Sebuah Kehidupan

Sebuah Kehidupan
Dragon Fist


__ADS_3

Sesudahnya makan , Dirga pergi ke polres Purnamasari dengan menggunakan mobilnya tanpa sepengetahuan kakaknya. Tujuan Dirga untuk pergi ke polres adalah untuk menemui Dayu sekaligus menyusun rencana selanjutnya.


Sesampainya disana , Dirga memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam polres. Di ruang komputer , sudah ada Dayu , Falen dan juga Akil yang sedang melihat kearah komputer. Dirga menyapa mereka


" Assalamualaikum "


" waalaikumsalam "


Mereka semua sedang mengecek mobil penculik yang berhasil di lacak menggunakan GPS tracker yang Dirga pasang waktu di taman.


" Jadi , kemana mobil itu pergi? " tanya Dirga


" Tengah-tengah Antara Seuring dan Purnamasari "


" Wah , Jauh juga mereka membawanya "


" sepertinya markas mereka berganti lagi , mengingat kau telah menghancurkan fondasi utamanya "


" Ooo , aku tidak tau kalau labirin itu adalah fondasinya. Tapi bagaimana dengan Ketua geng naga itu? "


" Menurut penyelidikan reruntuhan , tidak di temukan mayat satupun , terlebih karena kita sudah membawa para anak buahnya ke dalam sel penjara "


" hm hm "


Setelah mengobrol sambil melihat komputer , mereka bertiga pergi ke tempat diskusi untuk mendiskusikan rencana selanjutnya.


Akil dan Falen sudah sangat tidak sabar untuk berperang.


" kalau sudah ketemu lokasinya , langsung gas aja "


" tidak boleh!! Aku takut Dirga terluka parah lagi "


" Jadi bagaimana sekarang? " tanya Akil


Mereka sibuk dengan pendapat masing-masing , ada yang ingin menyerang langsung dan juga ada yang sebaliknya.


Dirga hanya duduk manis mendengarkan pendapat mereka bertiga.


Sampai pada saat Falen meremehkan Dirga


" Udahlah , Dirga mah ga usah ikut. Nanti jadi beban "


Mendengar hal itu , Dayu pun emosi dan ingin menyebarkan menyebarkan identitas Dirga yang adalah seorang pahlawan Nasional.


" Kau!!! Dirga adalah...."


Namun sebelum itu terjadi , Dirga menghentikan niatan Dayu.


" Tidak apa jika kalian berdua ingin langsung menyerang. Aku akan ikut rencana kalian "


" tapi Dirga , kondisi mu sekarang......"


" tidak apa Dayu , aku sudah pulih total "


Bersamaan disaat Dirga mengatakan hal itu , pintu ruang diskusi di banting oleh seseorang. Ia adalah Sari yang ingin menjemput Dirga.

__ADS_1


" Eh? Kakak? Bagaimana bisa...."


" bagaimana bisa bagaimana bisa. Ayo pulang ke kampus , kau harus beristirahat dan jangan kebanyakan jalan-jalan!!! " ucap Sari tegas sembari menarik telinga Dirga


" Aduh , kak sakit "


Telinga Dirga di tarik sampai keluar dari ruang diskusi


" Dayu , kabari kapan akan memulai rencananya yah "


" i-iya "


Mendengar kata rencana Sari tambah marah


" Rencana-rencana apa lagi ha!!? Sudah , ayo pulang "


Mereka berdua pun pulang menggunakan mobil Dirga.


" haish , seorang pahlawan Nasional pun tidak bisa melawan kakaknya. Hihi " pikir Dayu.


Mereka bertiga menyudahi diskusi dan pulang ke tempat tinggal masing-masing. Dirga pulang bersama kakaknya , ia di ceramahi habis habisan karena tidak izin untuk pergi ke polres.


Tapi dia senang bisa mendengarkan nasehat dari Kakaknya itu. Karena di masa kuliah , kita akan memilih pilihan kita untuk menjalani hidup. Ingin mengikuti kelas atau tidak juga adalah pilihan kita , oleh karena itu Dirga sangat bersyukur karena Sari masih mengingatkan Dirga untuk mengambil keputusan yang benar.


Sesampainya di kampus , Dirga dan Sari kembali ke asrama masing-masing


" ingat untuk langsung istirahat , jangan kemana-mana lagi "


" iya ka "


Seusainya Sholat Maghrib , Dirga , Daniel dan Rendi pergi ke kafetaria kampus untuk makan malam dan nongkrong di sana bersama yang lain. Semuanya berkumpul membicarakan berita yang sedang panas , yaitu penculikan.


Yang cewe pada takut akan berita tersebut dan lebih memilih untuk menyuruh laki-laki untuk membeli barang-barang yang mereka minta kecuali barang keperempuanan.


" Iya yah , serem juga. Semuanya di culik "


" Iya put , jadi takut belanja keluar "


Para laki-laki sudah seperti babu untuk mereka suruh.


" Haish , gara-gara penculikan ini para laki-laki sudah menjadi seperti babu untuk perempuan " ujar Rey


" haha , iya sungguh tidak adil "


Setelah makan malam , mereka pun balik ke asrama masing-masing untuk beristirahat.


Seperti biasanya Dirga bangus pada saat Rendi dan Daniel sudah tertidur pulas , ia melatih Aura petir biru atau petir airnya supaya bisa di kendalikan lebih mudah lagi.


Berjam-jam berlatih sampai ia akhirnya bisa mengendalikan aura petirnya dengan mudah , bisa mengeluarkan aura tersebut kapanpun di manapun sesuai kehendaknya. Ia belum pernah tes kemampuan barunya tersebut untuk melawan musuh , takut para musuh lemah tidak bisa menahan serangan aura petirnya dan mati.


Dirga beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke atap asrama untuk latihan lebih baik lagi.


Dua jam latihan di atap asrama , ia mendengar suara aura spiritual yang sedari tadi menyebutkan kata " Dragon Fist". Kata-kata itu terus terdengar di telinga Dirga.


Dan tiba-tiba bulan tertutup oleh awan gelap yang menggumpal di atas Dirga , Aura petir Dirga mulai bereaksi dan mengeluarkan arus listriknya. Gelegar petir juga sudah mulai terdengar di telinga.

__ADS_1


Dan Dirga pun di sambar petir beruntun lagi seperti pada saat awal berlatih mengeluarkan Aura. Dirga sama sekali tidak merasakan sakit , malahan ia merasakan energi yang terus masuk kedalam tubuhnya.


Setelah satu jam di sambar petir , ia pun menyudahi latihannya dan mencoba kemampuan dari Aura petirnya yaitu " Dragon Fist ".


Dirga mengeluarkan aura petir dari tangan kanannya untuk memukul kearah langit , aura petir tersebut berbentuk seperti naga yang mengitari tangan Dirga. Saat ia memukulkannya kearah langit , naga yang ada di tangannya keluar dengan Auman yang keras seperti petir.


GROOAAR!!!


Dan terus bergerak ke atas langit sampai menghilang.


Dragon Fist bisa di pakai di kedua tangannya yang membuat kemampuan ini menjadi mengerikan.


" ngeri banget "


Bahkan Dirga pun merinding melihat kekuatannya sendiri. Ia turun dari atap untuk pergi mandi mengingat sekarang sudah jam 3:59 pagi. Dirga menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena ia ingin pergi ke mushola untuk membaca Al Qur'an sembari menunggu adzan subuh berkumandang.


Saat sudah waktunya adzan , Dirga lah yang mengumandangkan adzan subuh di hari itu. Seusai sholat subuh , ia kembali ke asrama putra untuk tidur , karena hari ini tidak ada kelas.


Ia bangun dari tidurnya sekitar jam 8:40 pagi karena di bangunkan oleh suara nada dering hpnya. Ia mengangkat telpon tersebut dan mendapati nomor tidak di kenal yang meneleponnya.


[ Dirga ]


Halo? siapa yah?


[ ??? ]


Halo Dirga , Alhamdulillah di angkat. Saya Walian Suyono


[ Dirga ]


Oh pak Walian , ada masalah apa yah pak?


[ Walian ]


Nak Dirga , tolong bantu saya. Anak saya di culik , para penjaga yang menjaganya di hajar sampai babak belur


[ Dirga ]


Baik pak , saya akan segera menemui bapak


[ Walian ]


Iya nak Dirga , saya masih di kantor kerja


[ Dirga ]


Baik pak , saya kesana sekarang


Dirga menutup telponnya dan langsung mengambil kunci mobil untuk pergi ke tempat Walian berada yaitu di gedung perusahaan Asean ID Group.


Tapi sebelum itu ia meminta izin kepada Sari untuk pergi kesana.


" Ka , Dirga mau jalan ke perusahaan Asean ID Group yah? Kenalan Dirga memanggil "


" iya dah , jangan malem-malem pulangnya "

__ADS_1


Setelah di beri izin , Dirga langsung pergi ke parkiran untuk naik ke mobilnya dan tancap gas menuju Asean ID Group.


__ADS_2