
Dirga juga ikut membantu mereka.
Pelanggan hari ini sangat ramai , jadinya mereka bekerja keras untuk melayani pelanggan dengan baik.
Sesudahnya para pelanggan habis
" Hah , akhirnya. Sepi juga "
Rio membuka obrolan
" Hari ini sangat ramai , memang lagi rezeki ya mas "
" iya "
Karena penasaran dengan kartu yang diberikan oleh Pak Abdul , Dirga pergi ke mesin ATM untuk melihat isi dari kartu tersebut. Ia sangat terkejut dengan isinya yang berupa uang sebesar 2 miliar.
" Haish , ada-ada saja Om Abdul ini "
Gumamnya dalam hati
Ia mengambil kartunya dan kembali bekerja.
" Lagi ngapain mas di ATM? "
" tidak. Tidak apa...lihat ada pembeli "
Putri buru-buru ke meja kasir dan melayani pelanggan. Seusainya bekerja , mereka bertiga pergi ke tempat makanan kece untuk makan malam. Hari ini jadwalnya Boyeng yang kerja di sana , ini membuat Rio jadi tidak semangat makan karena tidak ada Tasya.
" Yang sabar " ucap Dirga sembari menepuk pundak Rio.
" Hah , gini amat yah "
" Haha , nanti aku bilangin ke Tasya lho , mas Rio "
" Jangan dong , malu. Takut di tolak "
Boyeng pun datang dan menanyakan pesanan mereka. Melihat wajah Rio yang cemberut , ia pun bertanya.
" lu kenapa bang Rio? "
" Liat muka lu , jadi ga semangat "
" Lah , salah saya dimana bang. Yaudah mau pesan apa? "
Mereka pun memesan makanan masing-masing. Seusai makan , mereka pulang kerumahnya masing-masing untuk beristirahat. Di gudang pak RT , Dirga sedang memikirkan sesuatu. Dan setelah beberapa jam dia pun memutuskan.
" Baiklah , aku akan membeli rumah yang lebih besar di desa ini dan menjadi warga desa "
Gumamnya
" Aku akan mengurusnya besok "
Keesokan harinya. Dirga pergi ke rumah pak RT untuk berbicara.
Ia mengetuk pintu rumah pak RT
Tok. Tok. Tok.
" Assalamualaikum pak RT "
" Waalaikumsalam nak Dirga.
Ayo masuk dulu "
Mereka berdua masuk
" jadi apa nak Dirga pagi-pagi gini "
__ADS_1
" ini pak. Saya mau jadi penduduk desa Curuguyang. Bisa pak RT? "
" Bisa nak. Kita bisa urus di balai desa. Atau nanti saya yang urus kamu tinggal kasih data diri kamu "
" Baik pak , terimakasih. Dan saya juga mau beli rumah pak. Insyaallah saya akan pindah hari ini. Terimakasih atas bantuannya bapak yang telah meminjamkan tempat tinggal sementara buat saya "
" Oh , bagus itu. iya sama-sama "
" Baiklah pak , saya pamit dulu. Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam. Hati-hati
di jalan nak Dirga "
Dirga pun keluar dari rumah pak RT. Di perjalanan ia teringat dengan nama pak RT dan Ayahnya Sudarta. namanya hampir mirip.
" Hm. Betul juga , nama mereka sama-sama Abdul Darta. Namun kalau om Abdul ada Wijayanya sedang pak RT hanya Abdul Darta.
Ck Ck ck. Sungguh kebetulan yang aneh " Gumamnya.
Ia pergi ke warung Bu Wati untuk sarapan terlebih dahulu. Disana sudah ada Rio yang sedang menyeruput kopi. Dirga menyapanya
" Assalamualaikum Rio "
" Waalaikumsalam bang , sarapan dulu bang "
" iya. Bu Wati , yang biasa satu~ "
" siap dek "
Dirga menunggu pesanannya sambil membicarakan rumah yang sedang di jual di Curuguyang ini bersama Rio
" Rio , disini ada rumah yang lagi di jual ga?.
yang lumayan besar buat tinggal "
tanya Dirga kepada Rio
jelas Rio
" Oh , baiklah. Nanti antar aku kesana , mumpung lagi libur ini "
" iya dah bang , setelah sarapan saya antar "
Setelah itu Bu Wati menyuguhkan pesanan yang Dirga pesan. Ia memakannya dengan lahab. Setelah selesai , ia dan Rio pun berjalan menuju rumah yang di jual tersebut.
Karena mereka melewati halaman rumah Putri , Dirga melihat Putri yang sedang membantu ibunya menjemur pakaian.
Dirga dan Rio menyapanya.
" Assalamualaikum Bu "
ucap mereka berdua serentak.
" Waalaikumsalam dek Dirga , dek Rio "
" Waalaikumsalam mas Dirga , mas Rio "
Mereka mengobrol sebentar disana. Setelah beberapa menit , Rio dan Dirga berpamitan dengan mereka.
" Bu , mbak Putri. Saya duluan ya "
ucap Dirga
" Iya mas , hati-hati dijalan "
" iya dek hati-hati "
__ADS_1
Dirga dan Rio pun melanjutkan perjalanannya ke rumah yang dijual itu. Sesampainya di sana , rumah itu lumayan besar dan halamannya juga luas. Di pagarnya tertempel selembar kertas yang menampilkan nomor telepon pemilik rumah.
" Bang , nih nomor penjual rumahnya "
" pake hp lu aja , aku belum beli hp "
" Yah , Gimana sih. Yaudah dah "
Rio menelpon pemilik rumah tersebut.
Setelah beberapa menit akhirnya penjual mengangkat telponnya.
[ penjual ]
Halo , siapa ini?
[ Rio ]
Halo pak , teman saya mau beli rumah yang dipertigaan jalan Udang
[ Penjual ]
Baik mas , saya akan kesana sekarang
[ Rio ]
Baik pak , kami tunggu di sini
Rio menutup telponnya dan menunggu bersama Dirga.
Tak membutuhkan waktu yang lama , penjual rumah pun datang dengan membawa sebuah tas berisi surat rumah dan berkas-berkas lainnya.
Ia berjalan kearah Dirga dan Rio.
" Permisi mas , yang mau beli rumah siapa yah? "
tanya penjual
" Saya mas , nama saya Dirga Prananda "
" oh , saya Radja Hartono , pemilik rumah ini , mas bisa langsung transfer ke rekening saya. Ini berkas-berkas. Tinggal tandatangan dan beres. "
jelasnya sembari memberikan berkas-berkas tersebut.
" baik pak terimakasih "
" disana juga tertulis nomor rekening saya. Harga juga tercantum disana. Kalau begitu saya permisi dulu mas-mas sekalian "
" baik pak , terimakasih "
" hmm mencurigakan , terlalu terburu-buru "
pikir Dirga.
Setelah menandatangani berkas dan memberikannya kepada Pak Radja , Dirga dan Rio masuk ke rumah tersebut. Mengecek properti yang masih bagus , hanya agak berdebu karena tidak di tinggali.
" hm , bagus ternyata "
ucap Dirga.
" Bang , Abang ga curiga tadi pak Radja terburu-buru? "
" curiga sih , tapi ya sudahlah biarkan "
" iya sih , tho rumahnya juga bagus , hanya tinggal beres-beres doang "
Mereka membereskan rumah tersebut sampai malam hari pun tiba. Rio berpamitan dengan Dirga untuk pulang , sedangkan Dirga pergi ke gudang pak RT untuk mengambil barang-barangnya yang tidak banyak juga.
__ADS_1
Saat sedang membereskan barang , ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Saat di lirik , ada seseorang yang sekelibat lewat.
Dia tidak memperdulikannya dan lanjut membereskan barang. Setelahnya , ia pergi tidur.