Sebuah Kehidupan

Sebuah Kehidupan
Badut Bertindak?


__ADS_3

" Haha , belum tau keahlian bang Dirga dia rupanya "


" Haha , kamu bisa aja Rio... sudah , ayo cepat angkat gulungan kabel ini "


Para pemuda di desa sangat antusias membantu warga desa. Para ibu - ibu serta anak perempuan lainnya juga sedang sibuk membawa makanan untuk warga yang telah bekerja keras.


Seusainya selesai , warga serta pemuda - pemuda lainnya beristirahat di tenda. Sudah banyak makanan hangat yang siap untuk di makan , seperti biasanya Dirga meminta air kepada Putri sambil menatapnya dengan pandangan yang penuh kebahagiaan.


" Mbak Putri~ minta minum nya dong " panggil Dirga dengan lembut


" Iya mas , ini minumnya.. "


Semuanya tampak tenang dan tentram , warga berbincang santai sambil sesekali tertawa karena hal yang mereka bicarakan. Namun rasanya tidak akan seru kalau konflik tidak datang mengganggu ketenangan tersebut.


Insting Dirga merasakan ada rombongan besar - besaran datang mengendarai motor yang di pimpin oleh mobil Lamborghini berwarna hitam yang penyok , rombongan besar - besaran ini sudah pasti di pimpin oleh Heri Dayatul yang gelagat wajahnya seperti ingin membuat masalah di desa yang tidak besar dan tidak kecil ini.


Rombongan motor tersebut masuk kedalam area lapangan dan mulai teriak - teriak tidak jelas sambil memamerkan senjata - senjata tajam yang mereka bawa.


" Hadeh... Ga beres emang ni orang " ujar Dirga sambil menggelengkan kepalanya


Ia kemudian melanjutkan perkataannya tersebut


" Rio , kamu bentar lagi nikah.. Jangan gegabah menghadapi mereka , biar aku saja yang maju menghadap mereka "


" Tapi bang.... Mereka membawa senjata tajam " Rio tampak khawatir dengan tindakan yang di ambil oleh Dirga


" Tidak apa , hanya masalah kecil "


Geng motor tersebut berhenti di depan tenda. Heri dengan mantelnya yang berkibar gagah perkasa muncul dari rombongan geng tersebut sambil berbasa - basi.


" Ahaha , maaf kan saya pak - Bu.. Karena telah mengagetkan kalian dengan membawa rombongan ini.. "


Dirga pun mewakili para warga yang ketakutan untuk berbicara dengan Heri.


" Haha , aku mewakili warga desa , mengatakan tidak apa... Hehe "


Raut wajah yang sombong Heri berubah menjadi kebencian karena melihat Dirga , ia mengerutkan keningnya lalu maju kehadapan Dirga untuk berbicara dari dekat.


" Kau... Sepertinya kau tidak mendengarkan perkataan ku tadi " Ucap Heri yang berusaha mengintimidasi Dirga


" Apa yang kau katakan tadi , hm? Aku lupa dengan hal itu..."


Perkataan Dirga memprovokasi kemarahan Heri. Namun ia menahannya karena tak mau melawan langsung Dirga di hadapan orang-orang.


Dirga berbisik kepada Heri


" Kalau kau ingin bertarung , sebaiknya jangan sekarang... Aku sedang sibuk di sini " ucap Dirga dengan suara kecil

__ADS_1


" Hmph , sampah seperti mu tak pantas bertarung dengan ku... "


Heri berbalik dan kemudian berjalan menuju mobilnya sambil menjentikkan jari untuk memerintahkan kepada geng motor tersebut agar segera menyerang Dirga.


Ctak!


" Lakukan seperti yang aku katakan.. Hanya serang dia saja "


Geng motor tersebut mengangguk dan mulai maju menghadap Dirga , salah satu dari mereka menyerang Dirga dengan senjata tajamnya sesaat setelah Heri pergi dari tempat itu. Akan tetapi hal itu tidak akan menjadi hal yang sulit bagi Dirga , dengan kecepatannya , Dirga berhasil memukul kepala sebagian besar geng motor tersebut yang membuat mereka tak sadarkan diri.


Sebagiannya lagi malah ketakutan dan memohon ampun kepada Dirga.


" To-tolong , jangan sakiti kami... Kami di bayar oleh pria tadi untuk menyerang mu saja , dan sedikit menakuti - nakuti mu dengan senjata - senjata ini.... "


" Hoh , gitu... Aku akan mengampuni kalian..."


Para geng motor mengangguk


" Kalau kalian ingin menjadi orang yang lebih baik di bawah pimpinan Renaldi.. Bagaimana?.. Ada yang tidak setuju? "


Mendengar kata Renaldi , mereka semua saling menatap kearah satu sama lain.


" Bang Renaldi?.... Baiklah..."


Kemudian Dirga memanggil Renaldi untuk menghadap mereka semua.


" Maaf bang... Kami siap menjalani hukuman karena telah tergiur oleh uang haram.. " ujar salah satu geng motor tersebut sambil menundukkan kepalanya.


Renaldi menoleh kearah Dirga


" Bang , biar aku saja yang urus anak buah membangkang ini.. Maaf karena tidak becus mendidik mereka.."


" Tidak apa... Lebih baik orang - orang ini membantu persiapan untuk acara pernikahan Rio saja.. Biar cepat "


" benar yang abang katakan "


Renaldi menoleh lagi kearah anak buahnya tersebut dan mulai melontarkan kata - kata tegasnya.


" Kalian dengar itu!!? cepat kerjakan sesuai arahan ku!! "


" baik!! "


" jangan lupa bawa yang pingsan ke tenda untuk di istirahatkan sebentar "


" baik!! "


Masa - masa tegang akhirnya berlalu. Para geng motor yang menggangu tadi sekarang berubah menjadi babu untuk para warga. Putri yang khawatir dengan keadaan Dirga mendekatinya dan mulai menanyakan keadaannya dengan nada suara yang gemetar.

__ADS_1


" Mas... Mas gapapa kan? "


" Gapapa kok , cuman masalah kecil begini mah ga bakal bikin luka... Ayo , kembali , aku mau makan dulu sebelum lanjut kerjain ini "


" Em , ayo mas.. "


Sejenak Dirga dan warga beristirahat untuk makan siang , tau - tau saat setelah makan siang selesai , kerjaan yang seharusnya mereka kerjakan ramai - ramai itu tampak sedikit lagi hampir selesai karena jumlah geng motor tersebut yang terbilang banyak.


" Haha , gini dong.. Kan kalian berguna untuk warga , dan enak di pandang mata " ujar Renaldi


Renaldi menoleh kearah warga serta Dirga yang berjalan mendekat


" Bapak - bapak , ibu - ibu... Tidak apa , kalian bisa beristirahat di rumah untuk hari ini... biar rombongan saya saja yang urus.. Sebagai hukuman mereka " Ujar Renaldi dengan lantang


" Apa tidak apa nak Renaldi? " tanya Pak Jaka


" Tidak apa pak , fisik mereka juga bisa di latih dengan membereskan ini "


" Haha , kalau begitu kami akan merepotkan nak Renaldi " ucap Pak RT


" Siap pak RT , tenang aja "


Para warga pun kembali ke tenda untuk lanjut mengobrol serta makan disana , sebagian dari mereka juga ada yang pulang untuk beristirahat di rumah.


Termasuk Suryanto , Dirga dan Sari yang berpamitan dengan para warga untuk pulang duluan. Dalam perjalanannya , Dirga bertanya kepada Suryanto tentang ilmu yang ingin ia pelajari lagi.


" Yah , ada ga sih , ilmu yang bisa menyembunyikan aura kehidupan dan aura petir Dirga ? "


" Haha , ada.. Tapi untuk apa kamu ingin mempelajari ilmu ini? "


" nanti Dirga ceritain pas sampai rumah "


Sesampainya di rumah , Suryanto dan Dirga duduk di sofa ruang tamu untuk berbincang-bincang santai , sedangkan Sari pergi membantu ibunya di dapur.


" Jadi , soal alasan kamu mau mempelajari ilmu ini , apa sebenarnya alasannya? " tanya Suryanto membuka obrolan mereka berdua.


" Jadi gini yah..."


Dirga menceritakan semuanya panjang lebar sampai Sari serta Mina selesai membuat makanan untuk mereka semua.


" Nah , jadi gitu yah... "


"...." ( Suryanto terdiam mendengar cerita Dirga )


" Yah? Ayaaah? " Dirga berusaha menyadarkan ayahnya yang terdiam karena mencerna cerita Dirga.


" Eh?.... Em , ya ya.. Ayah akan ambil beberapa buku untuk kamu.. "

__ADS_1


" baik ayah , ayo kita makan dulu "


__ADS_2