
Gusdi dan Suryanto akhirnya mengobrol di dalam rumah tersebut , berbincang-bincang soal pembunuh yang datang bergerombol barusan.
" Maaf kalau aku mencampuri urusan keluarga mu , emangnya kenapa sih para pembunuh itu mengincar kamu dan keluarga mu? " Tanya Gusdi dengan wajah yang sangat penasaran
" Hanya perebutan warisan dari ayah ku saja.. Ayah mempercayakan ilmunya kepada ku , bukan kepada dua adikku itu... Alasannya mungkin ia sudah tau kalau salah satu adikku adalah pengguna ilmu kematian "
" haish... Aku menyarankan agar kamu pindah saja ke rumah yang lebih besar dari ini "
" Ya... Tapi... " Suryanto memperlihatkan raut wajah keraguan dan kebingungan.
" Haish , emangnya Dirga tidak mengirimkan kamu uang? kalau begitu pakai uang ku sa..."
" Tidak... Dirga adalah anak yang berbakti kepada orang tua.. Ia mengirimkan aku 5 miliar yang sampai sekarang belum tau bagaimana aku harus menggunakannya "
" Uhuk... " Gusdi tersedak makanan dan melanjutkan perkataannya
" Lima Miliar? Dia dapat uang dari mana? "
" Kenalan dia banyak di kota-kota besar. Dengan ilmu yang aku ajarkan , ia menggunakannya untuk kebaikan. Tentunya tanpa mengharapkan imbalan... Tapi memang rezeki tidak kemana "
" Haha , anak mu memang hebat... Bagaimana kalau kita jodohkan anak kita berdua? "
" Hmm... Masalah ini nanti saja , aku akan memikirkan masalah lain dahulu , baru masalah anakku. Lagi pula ia tinggal di kota.. Mana mungkin tidak melihat banyak wanita cantik bukan? "
" haish , baiklah kalau begitu "
Mina datang dari dapur dan menyuguhkan dua cangkir kopi untuk suaminya dan pak Gusdi.
" .... sayang , memang benar kata pak Gusdi.. Kita sebaiknya pindah dari sini "
" Iya sayang , nanti aku pikirkan lagi "
Mereka pun mengobrol-ngobrol santai di sana sampai jam sudah menunjukkan pukul 23:58 malam , Gusdi berpamitan untuk pulang karena hari sudah malam hari.
Setelah tamu tersebut pulang , ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke halaman belakang rumahnya. Ia mengambil tiga jimat yang membuat sebuah ruang bawah tanah yang sebelumnya ia masuki bersama Dirga menjadi terlihat.
Ia masuk ke dalam ruangan tersebut dengan di temani oleh cahaya obor yang terletak di pintu masuk ruang bawah tanah itu. Suryanto berjalan menyusuri ruangan yang gelap gulita dan sampai lah ia di ruangan penuh dengan rak buku-buku usang.
" seharusnya benda itu ada di sini " ujarnya sembari mencari-cari sesuatu di rak penuh buku itu.
Ia menarik salah satu buku dan membuka sebuah ruangan kecil rahasia. Ruangan itu di tutup oleh kegelapan karena tidak ada pencahayaan sama sekali di ruangan kecil itu.
Suryanto masuk kedalam ruangan dan melihat sebuah peti berukuran sedang yang terletak di tengah-tengah ruangan kecil itu. Suryanto membuka peti tersebut yang ternyata berisi satu buah cincin tanpa corak yang berbahan tembaga dan sebilah keris dengan corak naga dibilah nya dan ukiran kepala naga di gagangnya.
__ADS_1
Ini lah yang selama ini di incar oleh Budiman Djaka Juntak dan Aris Cahyono. Sebuah cincin , sebilah keris , dan segudang ilmu yang di turunkan oleh ayah mereka. Namun sayangnya sebelum ayahnya meninggal dunia , ia menyerahkan semua itu kepada Suryanto karena mengetahui bahwa Budiman Djaka Juntak adalah pengguna ilmu kematian , sedangkan Aris Cahyono adalah orang yang kemampuan fisiknya tidak terlalu kuat , namun otaknya sangat encer dengan hal berbau bisnis.
" Cincin penyimpanan dan keris naga turunan ayah harus di pertahankan , serta ilmu-ilmu ini juga.. Meski sekarang sudah jarang ada anak yang tertarik dengan ilmu seperti ini " ujar Suryanto yang menoleh kearah belakangnya dan memandang rak-rak buku tersebut.
Ia kemudian memakai cincin tersebut dan mulai memasukan keris naga ke dalam cincin hanya dengan menyerapnya saja. Tak hanya keris naga , buku-buku di rak juga tak luput dari perhatian Suryanto dan langsung menyerapnya kedalam cincin tembaga tersebut.
" kalau terlalu lama di dalam cincin , bisa-bisa hilang semuanya... Aku harus cepat pindah dari sini " Gumamnya
Ia bergegas keluar dari ruang bawah tanah yang sudah kosong melompong tak tersisa kecuali rak-rak yang usang dan keropos.
" Barang-barang ini bisa bertahan di dalam cincin selama 2 hari... Aku harus bergegas pergi "
Ia pergi ke dalam rumah dan langsung menyuruh Mina untuk menelepon Dirga.
" Sayang , ayo cepat telpon Dirga "
" baik "
Mina pun menelpon Dirga.
[ Mina ]
Halo Dirga?
[ Dirga ]
[ Mina ]
Ayah dan ibu ingin pindah ke desa tempat kamu merantau...
[ Dirga ]
Emangnya kenapa Bu? Suara ibu juga tergesa-gesa seperti ini
[ Mina ]
Nanti ibu ceritakan...
[ Dirga ]
Baiklah Bu , Dirga akan menelpon kakak untuk menjemput kalian berdua.
[ Mina ]
__ADS_1
Baiklah Dirga , terimakasih
Dirga menutup telponnya dan menghubungi Sari yang sedang tertidur lelap di rumah Dirga yang berada di desa Curuguyang.
[ Dirga ]
Assalamualaikum. Halo kak
[ Sari ]
Waalaikumsalam. Apa sih... Tengah malam nelpon kakak... Hoam
[ Dirga ]
Dirga minta tolong jemput ayah dan ibu ke desa Curuguyang.. Disuruh sama ayah sekarang
[ Sari ]
Baiklah , kakak akan segera menjemput mereka.
Sari beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap menjemput kedua orangtuanya. Sari berangkat ke desa Seuring menggunakan mobilnya dan sampai kira-kira jam 7:00 pagi karena ia juga sesekali singgah di Rest area.
Sesampainya di balai desa Seuring , Sari bergegas menuju rumahnya dan menjemput orang tuanya. Didepan rumah Sari dan Suryanto sedang bersiap-siap dengan tas bawaan mereka yang berisi baju dan sebagainya.
" Ayo ayah , ibu.. Mobilnya sudah ada di balai desa "
" Baiklah , cepat bergerak "
Sari membantu mengangkat barang bawaan orang tuanya menuju mobil. Deruman mobil halus Sari berbunyi , tanda mereka siap untuk berangkat.
Di perjalanan , Sari bertanya tentang apa yang terjadi sampai-sampai ayah dan ibunya tersebut langsung ingin pindah dari rumah yang sudah bertahun-tahun mereka tinggali.
Suryanto menceritakan semuanya saat di perjalanan sampai Sari akhirnya mengerti keadaan orang tuanya tersebut.
" Dirga tidak bisa menjemput ayah dan ibu karena ia sedang menghadiri pertemuan di kota Wayangandja "
" Ooh , gitu... Ayah kira ia anak durhaka "
" haha , ia sepertinya mengikuti rapat di kemiliteran "
" Anak ibu dua-duanya memang hebat "
Mereka akhirnya sampai di depan gerbang rumah terbesar di desa Curuguyang , yaitu rumah milik Dirga. Sari kembali membantu orangtuanya menurunkan barang-barang dari bagasi dan membawanya masuk kedalam rumah , kemudian menjamu mereka dengan makanan ringan yang di buat oleh Sari.
__ADS_1
***
Dirga bangun dari tidurnya dan langsung menyambar handuk yang berada di sangkutan baju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena hari ini ia masih harus merapatkan kemajuan menyelidikan data-data yang sudah ia bahas kemarin namun masih belum menghasilkan titik terang yang sangat terang.