Sebuah Kehidupan

Sebuah Kehidupan
Hendra Si Petarung


__ADS_3

Esok harinya Dirga bangun dari tidur dan bersiap-siap mandi , setelah mandi ia pergi berlari pagi menuju Warung Bu Wati untuk sarapan seperti biasanya.


" Bu , seperti biasa Bu "


" siap dek "


Dirga menunggu pesanannya. Setelah beberapa menit , Bu Wati menyuguhkan pesanan yang Dirga pesan. Ia pun memakannya dengan lahab.


" Bu , uangnya saya taru di bawah piring "


" iya dek "


Dirga pun melanjutkan lari paginya berkeliling desa , Dia melihat pak Jaka yang sedang membereskan barang-barang di tokonya , Dirga pergi menyapanya


" assalamualaikum pak "


" Waalaikumsalam nak Dirga , pagi-pagi gini udah lari. Udah sarapan belum? "


" udah pak , baru aja tadi di warung Bu Wati....sini pak biar saya bantu "


" Terimakasih nak Dirga , maaf jadi ngerepotin kamu "


" tidak apa pak "


Mereka berdua mengangkat kotak-kotak besar itu , Rio yang kebetulan lewat juga ikut membantu mereka berdua mengangkat kotak-kotak besar itu.


" Assalamualaikum pak Jaka , bang Dirga "


Rio menyapa mereka


" Waalaikumsalam " sahut Jaka dan Dirga serentak


" bantuin sini , angkat yang gede-gede itu "


" siap pak "


setelah selesai membereskan kotak-kotak besar itu , mereka berpamitan untuk pergi bekerja


" pak , kami duluan yah "


" iya nak Dirga dan nak Rio. Makasih banyak sudah membantu saya "


Sesampainya di tempat kerja , disana ada Putri yang sedang menyapu di halaman Indomaret.


" Assalamualaikum mbak Putri "


" Waalaikumsalam mas Dirga "


Rio mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan


" Hhhuuuffft , hari gajian ini sangat beda dari yang lain " ucapnya sambil memandang langit


" Iya , kau benar "


" Hihihi , sudah , ayo masuk dan bersiap menyambut pelanggan "


Mereka semua memulai kerja hari ini. Pelanggan di hari libur sangat banyak , mereka membagi tugas mereka seperti kemarin karena luka Dirga masih masa pemulihan.


" Hah , sudah jam 16:30. Pelanggan juga sudah sepi " Rio membuka obrolan.


" Ya , pak Wawan juga sudah memberikan gaji kita "


Pak Wawan adalah manager mereka , dia orang yang baik dan juga dermawan.


Dirga ingin pulang duluan karena harus mengirimkan uang kepada orangtuanya.


" Eh aku duluan yah "


" Ya deh mas , biar Rio yang beresin sisanya , jangan lupa istirahat yang cukup "


" iya-iya "


Mendengar hal yang dikatakan oleh Putri , Rio mulai bercanda dengan mereka


" Bucin teroooos , jadi aku ini obat nyamuk gitu? "


" apaan dah. Aku duluan "


Putri dan Rio melambaikan tangan kearah Dirga. Di gudang Pak RT , lebih tepatnya di depan Gudang , disana terdapat telpon umum , ia menggunakan telpon umum itu untuk menelpon orangtuanya.


Tuuut Tuuuut


[ Mina ]


Halo? Siapa ini?


[ Dirga ]


Halo ibu , ini Dirga , Dirga sudah mengirimkan ayah dan ibu uang


[ Mina ]


Iya Dirga , uangnya sudah ibu terima. Kamu sehatkan?


[ Dirga ]


Alhamdulillah Bu , Dirga sehat kok , ibu jangan khawatir. Ayah gimana kabarnya Bu , sehatkan?


[ Mina ]


Ayah sehat , ini ayah mau bicara sama kamu


[ Suryanto ]


Halo Dirga , kamu sehat kan?


[ Dirga ]

__ADS_1


Alhamdulillah Yah


[ Suryanto ]


Jangan lupa makan , dan juga jangan gunakan ilmu yang ayah ajarkan untuk


Berbuat jahat


[ Dirga ]


Iya ayah , aku akan ingat kata-kata ayah


[ Suryanto ]


Iya. yasudah ayah mau kerja lagi , kamu baik-baik disana


[ Dirga ]


baiklah yah


[ Mina ]


baiklah nak , jangan terlalu malam tidur ,


[ Dirga ]


Iya Bu , Dirga mau tutup telpon dulu yah Bu ,


Mau mandi dan makan


[ Mina ]


Iya Nak , assalamualaikum


[ Dirga ]


Waalaikumsalam Bu


Dirga menutup telponnya dan pergi untuk mandi. Seusai mandi , seseorang mengetuk pintu gudang


Tok. Tok. Tok.


" Assalamualaikum mas Dirga "


Dirga memakai bajunya dan pergi membukakan pintu


" Waalaikumsalam , ada apa yah mbak Putri? "


" Ini mas , saya memasak makan malam , ibu saya juga menyuruh saya untuk memberikannya kepada Mas Dirga "


ucap Putri sembari memberikan rantang yang berisi nasi dan lauk.


" Eh...? Ga ngerepotin nih? "


" Ga kok mas , jangan lupa di makan sampai habis "


Dirga menerima Rantang itu dan masuk kedalam. Ia memakannya dengan lahap sampai habis


" Wah , masakan Putri enak juga yah "


Ia mencuci piring dan juga rantang tersebut untuk diantar besok.


Keesokan harinya , sehabisnya mandi ia mengambil Rantang milik Putri dan mengantarnya. Dijalan ia bertemu Rio yang sedang lari


" Assalamualaikum bang "


" Waalaikumsalam "


" Mau kemana bang , bawa-bawa Rantang segala...? "


" Ini , mau nganterin Rantang punya Putri ,


habis ini baru ke warung Bu Wati untuk sarapan "


" Yaudah , sekalian aja bang , aku juga ikut "


" Yasudah , ayo "


Mereka berdua berjalan menuju rumah Putri.


Sesampainya disana , terlihat wanita paruh baya yang sedang berbicara dengan anak muda.


" Wanita itu ibunya Putri yah? " bisik Dirga kepada Rio


" Iya bang , namanya Tuti marini "


Dirga dan Rio mendekati Bu Tuti dan pemuda yang sedang berbicara dengannya.


" Bu , makasih sudah memberikan saya makanan kemarin , ini Rantangnya "


" Eh kamu Nak Dirga yah. Iya Nak sama-sama itu sebenarnya kemauan anak saya "


" Wah kalau begitu maaf sudah merepotkan "


" tidak apa nak Dirga "


Pemuda yang sedang berbicara dengan Bu Tuti merasa kesal karena di abaikan.


Pemuda itu memperhatikan Dirga dari atas sampai bawah.


" apakah dia yang di maksud oleh bos " gumam pemuda itu dalam hati


Pemuda itu menepuk pundak Dirga


" aku mau bicara dengan mu "


" Ada apa yah mas? "

__ADS_1


" ikut aku "


Dirga berpamitan dengan Bu Tuti dan pergi mengikutinya , begitu juga dengan Rio.


Pemuda itu membawa mereka kesebuah gang kecil yang tak jauh dari rumah Putri.


Rio mendekat dan berbisik


" Bang , lelaki ini agak lain , masa kita dibawa ke gang kecil seperti ini "


" Kau benar , mari kita lihat dia mau ngapain "


Pemuda itu berhenti dan menghadap kearah Dirga dan Rio.


" Nama ku Hendra Setiawan , Seorang petarung. Mr. SSD memerintahkan ku untuk memberimu kesempatan. Maukah kau menjadi bawahannya , dia akan memberimu 20 juta perbulan. Kalau kau menolak , aku akan menghajar kalian berdua disini "


Ancam Hendra


" Aku menolak tawarannya , suruh dia datang langsung menghadap ku kalau dia mau berbincang , jangan menyuruh orang seperti ini "


" Kalau begitu aku tidak akan sungkan "


Hendra menghilang dari pandangan Dirga dan langsung berada di belakang Dirga.


Pow!!! Sreeet!!!


Dirga menahan serangannya dan terdorong mundur beberapa langkah.


Rio yang melihat itu juga tak tinggal diam , ia menyerang Hendra. Namun dengan mudah Hendra memukul perut Rio yang membuatnya muntah darah


" Pfffft , dia sangat kuat " gumam Rio dalam hati.


Dirga juga melancarkan serangannya.


Bang!!! Pow!!!! Bruuk!!


" Kau boleh juga " ujar Hendra


Mereka beradu pukul di gang tersebut


Dan pada akhirnya Dirga memukul perut Hendra yang membuatnya muntah darah.


" Pfffft. Haha , kau begitu kuat namun kenapa kau menolak tawarannya? "


" Tidak semua bisa di beli oleh harta di dunia ini "


Hendra tertawa


" Hahahaha , akhirnya aku bisa terbebas dari jeratan iblis kaya itu " ujarnya


Hendra melanjutkan kata-katanya


" sepertinya aku akan hidup di desa ini mulai sekarang "


" apa maksudmu? "


Dirga tidak mengerti apa yang ia katakan


" aku hanya mengikuti orang kuat , itulah jalan hidupku. Kau telah mengalahkan ku , maka aku akan mengikuti mu "


Dirga menanggapi penjelasan Hendra


Dan berkata


" Tidak Tidak Tidak , kau harus menjalani hidup mu sendiri , tidak harus mengikuti orang lain "


Setelah mengatakan itu , Dirga menopang tubuh Rio dan membawanya ke rumah Putri karena itu adalah tempat terdekat.


" Assalamualaikum Bu Tuti , numpang taru badan orang Bu "


" Lho Rio kenapa mas? "


" ini , dia dan aku terlibat perkelahian kecil di gang kecil tadi "


" Kamu berkelahi sama Hendra? Kenapa? "


Tanya Bu Tuti


" Uhuk Uhuk , si Hendra itu nyari masalah sama bang Dirga , dia menyerang bang Dirga duluan "


Rio menjelaskan


" apakah karena berebut Putri? " pikir Bu Tuti


" Yasudah , aku sudah menelpon ambulans , mereka akan datang dalam beberapa menit lagi "


Ambulans pun datang dan membawa Rio , ditemani dengan Dirga yang juga ikut.


Di rumah sakit , Dirga duduk di kursi tunggu , menunggu kabar dari dokter.


" Dok , gimana keadaan Rio? "


" Pasien mengalami luka dalam yang lumayan parah , dia tidak boleh terlalu banyak melakukan aktivitas fisik "


" sudah boleh pulang sekarang dok? "


" sudah boleh pulang , tapi dia harus memeriksa lukanya 3 hari sekali "


" baik dok terimakasih "


Dirga masuk keruangan pasien untuk menemui Rio.


" Maaf bang , hari ini ga kerja dulu "


" tidak apa , istirahat saja dulu "


Dirga membantu Rio berdiri dan mengantarnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2