
Ia melihat Damian yang sedang memandang langit pagi di balkon sembari menyeruput secangkir susu. Dirga pun tak mau kalah dengan Damian , ia menyeduh secangkir kopi dan meminumnya sembari melihat langit pagi yang berwarna biru. Lampu-lampu gedung yang masih menyala membuat pemandangan di balkon menjadi sangat indah dan terasa sejuk.
" Kamu mandi dulu sana... Setelah itu baru kita sarapan "
" Baik "
Damian masuk kedalam dan menyambar handuk untuk membersihkan diri. Di balkon , Dirga berpikir tentang telpon ibunya kemarin di tengah malam. Ia penasaran kenapa ayah dan ibunya tiba-tiba saja ingin pindah ke desa Curuguyang , Suryanto tak mungkin meninggalkan barang-barang berharganya di ruang bawah tanah begitu saja.
" aneh , apakah terjadi sesuatu pada ayah? "
Karena tak ingin ambil pusing , Dirga memilih untuk berlatih di pagi hari karena udaranya masih bersih dan sejuk. Ia mulai memejamkan matanya dan berkonsentrasi pada lingkungannya yang ada di sekitarnya , instingnya mulai aktif secara besar-besaran namun tidak melukai tubuhnya.
Percikan-percikan listrik juga sudah mulai keluar dari tubuh Dirga dan mengelilinginya. Kekuatan spiritual di sekitarnya menggumpal dan perlahan-lahan masuk kedalam tubuhnya.
Setelah satu jam berlatih , Dirga pun beranjak dari balkon menuju kedalam untuk bersiap-siap untuk berangkat kemiliteran , karena rapat dia dengan Dayu belum selesai dan rencana juga belum di buat.
Damian juga ikut bersama Dirga pergi ke kemiliteran untuk bermain dengan para soldier disana.
" Hormat , pahlawan!! "
" Turunkan hormat kalian... Tolong jaga Damian selagi aku rapat dengan Dayu "
" baik "
Dirga berjalan kedalam gedung tersebut , meninggalkan mereka semua. Didalam ruang rapat , ia disambut oleh Dayu dengan kopi dan makanan ringan yang sudah ditaruh dengan rapih diatas meja.
" Hey , kau tidak perlu repot-repot... "
" Kalau tidak mau , yasudah "
" Tentu saja aku mau " Dirga mengambil satu biskuit yang ada di atas meja.
Dan menyambar satu tempat duduk yang ada di sana. Ia mulai membuka pembicaraan
" Percepat sedikit penyelidikan kalian , aku masih harus pulang menemui orang tuaku "
" iya , pahlawan... Kami berhasil mengirim mata untuk mengintai pergerakan mereka semua yang ada base musuh "
" Aku rasa itu tidak akan bertahan lama " ujar Dirga sembari memakan biskuit
" Kenapa begitu? "
" Mata-mata mu memiliki aura kehidupan , sedangkan hampir seluruh dari musuh tidak memiliki aura di tubuh mereka... Karena mereka menggunakan ilmu kematian "
Sesaat Dirga melontarkan perkataannya , bawahan Dayu masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu.
" Gawat jenderal... Mata-mata yang kita kirimkan langsung tewas satu hari setelah kita kirimkan "
" Apa!!? " Dayu beranjak dari tempat duduknya dengan raut wajah terkejut bercampur marah.
__ADS_1
" Iya jendral , mereka meletakkan kepala serta tubuhnya yang terpisah di dekat markas mereka bagai sampah "
" Sepertinya mereka telah berani memprovokasi kamu , Dayu "
Dayu menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan , lalu menyuruh bawahannya untuk menguburkan mayat tersebut dengan layak.
" Pergi ambil tubuhnya , dan kuburkan dengan layak "
" baik jendral "
Bawahan tersebut pergi mengerjakan tugas yang diberikan oleh Dayu kepadanya.
" Huh... Apa yang harus kita lakukan sekarang? Musuh terlalu banyak. Memang tidak menjadi hambatan , namun ini akan memakan banyak korban "
" haha , kau jangan senaif itu Dayu... Aku sudah bertemu salah satu dari mereka kemarin dan itu masihlah seorang bawahan , tapi kekuatannya lebih kuat dibanding pertarungan kita dengan Bos dongeon waktu lalu "
" ..... Kau serius? "
" Aku tidak akan bercanda soal ini "
Dayu terdiam. Keadaan di ruangan tersebut menjadi sunyi seperti ruang hampa.
" Aku pusing..." ujar Dayu yang menumpuhkan kepalanya di atas meja.
" Haish , tidak boleh menyerang dari depan dan tidak bisa mengirim mata-mata... Memang menyulitkan... Aku akan menjadi mata-mata agar bisa menyabotase mereka dari dalam.. Bagaimana? "
" Asalkan kau kasih waktu aku untuk pulang dan berlatih lagi.. Pasti bisa "
"..... Aku rasa kita tidak punya pilihan lain.. Hanya bisa mengandalkan seorang pahlawan Nasional.... Kalau begitu saat kau menyabotase , aku dan para Soldier akan siap menyerang masuk "
" pilih lah soldier yang paling kuat.. Jangan menyia-nyiakan nyawa seseorang "
" Tentu "
" Kalau begitu aku akan pulang sekarang... Untuk Damian sepertinya aku akan membawa ia pulang "
" Yasudah kalau begitu "
Mereka beranjak dari tempat duduk masing-masing dan keluar dari ruang rapat tersebut. Dirga menghampiri Damian yang sedang beristirahat di tempat duduk tak jauh dari lapangan kemiliteran , ia tampak sedang beristirahat sehabis bermain bola dengan para soldier.
" Damian , Abang sudah mau pulang... Kamu akan ikut Abang atau ikut bersama bang Dayu? Pilihan ada di tangan mu "
" Aku... "
Damian tampak bingung ingin ikut bersama siapa , Dayu akan berada di kemiliteran sedangkan Dirga akan pergi ke desa Curuguyang. Pada akhirnya ia ikut bersama Dayu karena ia ingin berlatih di militer mulai dari umur 10 tahun.
" Aku akan ikut bersama bang Dayu... Karena mau belajar di kemiliteran untuk menjadi orang hebat seperti bang Dirga dan juga bang Dayu "
" haha , baiklah kalau begitu... Tapi kehidupan akan sangat keras loh? Kamu yakin? " tanya Dayu yang kembali mengingatkan Damian
__ADS_1
" aku yakin! " jawabnya tegas
" Hahaha , tekad yang kuat.. Kamu pasti bisa menjadi orang hebat kedepannya " Dirga memberikan semangat kepada Damian
Dirga berbisik pada Dayu.
" Jangan lupa berikan pendidikan dasar kepada dia " ucapnya dengan suara kecil
" Tenang saja "
Dirga mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum pulang ke desa Curuguyang.
" Damian , berjuanglah untuk membantu orang yang kesusahan... Berjuang lah untuk kakak mu dan juga orang tuamu!! Dan jangan pernah gunakan kemampuan mu nanti untuk hal-hal yang tidak baik!! "
" siap pahlawan "
Setelah itu , ia pergi ke parkiran untuk menaiki mobilnya.
Vroooom!!! Vrooooooom!!!
Dirga pun memacu kecepatan mobilnya dan berjalan menuju pemberhentian berikutnya yaitu desa Curuguyang. Karena letaknya yang sangat jauh , Dirga sesekali singgah di Rest area untuk beristirahat sejenak. Tak sangka di salah satu rest area pada malam hari , ia bertemu dengan inspektur Kanza Felina yang sedang beristirahat di rest area tersebut.
Dirga pun duduk berhadapan dengannya.
" Lagi istirahat juga mbak inspektur? "
" Eh? Kamu? Iya nih... Lagi perjalanan ke kota Purnamasari untuk menyelidiki sesuatu "
" Ouh gitu.. "
" Iya , kasus penculikan sekarang sangat merajalela.. Lama-lama kota akan menjadi sesepi kuburan karena tidak ada orang yang berani keluar "
" iya , mbak inspektur benar... Tidak hanya di Purnamasari juga , di kota Wayangandja pun sudah marak terjadi penculikan "
" Ya , kasihan dengan anggota keluarga mereka yang khawatir "
" Ya , aku harap ini bisa berakhir "
Setelah ia berbincang-bincang santai di rest area itu , Dirga berpamitan karena ingin melanjutkan perjalanannya menuju desa Curuguyang.
" Baiklah , saya pamit dulu... Mbak inspektur hati-hati di jalan "
" em , kamu juga.. hati-hati dijalan "
Dirga berjalan kearah tempat dimana mobilnya terparkir dan mulai menyalakannya. Ia langsung tancap gas menuju ke desa Curuguyang untuk menemui orang tuanya. Didalam perjalanannya , ia memikirkan hal apa yang bisa membuat ayahnya bisa pindah dari desa tempat kelahirannya.
" Sungguh aneh , apa jangan-jangan... Rumah ayah dan ibu di desa Seuring di serang? " gumamnya
Tak banyak mobil yang lalu lalang di jalan raya tersebut yang membuat Dirga bisa leluasa menambah kecepatan kendaraannya.
__ADS_1