintang panik "Mamah bilang ama Lintang siapa yang menyakiti mamah.''
__ADS_1
Laras langsung memeluk anak nya, ia bahkan tak bisa berucap saat anak nya memberi pertanyaan. Lintang menenangkan Laras, gadis itu sudah panik luar biasa.
"Sekarang mamah minum dulu biar tenang." ujar Lintang sambil menyodorkan segelas air putih.
"Terimakasih." ucap Laras lalu menyeka air mata nya. Laras kemudian menceritakan semua yang Hisyam ceritakan.
"Sudahlah mah, yang berlalu biarlah berlalu."
"Tapi mamah sangat berdosa telah memisahkan mu dengan papah mu."
"Lintang gak marah, justru sekarang Lintang bahagia karena semua nya sudah terbuka."
"Jadi mamah harus bagaimana?"
"Apa mamah masih mencintai papah?" tanya Lintang.
Laras terdiam, wanita itu sedang menimbang isi hati dan perasaan nya saat ini.
"Mah, apa mamah masih mencintai papah?" tanya Lintang sekali lagi.
"Kamu mau nya bagaimana?" tanya balik Laras.
"Lintang hanya ingin punya keluarga yang lengkap, punya mamah dan papah."
"Maafkan mamah nak." ujar Laras merangkul anak nya kembali.
Lintang saat ini sedang menyakinkan hati mamah nya, ia juga mengerti jika permasalahan di antara ke dua orang tua nya hanya lah kurang keterbukaan antara pasangan saja.
Terimakasih sudah mampir dan membaca karya oppa, terimakasih juga sudah Like Rate Coment and Vote karya oppa.
__ADS_1
Jangan lupa Like Rate Coment Vote karya oppa "Sebatas Senja Aku Menunggu" karena Vote kalian adalah semangat oppa😘
Salam hangat dari oppa untuk kalian para pembaca karya oppa😘