
Di sebuah puncak gunung, tepatnya di tengah tengah pulau besar, yang berada di tengah tengah Danau Teratai Putih, terlihat beberapa hiasan mewah dan megah, dengan sebuah meja besar membentang, dikelilingi oleh puluhan kursi, dengan beberapa meja kecil dan juga beberapa kursi terpisah.
Di tanah paling tinggi di puncak gunung itu, tersimpan 3 kursi besar yang juga mewah dan megah, telah duduk 3 orang tua yang sangat di hormati, disegani, bahkan di takuti di seluruh Benua Bumi Selatan ini.
Seluruh orang yang berada di setiap sudut pulau berbondong bondong dengan tertib berjalan menuju Gunung Teratai Putih itu, beberapa orang terlihat terbang dengan perlahan berangkat ke gunung itu.
Li Xuan yang memang belum bisa memakai Qi nya untuk terbang memilih untuk berjalan kaki saja, jika harus mengeluarkan peliharaannya, hanya akan membuat keributan yang tidak perlu, juga hanya akan menonjolkan dirinya saja.
" Benar benar pulau yang indah, " gumam Li Xuan saat berjalan di pulau itu menuju ke Gunung Teratai Putih.
Saat sedang berjalan jalan perlahan menuju gunung itu, tiba tiba dari arah belakang ada yang tiba tiba menepuk pundak lalu memanggilnya.
" Amithaba.. Salam Saudara Li, amithaba.. " ucap seorang pemuda botak dari belakang Li Xuan.
" Ku kira siapa, ternyata kau Saudara Sheng? Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu? " ucap Li Xuan sambil membalikkan badannya.
" Amithaba.. Setelah hari itu tubuhku semakin kuat dan menjadi sangat baik baik saja, amithaba.. " ucap Sheng Liu.
" Kau ini masih saja amithaba amithaba Saudara Amithaba, haha.. " balas Li Xuan dengan candaannya.
" Amithaba.. Ini bentuk doa yang harus selalu diucapkan oleh kami sebagai biksu dalam setiap percakapan Saudara Li, amithaba.. " ucap Sheng Liu.
" Amithaba.. Jadi seperti itu Saudara Sheng, amithaba.. " goda Li Xuan sambil meniru gaya Sheng Liu.
" Saudara Li! " ucap Sheng Liu dengan wajah sedikit kesal.
" Hah! Kau tidak mengucapkan amithaba, haha.. " Li Xuan tertawa terpingkal pingkal, bahkan beberapa orang yang lalu lalang sedikit melihat mereka berdua dengan mata sinisnya.
__ADS_1
" Amithaba.. Amithaba.. Ini gara gara dirimu Saudara Li, pertama aku menjadi lupa mengucapkan amithaba, dan beberapa orang jadi melihat kita, untung mereka mengetahui latar belakang ku, kalau tidak akan memjadi masalah Saudara Li, Amithaba.. Amithaba.. " ucap Sheng Liu.
" Haha.. Baiklah baiklah, maafkan aku sebelumnya Saudara Sheng, aku hanya bercanda, namun kau memang benar benar lucu Saudara Sheng, haha.. " ucap Li Xuan masih dengan posisi sedikit tertawa.
Saat keduanya sedang berbincang dan bercanda ringan, tiba tiba seorang anak muda lain datang menghampiri,
" Saudara Sheng? Dan juga? Ternyata Tuan muda Li Xuan, hormat pada murid sang Emperor! " ucap anak muda itu sambil berpura pura membungkukkan badannya.
" Saudara Jian? Apa apaan kau ini, dan juga stt.. jangan berbicara terlalu keras, bisa bisa aku tak bisa naik ke atas kalau begitu, " ucap Li Xuan sambil berbisik.
" Haha.. Baiklah baiklah maafkan aku Saudara Li, sebelumnya bagaimana kabarmu? Dan juga bagaimana perjalanan mu? " tanya Jian Shutian.
" Ya begitulah Saudara Jian, mungkin sedikitnya kau pun tau bagaimana jika seorang kultivator tingkat rendah mencoba berkelana di Benua Bumi Selatan ini? " ucap Li Xuan.
" Ngomong ngomong.. Ternyata kau sudah tidak se arogan dulu saat kita bertemu ya? Haha.. " goda Li Xuan.
" Saudara Li, bisakah kau lupakan itu, bahkan saat turnamen antar jenius pun aku sudah berubah kau tau? Pertarungan hebat mu melawan sang jenius aliran Hitam Heise Qian membuat ku dapat membuka dunia baru yang bahkan sepertinya tak dapat ku jangkau, "
" Kau terlalu melebih lebih kannya Saudara Jian, bahkan aku pun tau, saat itu jika kau sudah bisa menggunakan jurus pamungkas yang kau keluarkan saat turnamen, kau oun busa mengalahkannya, janganlah selalu dibiasakan untuk merendah Saudara Jian, " balas Li Xuan.
" Amithaba.. Apakah kalian sudah selesai berbincang? Semua orang telah berpindah ke gunung itu, dan kita? Masih disini saja, ayo bergegas, apalagi kau Saudara Li, guru mu mungkin sedang menunggu mu, amithaba.. " ucao Sheng Liu.
" Ahh.. Aku sampai lupa, baiklah ayo kita bergegas, " ucap ketiganya lalu berlari menuju ke Gunung Teratai Putih.
**
Di puncak gunung, beberapa tamu mulai berdatangan, dan mengucap selamat serta memberikan beberapa hadiah pada sang Pill Emperor ( Kaisar Obat ), setelahnya mereka mulai menempati tempat tempat yang telah di sediakan.
__ADS_1
" Selamat hari lahir yang ke 900 tahun yang terhormat senior Yao Lao! Sejak dulu bahkan saat saya kecil, kakek saya selalu menceritakan kehebatan anda, bahkan saat dengan kakek buyut saya, "
" Haha.. Terima kasih terima kasih junior Jian Wang, kakek mu ya, dulu saat si muda Wusheng itu aku sudah beberapa ratus tahun lebih tua daripada dirinya, dan bahkan dengan si Tua Toufeng, haha.. Aku jadi lebih sedikit bernostalgia, "
" Apakah ayah mu si junior Tian itu datang kesini juga? " ucap Yao Lao.
" Ya senior, mungkin beliau sedang meniati keindahan pulau ini terlebih dahulu, " ucap Jian Wang dengan penuh hormat.
" Ohh jadi begitu.. Baiklah baiklah, terima kasih, kau bisa duduk di tempat yang sudah ku sediakan, silahkan untuk menikmati jamuannya, " ucap Yao Lao melihat antrian yang masih sangat panjangnya.
" Baik terima kasih senior.. " ucap Jian Wang lalu bergerak menjauh menghampiri kursi yang sudah disediakan bagi rombongannua.
berapa kursi di meja besar sudah hampir terisi penuh, namun Yao Lao, Taiyang Huo, dan juga Luo Fengtian masih dengan cemas memikirkan Li Xuan yang belum juga datang.
Semua kursi sudah terlihat mulai penuh, meja besar terlihat sesak karena semua kursinya telah di duduki, yang masih mengantri satu persatu di tangani oleh Yao Lao sebagai pemilik acara itu sendiri.
Yang sedang mabuk ditemani oleh Taiyang Huo, dan yang suka berbincang di ambil alih oleh Luo Fengtian.
" Yang mulia senior Luo Fengtian, yang muda ini hanya ingin bertanya, apakah benar rumor yang beredar itu? Senior Yao Lao berniat mengambil murid? " ucap salah satu orang tua yang duduk di kursi dengan meja yang besar membentang.
Sontak semua orang yang mendengar itu diam, bahkan Yao Lao yang sedang menanggapi para tamu yang memberinya selamat pun ikut diam, para tamu yang sedari tadi bergiliran memberi selamat pun ikut diam dibuatnya.
" Emm.. Saya hanya mewakili semua orang yang ada disini, bukankah begitu? Juga kami hanya ingin sekedar mengenalnya, bukankah tidak sopan bila gurunya sedang berulang tahun, muridnya bahkan tidak hadir disini, " ucap orang tua itu.
" Junior Zui Zihao ke 98, kau meragukan murid dari temanku? " ucap Luo Fengtian dengan nada sedikit kesal.
Semua yang mendengar tiba tiba merasakan perasaan yang tidak enak,
__ADS_1
" Tidak tidak senior maksudku bukan seoerti itu, bukankah seorang murid itu adalah kebanggaan seorang gurunya? Kenapa dia tidak ada disini? Bahkan kursi kehormatan itu pun hanya di sediakan tiga untuk kalian saja? " ucap Zui Zihao ke 98 itu.
" Mungkin maksud anda murid yang tidak bisa membanggakan gurunya? Atau guru yang menyesal karena telah mengangkat murid seseorang yang tidak berbakat, lalu menyembunyikannya agar tidak diketahui publik, mungkin maksud anda seperti itu senior? "