Sebuah Kehidupan

Sebuah Kehidupan
Badut?


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat Dzuhur bersama dengan ayahnya , Dirga segera membantu ibu serta kakaknya untuk membawa makanan yang telah mereka buat pergi ke lapangan.


" Nak , ayah jalan duluan yah... Kamu bantu kakak mu dan dan ibu mu membawa makanan - makanan itu "


" baik yah "


Suryanto berjalan pergi menuju lapangan untuk membantu para warga. Sedangkan Dirga bersibuk dengan makanan - makanan yang akan ia bawa menuju lapangan , Putri serta teman - temannya juga ikut membantu Dirga membawa makanan tersebut.


Dalam perjalanan menuju lapangan , mereka semua di hampiri oleh sebuah mobil Lamborghini berwarna hitam dan berhenti di samping mereka semua. Seorang pria dengan mantel putih serta baju hitam pun turun dari mobil. Dirga memperhatikan raut wajah Putri yang tampak khawatir dan seperti tidak menyukai kedatangan pria tersebut.


Pria itu tinggi seperti Dirga dan tampak sangat rupawan dengan menggunakan satu kacamata di mata kanannya. Rambutnya sangat indah , menari-nari tertiup oleh angin.


Ia berjalan menghampiri Putri sambil membawa se - buket bunga yang indah.


" Putri sayang , terimalah hadiah dari hati ku yang paling dalam ini..." ujarnya sembari menyerahkan buket bunga tersebut dengan nuansa yang romantis.


Teman-teman wanitanya yang melihat hal itu tentu membuat gelora imajinasi asmara mereka menguat , membuat wajah mereka semua merona. Tetapi tidak dengan Dirga , Putri dan Sari , mereka bertiga melihat pria tersebut dengan tatapan biasa saja tanpa ada perasaan apapun.


Putri tersenyum pahit dan menjawab pria tersebut dengan lembut.


" Aku... Tidak bisa menerima bunga pemberian mu.. Heri.. karena kedua tangan ku sedang membawa makanan ini " Putri menanggapi pria tersebut dengan lembut.


" Hanya makanan biasa saja.. Tidak perlu di khawatirkan , sini biar aku yang bawa..."


" tidak perlu.. Aku bisa sendiri kok "


Dengan paksa , pria tersebut mengambil sekantung plastik yang berisi nasi dan lauk yang sedang di pegang oleh Putri dan melemparkannya kejalan.


" Kamu tidak bisa membuat alasan lagi kalau sudah tidak ada makanan rendahan seperti itu di tangan mu kan? Putri sayang? " ujar pria itu yang langsung menyambar tangan Putri sesaat setelah ia melempar makan yang di bawa oleh Putri.


Nasi dan lauk yang masih hangat terbuang begitu saja. Sari dan Dirga terdiam melihat masakan ibu mereka di buang begitu saja , aura roh Sari membuat area sekitar sana mulai dingin. Aura petir Dirga juga secara perlahan mulai muncul , tapi bukan berwarna biru , melainkan berwarna merah.


" Dek , yang sabar.. Aura petir mu itu terlalu berbahaya untuk si binatang itu "


" Baik... Kak...."


Dirga mendekati makanan yang telah berantakan tersebut dan mengumpulkannya jadi satu dan memasukkannya ke dalam plastik kembali untuk di buang. Pria yang bernama Heri Dayatul mencemooh Dirga yang sedang mengumpulkan makanan yang berantakan.

__ADS_1


" Hey , kau tampak seperti binatang yang sedang memakan makanan rendahan itu " ujarnya dengan wajah yang meremehkan.


Mendengar hal itu , Putri sontak langsung menampar wajah Heri


Plaak!!


Kacamatanya sampai terjatuh dan pecah dibuatnya. Putri pergi menolong Dirga yang tengah membereskan makanan yang terbuang itu.


" Kak , kamu lanjut saja antarkan makanan yang tersisa itu... Biar Dirga yang urus makanan ini "


" baiklah..."


Sari pergi menuju menuju ke lapangan , di ikuti dengan teman - teman wanitanya yang juga berjalan menjauh , menyisakan Dirga dan Putri serta Heri yang masih berada di tempat itu.


Setelah selesai memasukkan makanan yang terbuang kedalam plastik , Dirga melihat Kanan dan kirinya untuk mencari tong sampah.


" Kenapa... Kamu... Memukul ku , Putri sayang? "


" Kau tidak menghargai usaha seseorang yang telah bekerja keras , kau memang pantas mendapatkannya " jawab Putri tanpa melihat wajah Heri sedikitpun.


" Kerja keras ya kerja keras , orang seperti mu tidak akan mengerti tentang hal ini "


Setelah Dirga membuang nasi yang terbuang itu , ia segera mengajak Putri untuk pergi dari tempat itu menuju lapangan karena mereka sudah telat sekarang.


" Sudah mbak , ayo kita jalan "


" Baik mas , ayo.."


mereka berdua melewati Heri yang terdiam di samping mobilnya , tapi Heri menghentikan langkah Dirga dengan cara menahan pundaknya.


" Apa hubungan mu dengan Putri... " tanya Heri dengan dingin.


" Hehe... Kepo.."


Mendengar jawaban yang absurd dari mulut Dirga , Heri langsung menyerangnya dengan teknik Kick Back yang sangat-sangat cepat. Namun , bukannya mengenai Dirga , Kick Back tersebut malah mengenai mobilnya sendiri yang membuat mobil tersebut penyok sedemikian rupa.


Braaak!!

__ADS_1


" Kau jangan macam-macam... Sekali lagi aku melihat mu mendekati Putri , awas saja kau..... " ujar Heri sambil mengarahkan ibu jari nya ke leher untuk menakuti Dirga.


Heri pun masuk kedalam mobilnya yang penyok tersebut dan segera pergi dari tempat itu. Putri khawatir dengan Dirga karena ia tau kalau Heri tidak mudah di hadapi , fisik serta hartanya akan menjadi lawan yang alot menurut Putri.


" Sudah lah mas... Dia memang seperti itu " ujar Putri sambil menepuk pundak Dirga


Bukannya khawatir ataupun takut , raut wajah Dirga tampak sedang menahan tawa karena kelakuan Heri.


" Pfffft.. Hahaha , dia itu aneh... hahaha " tawa Dirga terbahak - bahak.


" Loh mas , kok malah ketawa sih? "


" Hahaha , bagaimana tidak ketawa.. Dia itu ingin menendang kepala ku tapi malah kena mobil mewahnya sendiri , sungguh aneh.. Di tambah lagi gayanya yang sok - Sokan kayak tadi... Hahaha , itu.... Sungguh lucu "


" Hadeh , mas... Kamu ini ada - ada saja... Sudah lah , ayo kita kelapangan... Udah telah banget nih "


" Haha , iya... Ayo "


Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya menuju lapangan untuk membantu warga desa. Disana sudah ramai orang bersibuk dengan perabotan serta alat - alat elektronik yang akan di pasang.


Putri dan Dirga berpisah ke tempat mereka bertugas masing - masing.


" Kalau begitu saya bantu warga dulu yah mbak? "


" iya mas , hati - hati kerjanya "


Dirga pun membantu para warga memasang peralatan , sedangkan Putri membantu ibu-ibu yang tengah membuat makanan karena makanan buatan Mina kurang. Hal ini terjadi karena Hari yang telah membuang sebagian besar makanan yang di buat oleh Mina.


Dirga juga sangat sibuk dengan pemuda - pemuda lain yang tengah memasang sisa kerangka serta alat - alat elektronik yang akan di butuhkan untuk acara Rio.


Dirga juga menceritakan tentang apa yang terjadi di saat ia dalam perjalanan menuju kesini , teman - temannya tertawa mendengar hal itu sampai - sampai tidak fokus dengan kerjaan mereka karena cerita dari Dirga.


" Haha , gara - gara bang Dirga , kabel ini jadi kusut lantas "


" Hahaha maaf lah , lucu banget soalnya "


Seperti biasanya setelah warga selesai dengan sebagian dari tugasnya , mereka pasti akan beristirahat di tenda yang sudah di sediakan berbagai macam makanan. Hal ini yang di sukai oleh Dirga serta Teman - temannya , makan beramai - ramai bersama para warga membuat makanan menjadi lebih enak.

__ADS_1


__ADS_2