
Tak lupa Dirga menelpon Ali Halim [ Polisi senior ] untuk menangani kasus penculikan ini.
Tuuuut. Tuuuut
[ Dirga]
Halo pak?
[ Ali ]
Halo , dengan siapa saya bicara?
[ Dirga ]
Saya Dirga pak. Saya ingin melaporkan para penculik yang menculik teman saya
[ Ali ]
Oh mas Dirga , baiklah. Dimana posisi mas Dirga sekarang? Saya akan segera kesana
[ Dirga ]
Saya berada di gedung seberang pusat perbelanjaan kota Purnamasari
[ Ali ]
Baik mas , saya akan kesana. Mohon kerjasamanya untuk penyelidikan
[ Dirga ]
Siap pak. Nanti bapak telpon balik saya saja. Soalnya sekarang saya mau membawa teman saya yang pingsan pergi ke kampus
[ Ali ]
oke mas , nanti saya telpon.
Ali menutup telpon tersebut.
Dirga mengangkat tubuh Putri pergi ke mobil untuk pulang ke kampus. Mereka sampai di kampus sekitar pukul 19:30 , Dirga membawa Tubuh Putri ke klinik kampus untuk di rawat sementara waktu.
" Sus , tolong rawat dia "
" baiklah , silahkan tunggu di kursi tunggu "
Dirga pun duduk dan menunggu kabar dari suster kampus yang merawat Putri. Setelah beberapa menit berlalu , akhirnya suster pun datang memberi kabar kepada Dirga
" Gimana sus keadaannya? "
" pacar kamu baik-baik saya , hanya kelelahan dan sekarang sudah sadar "
" baiklah suster , terimakasih "
" jaga pacarnya baik-baik yah " suster itu melambaikan tangan
" Iya suster...... tunggu....pacar!!? "
Dirga tak memikirkan hal itu dan langsung melihat keadaan Putri yang masih berada di atas kasur pasien.
" mbak Putri sudah tidak apa-apa kan? "
" iya mas , sudah tidak apa-apa kok. Loh kok di baju mas ada darah? "
" hanya luka kecil saja. maaf karena tidak bisa melindungi mu dengan baik "
" Tak perlu minta maaf kok mas , bukan salah mas juga. ayo , sudah malam. Lebih kembali ke asrama "
" baiklah. Ayo saya bantu "
Dirga membantu Putri berjalan menuju asrama putri untuk istirahat.
__ADS_1
" mbak istirahat dengan baik yah "
" iya mas , mas juga "
Setelah mengantar Putri ke asramanya , Dirga juga pergi pulang ke asrama putra untuk beristirahat. Daniel dan Rendi yang berada di kamar khawatir karena melihat bercak darah di baju Dirga.
" bos , kamu terluka? Siapa yang berani melakukan hal ini pada bos? "
" tidak ada. Hanya terlalu lama menggunakan insting mode mengintai "
" oooh , pantes aja. Aku saja hanya bisa menggunakannya 1 menit " ujar Daniel
" aku 1:50 menit " ucap Rendi
" bahkan Bang Royan pun yang hampir setingkat dengan bos , hanya bisa menggunakannya sekitar 5 menit saja "
" kalau aku hanya bisa menggunakannya sampai 10 menit " ucap Dirga
" Wow , hebat sekali kamu bos "
" sudahlah. Aku mau ganti baju dulu "
Dirga pun pergi ke kamar mandi untuk ganti baju sekalian membersihkan dirinya.
Keesokan harinya setelah menyelesaikan semua kelas , Dirga di telpon oleh Ali
[ Ali ]
Halo mas Dirga?
[ Dirga ]
Halo pak
[ Ali ]
Mohon untuk datang ke polres di perempatan blok b , dekat pusat perbelanjaan
[ Dirga ]
Dirga menutup telponnya dan langsung menuju polres yang di maksud oleh Ali menggunakan mobilnya. Sesampainya disana , ia memarkirkan mobilnya di area parkir.
Ia masuk ke polres tersebut dan berjumpa dengan Ali yang sudah menunggu Dirga bersama dengan seseorang yang badannya ideal tapi kekar seperti Dirga di sampingnya.
" Assalamualaikum pak Ali " sapa Dirga
" Waalaikumsalam , sini mas duduk ngopi dulu sebelum penyelidikan "
Dirga pun duduk. Ali menyuguhkan kopi kepada Dirga
" Nah mas Dirga , kenalin dulu ini namanya Pak Dayu Sandian. Seorang Irjenpol " Ali memperkenalkan Dirga kepada Dayu
" Salam kenal pak , nama saya Dirga Prananda. Seorang mahasiswa "
Mereka berbincang-bincang santai disana sambil menikmati kopi. Setelah puas ngobrol , mereka pun beralih ke topik utama.
Dayu langsung To the point
" Kenapa mereka bisa tak sadarkan diri saat Ali datang? "
" saya yang melawan mereka dengan cara menyerang dari belakang "
" bagaimana mereka bisa kalah begitu saja , padahal memiliki senjata api "
" mereka terlalu lengah saat itu , jadi saya dapat dengan mudah mengalahkan mereka "
" apakah kamu yang melucuti senjata mereka semua di lantai? "
" ya , itu saya "
__ADS_1
" hmm , cara ia melucuti senjata sama persis dengan pahlawan bayangan " pikir Dayu
Ia pun menanyakan pertanyaan lagi sampai malam hari tiba. Dirga tahu kalau Dayu mencurigakan Dirga sebagai pahlawan bayangan. Namun karena kurang bukti , jadi ia tidak bisa membuktikannya.
" apakah mereka sudah di interogasi pak Dayu? "
" sudah , namun mereka ini adalah profesional. Sangat susah untuk buka mulut... baiklah untuk hari ini segini saja dulu , kami akan tetap menghubungi kamu jika ada sesuatu "
" baiklah pak , saya izin pamit "
" iya. Hati-hati dijalan "
" iya pak. Assalamualaikum "
" waalaikumsalam "
Dirga pun kembali ke kampus menggunakan mobilnya. Saat hendak ingin menyalakan mobilnya , tiba-tiba ia di telpon oleh Nadila
[ Nadila ]
Assalamualaikum mas Dirga
[ Dirga ]
Waalaikumsalam. Ada apa mbak nelpon saya malam-malam begini
[ Nadila ]
Ini mas , Alumni kelas kita ngadain reunian untuk ngumpul-ngumpul santai. Mas bisa ikut ga?
[ Dirga ]
Bisa , kapan pertemuannya?
[ Nadila ]
Besok mas
[ Dirga ]
Ooh , mau sekalian di antar ga , mbak?
[ Nadila ]
tidak usah mas , ga enakan sama mbak Putri
[ Dirga ]
Yasudah , nanti Sherlock aja tempatnya
[ Nadila ]
Iya mas , assalamualaikum
[ Dirga ]
Waalaikumsalam
Dirga pun menutup telponnya dan menyalakan mesin mobilnya untuk pulang ke kampus. Sesampainya di kampus , Dirga langsung pergi ke asrama putra untuk membersihkan diri dan beristirahat karena besok akan menghadiri pertemuan alumni SMA.
Keesokan harinya , Dirga pergi mandi dan bersiap untuk berangkat ke lokasi yang sudah di kirimkan oleh Nadila. Ia pergi ke parkiran untuk menaiki mobilnya. Sebelum berangkat menuju tempat yang dimaksud , Dirga terlebih dahulu pergi ke tempat pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya yang tinggal sedikit.
" Dari nol ya mas "
" iya mbak "
Setelah mengisi ulang bahan bakar mobilnya , ia pun langsung berangkat ketempat yang di tuju. Yaitu taman Kaliageng di desa Seuring. Ia mengingat masa-masa SMA nya kembali. Pada saat itu , karena ayahnya Dirga berpesan untuk jangan menggunakan ilmu beladirinya untuk berbuat kejahatan.
Ia menuruti perintah dari ayahnya itu untuk menyembunyikan ilmu beladiri yang ia pelajari dari orang lain. Meski di buli , di hina dan ejek bahkan sampai di pukuli , Dirga hanya bersabar dengan memegang teguh perkataan ayahnya supaya jangan menggunakan ilmu beladiri untuk merugikan orang lain , gunakan ilmu beladiri untuk menjadi warga masyarakat yang baik.
__ADS_1
" Hah , memang masa-masa yang indah adalah masa di sekolah " ujarnya sambil menyetir mobil.