Sebuah Kehidupan

Sebuah Kehidupan
Rumah Baru


__ADS_3

Dirga juga ikut membantu mereka.


Pelanggan hari ini sangat ramai , jadinya mereka bekerja keras untuk melayani pelanggan dengan baik.


Sesudahnya para pelanggan habis


" Hah , akhirnya. Sepi juga "


Rio membuka obrolan


" Hari ini sangat ramai , memang lagi rezeki ya mas "


" iya "


Karena penasaran dengan kartu yang diberikan oleh Pak Abdul , Dirga pergi ke mesin ATM untuk melihat isi dari kartu tersebut. Ia sangat terkejut dengan isinya yang berupa uang sebesar 2 miliar.


" Haish , ada-ada saja Om Abdul ini "


Gumamnya dalam hati


Ia mengambil kartunya dan kembali bekerja.


" Lagi ngapain mas di ATM? "


" tidak. Tidak apa...lihat ada pembeli "


Putri buru-buru ke meja kasir dan melayani pelanggan. Seusainya bekerja , mereka bertiga pergi ke tempat makanan kece untuk makan malam. Hari ini jadwalnya Boyeng yang kerja di sana , ini membuat Rio jadi tidak semangat makan karena tidak ada Tasya.


" Yang sabar " ucap Dirga sembari menepuk pundak Rio.


" Hah , gini amat yah "


" Haha , nanti aku bilangin ke Tasya lho , mas Rio "


" Jangan dong , malu. Takut di tolak "


Boyeng pun datang dan menanyakan pesanan mereka. Melihat wajah Rio yang cemberut , ia pun bertanya.


" lu kenapa bang Rio? "


" Liat muka lu , jadi ga semangat "


" Lah , salah saya dimana bang. Yaudah mau pesan apa? "


Mereka pun memesan makanan masing-masing. Seusai makan , mereka pulang kerumahnya masing-masing untuk beristirahat. Di gudang pak RT , Dirga sedang memikirkan sesuatu. Dan setelah beberapa jam dia pun memutuskan.


" Baiklah , aku akan membeli rumah yang lebih besar di desa ini dan menjadi warga desa "


Gumamnya


" Aku akan mengurusnya besok "


Keesokan harinya. Dirga pergi ke rumah pak RT untuk berbicara.


Ia mengetuk pintu rumah pak RT


Tok. Tok. Tok.


" Assalamualaikum pak RT "


" Waalaikumsalam nak Dirga.


Ayo masuk dulu "


Mereka berdua masuk


" jadi apa nak Dirga pagi-pagi gini "

__ADS_1


" ini pak. Saya mau jadi penduduk desa Curuguyang. Bisa pak RT? "


" Bisa nak. Kita bisa urus di balai desa. Atau nanti saya yang urus kamu tinggal kasih data diri kamu "


" Baik pak , terimakasih. Dan saya juga mau beli rumah pak. Insyaallah saya akan pindah hari ini. Terimakasih atas bantuannya bapak yang telah meminjamkan tempat tinggal sementara buat saya "


" Oh , bagus itu. iya sama-sama "


" Baiklah pak , saya pamit dulu. Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam. Hati-hati


di jalan nak Dirga "


Dirga pun keluar dari rumah pak RT. Di perjalanan ia teringat dengan nama pak RT dan Ayahnya Sudarta. namanya hampir mirip.


" Hm. Betul juga , nama mereka sama-sama Abdul Darta. Namun kalau om Abdul ada Wijayanya sedang pak RT hanya Abdul Darta.


Ck Ck ck. Sungguh kebetulan yang aneh " Gumamnya.


Ia pergi ke warung Bu Wati untuk sarapan terlebih dahulu. Disana sudah ada Rio yang sedang menyeruput kopi. Dirga menyapanya


" Assalamualaikum Rio "


" Waalaikumsalam bang , sarapan dulu bang "


" iya. Bu Wati , yang biasa satu~ "


" siap dek "


Dirga menunggu pesanannya sambil membicarakan rumah yang sedang di jual di Curuguyang ini bersama Rio


" Rio , disini ada rumah yang lagi di jual ga?.


yang lumayan besar buat tinggal "


tanya Dirga kepada Rio


jelas Rio


" Oh , baiklah. Nanti antar aku kesana , mumpung lagi libur ini "


" iya dah bang , setelah sarapan saya antar "


Setelah itu Bu Wati menyuguhkan pesanan yang Dirga pesan. Ia memakannya dengan lahab. Setelah selesai , ia dan Rio pun berjalan menuju rumah yang di jual tersebut.


Karena mereka melewati halaman rumah Putri , Dirga melihat Putri yang sedang membantu ibunya menjemur pakaian.


Dirga dan Rio menyapanya.


" Assalamualaikum Bu "


ucap mereka berdua serentak.


" Waalaikumsalam dek Dirga , dek Rio "


" Waalaikumsalam mas Dirga , mas Rio "


Mereka mengobrol sebentar disana. Setelah beberapa menit , Rio dan Dirga berpamitan dengan mereka.


" Bu , mbak Putri. Saya duluan ya "


ucap Dirga


" Iya mas , hati-hati dijalan "


" iya dek hati-hati "

__ADS_1


Dirga dan Rio pun melanjutkan perjalanannya ke rumah yang dijual itu. Sesampainya di sana , rumah itu lumayan besar dan halamannya juga luas. Di pagarnya tertempel selembar kertas yang menampilkan nomor telepon pemilik rumah.


" Bang , nih nomor penjual rumahnya "


" pake hp lu aja , aku belum beli hp "


" Yah , Gimana sih. Yaudah dah "


Rio menelpon pemilik rumah tersebut.


Setelah beberapa menit akhirnya penjual mengangkat telponnya.


[ penjual ]


Halo , siapa ini?


[ Rio ]


Halo pak , teman saya mau beli rumah yang dipertigaan jalan Udang


[ Penjual ]


Baik mas , saya akan kesana sekarang


[ Rio ]


Baik pak , kami tunggu di sini


Rio menutup telponnya dan menunggu bersama Dirga.


Tak membutuhkan waktu yang lama , penjual rumah pun datang dengan membawa sebuah tas berisi surat rumah dan berkas-berkas lainnya.


Ia berjalan kearah Dirga dan Rio.


" Permisi mas , yang mau beli rumah siapa yah? "


tanya penjual


" Saya mas , nama saya Dirga Prananda "


" oh , saya Radja Hartono , pemilik rumah ini , mas bisa langsung transfer ke rekening saya. Ini berkas-berkas. Tinggal tandatangan dan beres. "


jelasnya sembari memberikan berkas-berkas tersebut.


" baik pak terimakasih "


" disana juga tertulis nomor rekening saya. Harga juga tercantum disana. Kalau begitu saya permisi dulu mas-mas sekalian "


" baik pak , terimakasih "


" hmm mencurigakan , terlalu terburu-buru "


pikir Dirga.


Setelah menandatangani berkas dan memberikannya kepada Pak Radja , Dirga dan Rio masuk ke rumah tersebut. Mengecek properti yang masih bagus , hanya agak berdebu karena tidak di tinggali.


" hm , bagus ternyata "


ucap Dirga.


" Bang , Abang ga curiga tadi pak Radja terburu-buru? "


" curiga sih , tapi ya sudahlah biarkan "


" iya sih , tho rumahnya juga bagus , hanya tinggal beres-beres doang "


Mereka membereskan rumah tersebut sampai malam hari pun tiba. Rio berpamitan dengan Dirga untuk pulang , sedangkan Dirga pergi ke gudang pak RT untuk mengambil barang-barangnya yang tidak banyak juga.

__ADS_1


Saat sedang membereskan barang , ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Saat di lirik , ada seseorang yang sekelibat lewat.


Dia tidak memperdulikannya dan lanjut membereskan barang. Setelahnya , ia pergi tidur.


__ADS_2