
Sang raja siang pun terbit dari ufuk timur , Dirga bangun dari tidurnya dan langsung menyambar handuk untuk membersihkan diri seperti biasanya. Setelah ia selesai mandi , Dirga mengambil sepatu joging dan mengenakannya untuk berlari pagi mengelilingi kampung Curuguyang.
Saat membuka pintu luar , ia terkejut melihat ayahnya sedang bermeditasi di halaman rumah. Meditasi tersebut membuat tubuhnya mengeluarkan aura air yang mengalir ke seluruh tubuh Suryanto.
Tak ingin mengganggu ayahnya yang sedang bermeditasi , Dirga pergi ke pintu gerbang dan membukanya untuk mulai berkeliling kampung. Saat berlari , ia bertemu dengan Rio serta Tasya yang sedang berlari bersama di depannya.
" Gaya amat itu , yang mau nikah " ujarnya kepada sepasang kekasih yang sedang berlari di hadapannya.
" Eh , bang Dirga... Kirain siapa , lagi lari juga bang? "
" Iya... Memang kalau mau nikah harus jaga kesehatan tubuh agar tidak kena penyakit di hari H nya "
" Ahaha , bang Dirga bisa aja... Tapi bener juga "
" Mbak Tasya juga selamat yah , dikit lagi mau nikah aja.. Jaga kelanggengan hubungannya yah mbak "
" Hihi , iya mas Dirga... "
Dirga berpisah dengan Rio dan Tasya karena mereka berbeda tujuan. Dirga pergi ke warung Bu Wati , sedangkan Rio dan Tasya pergi ke rumah Rio untuk memasak sarapan pagi.
Dirga sampai di warung Bu Wati dan melihat sampai dedaunan yang berserakan di halaman warung tersebut. Tanpa pikir panjang , ia langsung memesan nasi goreng spesial dan menyambar sebuah sapu lidi serta serokan yang berdiri di samping pintu.
" Bu Wati , nasi goreng spesialnya satu sama kopinya juga "
" Eh? Iya nak Dirga "
Dirga menyapu halaman tersebut sampai bersih , lalu ia duduk di dalam warung untuk memakan makanan yang ia pesan.
" Sendiri aja nak Dirga? Biasanya sama Rio sarapan pagi kesini "
" Biasa Bu , calon pengantin baru..."
" Haha , iya juga yah... Yaudah , ini pesanannya "
Bu Wati menyuguhkan makanan dan minuman yang di pesan oleh Dirga. Dirga pun memakannya dengan lahap , sambil ngobrol-ngobrol dengan Bu Wati.
" Nanti kapan lagi Bu pemasangan tempat pernikahan di Rio? "
" Nanti siang Nak , setelah selesai sholat Dzuhur "
" Ooh , gitu "
Setelah selesai makan , Dirga pulang kerumahnya dan dan mendapati ayahnya masih bermeditasi halaman rumahnya. Dirga menghampiri ayahnya dan menepuk pundaknya.
" Yah... "
Suryanto membuka matanya perlahan dan menoleh kearah Dirga.
" Iya nak... "
Dirga pun duduk di samping ayahnya
" Yah... Lihat nih "
__ADS_1
Dirga mengeluarkan Dragon Fist di tangannya yang membuat Suryanto terpukau bukan main karena ia baru pertama kali melihat orang dengan aura petir.
" Kamu... pengguna petir? "
" Iya yah , saat sedang berlatih dengan buku yang ayah berikan.. Tiba-tiba ada aura spiritual yang menggumpal dan masuk ke tubuh Dirga , disaat itu lah awan mulai gelap dan akhirnya menyambar Dirga dengan petirnya "
Suryanto menggelengkan kepalanya karena heran sekaligus takjub akan kekuatan aura petir yang ia lihat.
" Ayah juga awalnya ngira ada yang lain dengan kamu.. Ternyata pupil mata mu menyala terang berwarna biru "
" Haha , aku sudah bisa beberapa jurus yah.. Seperti Dragon Fist , Twin Dragon dan Electric Run "
" Haha , hebat... Oh yah , ibu mu katanya mau bikin makanan buat warga... Kamu bantu sana gih "
" baik "
Dirga beranjak dari duduknya dan pergi menemui ibunya untuk membantu sana sini dan wara wiri untuk membuat makanan. Dirga mengangkat galon air serta beras untuk membuat nasi uduk cumi untuk warga.
" Wah , ini sih kalau di taruh di rumah akan habis oleh Dirga Bu "
" Hihi , kamu ini nih.. ini buat warga nanti siang.. Ayo , masukan beras itu ke sini "
Dirga memasukan beras ke dalam baskom besar untuk di cuci terlebih dahulu. Sari lah yang akan mencuci beras tersebut di kamar mandi.
" Bu , pas masa mudah sama ayah... Itu gimana sih kisahnya? " Ujar Dirga
" Hihi , kamu ini nanya in apa sih? "
" Haha , cuman buat contoh... Dirga sudah ada calon pacar "
Dirga tersenyum dan mengangguk menanggapi perkataan ibunya yang sedang bercerita
" Disaat ibu di ganggu oleh preman kampung dulu , ayah mu lah yang menolong ibu... Ia tak berharap untuk mendekati ibu... Dulu ibu kan juga terkenal di masa SMA "
" Banyak murid yang ingin mendekati ibu , tapi semuanya ibu tolak karena ingin berfokus pada pelajaran "
Mina bercerita sambil memotong-motong sayur.
" Murid lain membantu hanya untuk mendekati ibu saja... Tapi beda dengan ayah mu , ia sama sekali tidak melirik ibu.. Disaat sedang di ganggu preman saja ia sangat ikhlas "
" Sejak saat ayah mu menyelamatkan ibu dari preman kampung , ibu jadi... Terpikat dan mulai penasaran dengan ayah mu itu "
Flashback
Setelah kejadian dimana Mina di selamatkan oleh Suryanto , ia mulai memperhatikan gerak-gerik Suryanto setiap harinya secara diam-diam. Di kelasnya , di lapangan , dan bahkan di kantin juga tak luput dari pengawasan mata Mina.
" Sur , si Mina liatin lu terus tuh dari tadi " Ujar Gusdi
" Iya kah? "
Suryanto menoleh ke sampingnya dan menatap wajah Mina yang langsung seketika berpaling ke arah lain. Suryanto tidak menyadari hal itu dan berpikir kalau Gusdi berbohong.
" Tidak... Dia sibuk dengan makanannya.. Kau bohong yah Gus? "
__ADS_1
" enggak... Tadi dia lihat..."
Suryanto tidak terlalu memikirkan hal itu dan dan lanjut memakan makanannya. Disaat pelajaran , Mina juga mengintip melalui jendela kelas Suryanto hanya sekedar untuk melihatnya saja.
Gusdi berbisik kepada Suryanto
" Sur , lihat tuh di jendela "
" Apa? "
Suryanto menoleh dan melihat Mina tampak memperhatikan dirinya secara diam-diam.
" Hey , kenapa dia aneh seperti itu Gus? "
" Aku tidak tau... Dari tadi pagi dia sudah begitu "
Setelah jam pelajaran selesai , Suryanto pulang ke rumahnya seperti biasa. Di belakangnya terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang mengikuti.
" Kenapa kamu mengikuti ku dari tadi pagi? " tanya Suryanto sebelum menoleh
" Aku... Aku tidak mengikuti mu , kamu yang ke ge'eran "
" Ooh , maaf lah kalau begitu... "
Suryanto terus berjalan menuju rumahnya dan tidak memperdulikan Mina yang juga mengikutinya terus. Suryanto setiap harinya melihat Mina di sekelilingnya , semua daerah sekolah tak pernah lepas dari pandangan Mina.
Tentunya hal itu membuat siswa lain iri , terutama adik kelas sekaligus adik kandungnya yaitu Aris Cahyono yang sangat kesal dengan abangnya tersebut karena bisa memikat hati kembang sekolah.
Dengan kata lain , tak hanya karena warisan ia jadi membenci Suryanto. Ternyata ia juga membenci Suryanto karena masalah asmara masa mudanya dahulu yang di renggut oleh abangnya tanpa sengaja.
" Tadinya , paman mu juga sangat terpikat oleh ibu di masa SMA... tapi mau bagaimana lagi , ibu sudah jatuh hati pada ayah mu... Tapi ini adalah awal dari keretakan keluarga dari ayah mu "
" Hmm , paman? paman Aris? "
" Ya , dia adalah murid berbakat dari SMA kamu pada masanya.. Namanya juga di kenang sebagai murid paling berbakat dan paling terampil dalam akademik sampai sekarang "
" Ya , itu terbuktikan dari perusahaannya yang sangat besar "
Sari juga mendengar keseluruhan cerita ibunya sambil membantu menggoreng telurnya dadar.
" Tapi Bu... apakah ayah punya saudara lagi selain paman Aris? " tanya Sari
" Dia punya adik yang paling tua , bernama Budiman Djaka Juntak... Hanya kurang dua hari saja dari umur ayah mu "
" Hmm... Tapi Dirga tidak pernah mendengar tentang paman Budiman "
" Dia... Pergi dari rumah semenjak tau kalau ayahmu yang akan mewarisi semua ilmu dari kakek mu yang bernama Prabu Nanjaya Danuu "
" Paman juga bisa bela diri seperti ayah? Wah , pasti dia sangat kuat " pikir Dirga polos
Selang beberapa menit kemudian , suara adzan sudah berkumandang. Dirga , Sari serta Mina mulai bergegas membereskan semua makanan yang hampir siap tersebut untuk di bawa ke lapangan.
" nak , kamu sholat saja dulu gih... Nanti ini biar kakak mu dan ibu yang urus "
__ADS_1
" baik Bu.. "
Dirga pun memakai kain dan mengambil kopiah hitam dan bergegas berjalan menuju masjid bersama ayahnya untuk melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah.