
Setelah makan , Dirga diminta untuk ikut bersama ayahnya untuk belajar ilmu dari buku turunan Prabu Nanjaya Danuu. Buku - buku tersebut sudah terjejer dengan rapih di rak buku yang telah di beli oleh Sari. Suryanto mengambil 3 buku berbeda dari masing-masing rak.
" Ayah akan contohkan masing - masing ilmu yang ada di buku ini , lihat baik - baik dan pelajari "
" Baik "
Rak - rak buku tersebut berada di ruangan khusus yang kuncinya hanya di pegang oleh Suryanto seorang karena ruangan tersebut bagai ruangan yang penuh dengan ilmu dan warisan yang tak ternilai harganya.
Suryanto dan Dirga pergi ke halaman belakang rumah untuk latihan. Suryanto mengambil sikap duduk bersila dan mulai membuka salah satu buku yang sampulnya hitam pekat.
Setelah Suryanto membaca sebagian kecil dari isi buku tersebut , ia mulai mempraktekkan apa yang telah ia baca.
" Apa sebenarnya ini ayah? "
" Lihat dan perhatikan...."
Dirga perlahan tidak merasakan aura kehidupan ayahnya.
" Sebenarnya ini baru sebagian kecil.. Buku ini tak berkaitan dengan kekuatan aura spiritual atau apapun itu , malahan ia bisa menghilangkan semua aura tersebut atau dengan kata lain menyembunyikannya.. "
Suryanto berhenti sejenak dan melanjutkan perkataannya
" Hah , ayah sudah tua... Fisik ayah sudah tidak mampu untuk memakai ilmu dari buku ini.. Karena buku ini kebanyakan menggunakan teknik bertarung secara fisik.. Sepertinya orang yang mendatangi kita yang memakai mantel putih tadi menggunakan ilmu yang hampir sama seperti ini , karena dari tubuhnya juga sudah kelihatan "
" Wah... Ternyata dia hebat juga.. Kirain Dirga dia itu cuman orang kaya yang sok jagoan doang... sini yah , biar Dirga pelajari bukunya "
Suryanto memberikan buku tersebut kepada Dirga. Dirga juga mulai membaca bukunya dan mulai mempelajarinya.
" Baiklah , ayah tinggal dulu.. Dua buku laginya nanti saja.. Yang penting ini dulu "
" baik yah "
Selama satu jam Dirga membaca buku tersebut , sampai waktu menunjukkan pukul 14:09 siang. Dirga akhirnya paham dengan isi buku tersebut dan mulai membuka baju atasannya untuk berlatih.
Otot - otot tubuh dari atas sampai bawah nya terlihat sangat kekar dan berisi. Urat dada , tangan , kaki , perut dan di punggungnya terlihat.
Untuk awalan , Dirga melakukan pemanasan terlebih dahulu. pemanasan tubuhnya juga bertahap dari kepala hingga kaki. Sari yang melihat adiknya yang ingin berlatih ingin berbuat iseng kepada Putri dengan cara menelponnya dan menyuruhnya kesini , melihat Dirga yang sedang latihan.
Setelah selesai pemanasan , Putri pun sampai dan bertanya kenapa ia di telpon dan di suruh ke rumah Dirga.
" Kak , ada apa kak Sari telpon? "
__ADS_1
" Sssttt , lihat itu..."
Putri melihat Dirga yang dengan berdiri sembari membaca buku hitam yang ia pegang. Wajah Putri merona melihat urat serta otot - otot yang kekar tersebut.
" Astaghfirullah kak Sari...." ujar Putri sambil menutup wajahnya.
" Ih , Putri... Ini tuh momen langka tau , jangan di sia - sia in dong "
" tapi..."
" sudahlah , tidak apa.."
Dirga meletakkan buku tersebut dan mulai mempraktekkan apa yang telah ia baca. Ia mulai mengeraskan semua otot dan urat yang ada di tubuhnya dan menghilangkan aura kehidupan serta aura petirnya.
" Wow , aura petirnya hilang .. Dan aura kehidupannya juga " gumam Sari
Seluruh otot yang ada di tubuhnya mengeras seperti besi.
" sepertinya aku harus membeli samsak tinju yang kuat untuk dijadikan target " ujar Dirga sambil melihat kembali buku itu
Dirga mengambil kuda - kuda seperti yang ada di buku dan mulai meninju angin dengan cepat secepat angin.
" Cepet banget , gerakan mas Dirga " gumam Putri dalam hati
" baik kak "
Dirga meninju serta menendang angin terus menerus tanpa henti selama satu jam kedepan. Gerakan yang terkoordinasi dan juga sangat cepat tersebut terus di latih oleh Dirga sambil membayangkan lawan yang kuat seperti pria berjubah yang ia temui beberapa hari lalu di hotel mewah.
Waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul 15:01 , Dirga menyudahi latihannya dan menyadari aura kehidupan serta aura petirnya hilang tak bisa di rasakan. Hanya ada aura panas karena banyak bergerak yang mengitari tubuh Dirga.
Ia mulai melakukan pendinginan dan peregangan otot tubuh , ia tak menyadari bahwa dirinya sedari tadi di perhatikan oleh Sari serta Putri karena terlalu fokus. Sari dan Putri tiba - tiba datang membawa makanan serta minuman hangat untuk Dirga.
" Hebat banget mas , kecepatannya sangat cepat seperti angin " ujar Putri sembari menyuguhkan makanan
" eh? Mbak Putri? Dari kapan ada disini? "
" Hihi , dari mas Dirga pemanasan Putri udah ada di sini mas "
" Ooh , gitu.. "
Setelah makan dan minum sebentar , suara adzan Ashar pun di kumandangkan. Putri berpamitan dengan Dirga serta Sari untuk pulang.
__ADS_1
" Mas , kak... Putri pulang dulu yah? "
" Iya mbak , hati - hati di jalan "
" Iya Putri... Nanti kak Sari kirimin Videonya "
Dirga bingung dengan perkataan Sari tapi ia tak memperdulikannya dan pergi masuk ke rumah untuk membersihkan dirinya dan menjalani sholat ashar berjamaah.
***
" Maaf tuan , dia sudah pergi dari hotel tersebut beberapa hari lalu... Sepertinya ia pulang ke desa Curuguyang untuk menemui keluarganya " ujar Pria berjubah hitam yang pernah di menemui Dirga di hotel mewah
" Tidak apa , si Heri ada di desa itu untuk menemui " kekasihnya " yang berharga baginya " ujar Budiman Djaka Juntak sambil memperagakan tanda kutip
" Haha , dia masih saja mengejar - ngejar wanita itu.. Tapi kalau dilihat - lihat , emang cantik juga.. tuan tidak mau menculiknya? "
" Hehe , nanti saja... Heri harus berbagi dengan kita.. Kalau tidak , aku akan membunuhnya "
" Hahaha , wanita yang cantik seperti itu siapa juga yang tidak mau.. "
***
Setelah selesai sholat ashar , Dirga serta ayahnya ingin pergi ke lapangan untuk mengecek kerjaan para rombongan Renaldi. Dirga memakai sepatu jogingnya untuk lari sore sekalian melihat kerjaan Renaldi di lapangan.
Tak disangka ternyata kerjaan mereka semua begitu cepat. Panggung dan singgasana pengantin sudah siap untuk di gunakan.
" Wah , cepet juga kerjaan kamu Renaldi "
" Haha , harus mendisiplinkan mereka lagi bang.. lagi lari sore yah bang? "
" iya nih... Istirahat saja dulu di tenda , masih ada banyak makanan dan minuman disana "
" iya bang , terimakasih..."
" oh ya , denger - denger kamu buka sasana yah? "
" hehe , iya bang... Usaha kecil - kecilan , kalau Abang mau Dateng , Dateng aja... Gratis buat Abang mah "
" haha , ga boleh gitu lah... Nanti malam aku datang "
" hehe , iya bang.. Di tunggu "
__ADS_1
Dirga melanjutkan lari sorenya sampai waktu menunjukkan pukul 17:57 sore , Dirga bergegas berlari menuju rumahnya. Akan tetapi masalah tak henti - hentinya mengikuti Dirga. Mata - mata dengan pakaian serba hitam sedang memperhatikan Dirga dari kejauhan , Dirga juga merasakan keberadaan mereka dan memperkuat fisiknya serta mempercepat kecepatan larinya sampai - sampai membuat aspal jalan retak karena langkah kaki Dirga.
Namun pada akhirnya ia sampai di rumah dengan perjalanan lancar , tanpa di ganggu oleh mata - mata tersebut.