
Mereka berdua mengakhiri pertemuan tersebut dan keluar dari tempat tersebut. Diluar Dirga melihat Damian sedang bermain bola dengan para soldier lain di lapangan , gerakan Damian sangat teratur , lincah , serta sangat cepat dalam menggocek para soldier tersebut dan akhirnya berhasil mencetak gol.
" bang-bang , kalian ngalah yah? Sama aku? " pikirnya polos
" Hah , hah... Tidak kok , kamu memang hebat bermain bola dek Damian "
Dayu mulai menggoda para bawahannya tersebut karena kalah sama anak kecil umur sekitar 10 tahun.
" hahaha , kalah sama anak kecil... Ga malu apa yah? " tawanya keras
Para soldier tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut , Dirga menghampiri Damian dan memberikan apresiasinya terhadap gol yang di cetak oleh Damian.
" gerakan mu sangat lincah... hebat sekali "
" Ya , aku sering bermain di ekskul sekolah ku menjadi striker "
" Whoa , Hebat-hebat... Kalau begitu ayo kita beristirahat , bang Dayu sudah memesankan kamar di Inn Hotel "
" Em , ayo "
Mereka bedua menuju mobil yang terparkir di sana dan menyalakannya
Vroooom!!! Vrooooom!!!
Setelah mesin panas , Dirga memacu kecepatan mobilnya dan pergi menuju hotel yang di maksud. Hotel tersebut sangat luas dan tinggi , Dirga masuk dan langsung di sambut oleh pelayan yang mengantarkan ke meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar VVIP.
" ini tuan , kunci kamar anda "
" Baik... Terimakasih "
Dirga mengambil kunci tersebut dan naik ke lantai 10 menggunakan lift.
" Haish...ini terlalu berlebihan bukan? " pikir Dirga
Mereka pun sampai di lantai sepuluh , hanya ada satu kamar disana yaitu kamar VVIP yang akan Dirga tinggali sementara waktu. Ruangannya sangat megah , ditambah balkon yang langsung mengarah ke arah matahari terbenam yang membuat pemandangan menjadi lebih indah. Dirga meletakkan barang-barangnya dan Damian langsung pergi ke kasur untuk berguling-guling di atasnya.
Tak hanya ruang tidurnya , bahkan kamar mandinya pun sangat luas seperti pemandian air panas umum. Dirga mengambil baju , handuk dan peralatan mandinya untuk membersihkan diri sebelum ia beristirahat.
Setelah ia mandi , Dirga pun menyuruh Damian untuk mandi. Namun ia baru teringat dengan baju Damian yang belum sempat ia beli.
" Ya ampun , Abang lupa beli baju buat kamu " ujar Dirga sembari memegang kepalanya
__ADS_1
" tidak apa bang... Lihat lemari hotelnya , sudah lengkap dengan baju semua ukuran "
" huh , untung saja Dayu menyediakan hotel sebagus ini "
Damian pun membersihkan diri sebelum tidur. Dirga membuka Hpnya untuk melihat pesan , ia melihat beberapa pesan dari teman-temannya dan juga beberapa kenalan lainnya. Namun , mata Dirga tertuju pada suatu pesan dari Anonim yang mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada kejutan.
" Siapa dia sebenarnya...."
Sesaat setelah Dirga melihat pesan tersebut , ia di kejutkan dengan seseorang yang sedang berdiri di balkon kamarnya sembari mengucapkan sepatah kata.
"...... Jadi kau orang yang di targetkan oleh bos? Hmm..... Kau sepertinya tidak berbahaya , bahkan tidak bisa menyadari keberadaan ku sejak tadi " ujarnya
Dirga pun terkejut karena ia tidak bisa merasakan aura kehidupan dari fisik orang tersebut yang membuat instingnya jadi tidak berguna.
" Kau.... Pastilah pengguna kekuatan kegelapan kan? .... Aku tidak bisa merasakan aura kehidupan mu "
" Haha , seperti yang di kabarkan.... Kau memang benar telah mengalahkan sang naga hitam Patan "
Dirga tidak melihat wajah orang tersebut karena ia memakai mantel hitam serta Hoodie hitam.
" hehehe , takdir pasti akan mempertemukan kita nanti... dan disaat itu , aku pasti akan membunuhmu "
Ia pun menghilang perlahan seperti debu yang di tiup angin. Dirga segera mengambil sikap duduk bersila dan memulai latihannya , ia mengikuti apa yang tertulis didalam buku kecil yang di berikan ayahnya.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai berkonsentrasi pada lingkungannya , percikan-percikan listrik mulai mengelilingi tubuh Dirga dan semakin lama , percikan tersebut menjadi semakin bersinar dan juga semakin banyak.
Damian yang baru keluar dari kamar mandi pun terpukau melihat tubuh Dirga yang dikelilingi oleh sinar-sinar yang terlihat keren. Damian terus memandangi Dirga sembari sesekali mempraktekkan kepada dirinya sendiri meski tidak berhasil.
" Huh... Twin Dragon berhasil di kuasai... Tinggal beberapa lagi kemampuan lagi , aku pasti bisa menguasai seluruh isi dari buku ini dengan maksimal " gumamnya
Ia menoleh ke sampingnya yang sudah ada Damian yang sedang bersila sembari menutup matanya. Dirga tau kalau Damian mengikutinya sedari tadi , namun tidak berhasil. Dirga beranjak dari duduknya dan pergi ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya , membiarkan Damian yang terduduk di lantai sembari terus menirukan gaya Dirga.
***
" Sayang , kamu bersembunyi lah dikamar , jangan keluar meski kamu mendengar suara apapun , oke? " Ujar Suryanto yang menyuruh Mina untuk bersembunyi didalam kamar , karena instingnya merasakan ada para pembunuh yang siap untuk membunuh mereka kapan saja.
" Kamu hati-hati yah? Jangan sampai terluka karena pertarungan "
" iya , tenang saja..."
Mina melangkahkan kakinya masuk ke kamar dengan ragu-ragu , tampak raut wajah kekhawatiran terhadap suami tercintanya itu. Sebelum ia masuk kamar , Mina sekali lagi menoleh kearah Suryanto dengan tatapan khawatir. Ia tau karena fisik suaminya yang sekarang berusia 39 tahun itu sudah tidak segagah dahulu yang mampu menumpas para musuhnya dengan sekali gerak.
__ADS_1
Mina akhirnya mengunci pintu kamarnya rapat-rapat dan hanya bisa membantu mendoakan Suryanto agar ia baik-baik saja.
Benar saja , para pembunuh itu jauh lebih kuat dari yang pernah di hadapi oleh Dirga sebelumnya. Tingkat mereka kira-kira sama dengan Royan , ditambah dengan pakaian hitam yang mereka kenakan pada malam hari membuat gerakan mereka semakin tidak bisa di tebak oleh Suryanto.
Pertarungan pada akhirnya tidak bisa di elakan , mereka saling adu serang. Suryanto mengeluarkan semua kemampuan yang ia punya untuk melindungi rumahnya dan juga istri tercinta itu. Ia tak heran dengan kemunculan para pembunuh tersebut , ia menebak kalau para pembunuh tersebut adalah suruhan dari saudara-saudaranya yang iri dengan warisan yang di berikan oleh ayah mereka.
" Huh , huh , huh..... Fisik yang sudah tua ini sungguh menghambat pergerakan ku... Kalian sungguh beruntung " ujar Suryanto dengan Terengah-engah
Para pembunuh terus menerus melancarkan serangan tanpa ada jeda sedikitpun , yang membuat Suryanto berhasil terpukul mundur menghantam tembok rumahnya. Suryanto tak berkutik karena serangan yang di berikan oleh sekelompok pembunuh tersebut sangat terkoordinasi dan selancar air yang mengalir.
Sesaat sebelum Pembunuh tersebut ingin membunuh Suryanto , tiba-tiba salah satu dari mereka terlempar menghantam tembok yang bersebelahan dengan Suryanto. Seseorang yang menyerang pembunuh tersebut adalah Pak Gusdi dengan jurus tendangan pemungkasnya.
" Hehe , kawan... Kamu tidak ngajak-ngajak kalau mau bertarung... Fisik mu itu sudah tua , tidak boleh melawan musuh sendiri lagi seperti dulu " ujar pak Gusdi tersebut kepada Suryanto.
Para pembunuh lainnya langsung sigap
" Hahaha , kau juga sudah tua Gus... Jangan sombong gitu " Suryanto beranjak dari tembok yang ia hantam
Gusdi dan Suryanto mulai mengambil kuda-kuda dan menyerang para pembunuh tersebut dengan gerakan yang sangat terkoordinasi karena kerjasama mereka yang begitu hebat.
" Haha , jadi ingat masa muda jika bertarung seperti ini "
" Iya yah Gus... Harusnya cecunguk kayak gini tidak akan membuat ku terpukul mundur "
" Haha , Ingat umur Surya "
Mereka berdua bertarung sambil mengobrolkan tentang masa lalu seakan sedang reunian. Sampai tak terasa mereka sudah mengalahkan semua pembunuh yang menyerang rumah Suryanto , Gusdi mengikat mereka dengan tali yang ia bawa dan menyeretnya keluar rumah.
" Ini aku ikat sini yah? " ucap Gusdi bertanya pada Suryanto
" Uhuk , iya iya... Di situ saja " sahut Suryanto menanggapi Gusdi.
Suryanto berjalan kearah kamar tempat dimana Mina bersembunyi. Ia mengetuk pintu dan memanggil istrinya dengan lembut.
" Sayang... Udah selesai , kamu bisa keluar "
Mina pun membuka pintu dan langsung memeluk suaminya itu dengan sangat lama , sampai tidak menyadari bahwa Gusdi sedang menontoni kemesraan mereka berdua sembari memakan camilan orang tua biasanya yang terletak diatas meja.
" Hey , mau sampai kapan kalian bermesraan seperti itu , ha? " celetuk Gusdi yang memecah kemesraan mereka berdua.
" Ahaha , maaf... Ayo-ayo kita ngopi dulu "
__ADS_1
Mina bergegas ke dapur dengan wajah yang memerah karena malu.