
Saat ia berbalik , ia ingin menendang kepala Dirga dengan Muai Thai. Namun dengan mudah Dirga menghindari serangannya.
" Wow , kau hebat sekali sekarang , kekuatan yang meningkat pesat "
tanya penjambret tersebut
" Kembalikan tas itu dulu baru kita bicara "
Ia melemparkan tas tersebut ke Dirga. Dirga mengecek tas tersebut yang masih utuh isinya. Mbak-mbak tadi juga kelihatan terengah-engah karena mengejar mereka berdua. Dirga memberikan tas tangan mbak-mbak tersebut.
Mereka berdua kembali ke urusannya.
Dirga berjalan mendekati jambret tersebut dan mengambil sikap kuda-kuda.
" Wow-wow kawan , tenang dulu. Ini aku Dimas Anggara. Teman SMA mu "
" Kau?. Kenapa kau mencopet dan memakainya penutup wajah segala? "
" haha , aku hanya ingin memancing-mu. Pura-pura doang "
" Ooh , jangan lakukan hal itu lagi. Ayo kembali "
Mereka berdua kembali ke tempat Putri menunggu. Wajah Putri tampak Khawatir dengan keadaan Dirga. Dirga memanggilnya
" Mbak Putri , maaf. Gara-gara si bodoh ini aku jadi meninggalkan mbak Putri "
ucap Dirga sambil memukul kepala Dimas
" Yasudah Gapapa. Ayo mas , kita ketempat makan itu "
Dirga mengangguk dan pergi bersama mereka berdua. Disana Dirga dan Dimas berbincang-bincang santai tentang masa-masa sekolah. Dimas juga berkenalan dengan Putri
" Nama saya Putri Wulandari "
" saya Dimas Anggara , teman SMA Dirga "
Dimas juga menceritakan tentang masa SMA Dirga kepada Putri , mereka tampak bersenang-senang sambil berbincang santai.
" Ga , kamu sekarang tinggal dimana? "
tanya Dimas
" di desa Curuguyang , merantau. Kau sendiri tinggal dimana sekarang? "
" aku juga baru datang ke Curuguyang , baru beres-beres rumah dan pergi ke pasar membeli kebutuhan harian "
" Oh ya , gimana keadaan Guru , sehat kan? "
tanya Dimas
" Alhamdulillah sehat "
" Sehat lah , masa ahli bela diri aliran Pranandrat bisa sakit dengan mudah "
" ya , dia masih sehat dan bugar. Perguruan kita bubar karena keinginannya sendiri , dia menyuruh kita untuk mencari jalan hidup masing-masing , tapi aku malah mau di jodohkan oleh anak saudagar kaya di kampung halaman "
" Haha , guru memang ada-ada saja "
Putri hanya mendengarkan obrolan mereka sambil memakan makan pesannya.
Perguruan Pranandrat adalah perguruan milik Ayahnya Dirga [ Suryanto Suhaini ]. Perguruan itu melatih kekuatan batin dan juga fisik. Suryanto memilih untuk membubarkan perguruan itu karena ia tidak mau mengekang anak-anak muda yang jalan hidupnya masih panjang.
Di tambah lagi dengan hutang yang melilit mereka , itu juga salah satu alasan kenapa perguruan milinya di bubarkan.
Para murid bebas memilih tehnik bertarung yang mereka inginkan. Dari Muai Thai , Kung Fu , Taekwondo , Karate dan masih banyak lagi. Para murid di tes kemampuan semua gaya bertarung di dalam perguruan Pranandrat. Tentunya untuk bisa melatih kekuatan bertarung , harus ada latihan fisik yang sangat keras.
Para murid di wajibkan untuk berlari dari bawah sampai atas gunung dan balik menuruni gunung itu agar melatih pernafasan mereka. Mereka juga melatih refleks , insting dan juga ketenangan diri mereka di perguruan tersebut.
__ADS_1
Karena waktu menunjukkan pukul 18:30 , Dirga mengajak mereka berdua pulang
" eh udah jam segini , pulang yuk "
Mereka berdua mengangguk dan berjalan keluar dari tempat makan tersebut.
Di desa Curuguyang , Dirga berpamitan dengan Dimas karena arah rumah mereka berdua berbeda. Dirga mengantar Putri kerumahnya sambil membawa barang-barang nya.
Saat sudah sampai di depan rumah Putri , Putri memberikan selembar kertas yang tertulis sebuah nomor telepon.
" mas Dirga , jangan lupa masukin nomor Putri ke hp mas Dirga , yah..? "
" iya , ini barang-barangnya. Ga ada yang ketinggalan kan? "
" hmm , ga ada mas. Terimakasih sudah membantu saya "
" ya , sama-sama. Saya pulang dulu "
Dirga melambaikan tangannya , begitu juga dengan Putri. Di perjalanan pulang , Dirga menelpon nomor telepon rumah orangtuanya.
Tuut. Tuut. Tuut.
[ Dirga ]
Halo ibu
[ Mina ]
Halo nak , kamu sehat?
[ Dirga ]
Alhamdulillah bu , Dirga sehat. Gimana ayah? Sehat kan?
[ Mina ]
[ Dirga ]
Iya Bu , Dirga mau bicara sama ayah Bu
[ Mina ]
Sebentar , ayahmu lagi Sholat Maghrib. Kamu sudah sholat Maghrib belum?
[ Dirga ]
Iya Bu , ini lagi di perjalanan , bentar lagi nyampe rumah
[ Mina ]
Iya dah nak , kamu sholat dulu
[ Dirga ]
Iya Bu, nanti Dirga telpon lagi , yah. Setelah sholat
[ Mina ]
Iya
Dirga menutup telponnya dan masuk kedalam rumah. Ia membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk sholat Maghrib. Setelah selesai sholat Maghrib dan membaca Al Qur'an. Dirga menelpon nomor rumah orangtuanya.
[ Dirga ]
Halo?
[ Suryanto ]
__ADS_1
Halo nak , bagaimana kabar mu?
[ Dirga ]
Alhamdulillah yah , Dirga sehat kok
[ Suryanto ]
Alhamdulillah , terimakasih atas kiriman uangnya nak , hutang kita sudah lunas sekarang.
[ Dirga ]
Iya yah , sudah jadi kewajiban Dirga.
ngomong-ngomong , tadi Dirga lihat si Dimas yah. Dia juga pindah ke desa Curuguyang
[ Suryanto ]
Oh , bagus kalau begitu. Sampai pesan Ayah ke dia agar jangan menggunakan kekuatannya untuk hal yang merugikan orang lain
[ Dirga ]
Iya yah
Mereka berbincang-bincang santai lewat telpon itu. Sampai waktu menunjukkan pukul
18:58 , Dirga berpamitan dengan ayahnya
[ Dirga ]
Yah , Dirga tutup dulu yah. Mau sholat Isya.
[ Suryanto ]
iya nak , kamu hati-hati disana
[ Dirga ]
Iya yah , assalamualaikum
[ Suryanto ]
Waalaikumsalam
Dirga menutup telponnya dan pergi mengambil air wudhu untuk melaksanakan Sholat Isya. Setelah selesai , Dirga mengambil kertas yang tadi diberikan oleh Putri. Ia memasukan nomor telepon hp Putri kedalam kontaknya.
Dirga mengirimkan pesan
Assalamualaikum mbak Putri
Setelah beberapa menit akhirnya Putri melihat pesan tersebut dan membalasnya
Waalaikumsalam , mas Dirga yah?
Iya , maaf baru masukin nomor kamu
gapapa mas
Dan pembicaraan mereka selesai disitu karena Dirga mengantuk. Ia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi , instingnya merasakan ada yang sedang memperhatikannya dari belakang
__ADS_1
" ngintip-ngintip aja dah , untungnya bukan lagi mandi " pikirnya