
Pagi hari telah berlalu , Keluarga Dirga mulai menjalankan aktivitasnya masingmasing. Sang ayah yang pergi ke sawah untuk mulai bekerja , dan sang ibu yang sudah mulai men-cuci baju yang tidak banyak juga dan Dirga yang pergi jalan-jalan keliling desa Seuring.
Ia pergi ke rumah penjual emas yang dulu Dirga pernah menjual kalung emas milik ibunya untuk bekal perjalanan merantau. Penjual emas tersebut sering di panggil dengan nama Pak Gusdi.
Tok. Tok. Tok
Dirga mengetuk pintu rumahnya
" Assalamualaikum "
Seseorang membukakan pintu. Ternyata yang membukakan pintu adalah Nadila Ayundi
" Waalaikumsalam. Lho mas Dirga? Ada apa yah mas? "
" Ini. Mau ketemu sama pak Gusdi , ada? "
" Oh , ayah lagi sarapan di dalam. Mas udah sarapan belum? "
" oh sudah "
" mari mas , masuk dulu "
Dirga pun masuk ke rumah tersebut. Ia tidak menyangka kalau Nadila adalah anak dari pak Gusdi. Di dalam , tampak pak Gusdi sedang sarapan dengan ikan asin dan sayur asam beserta sambalnya yang terlihat menggiurkan.
" Assalamualaikum pak Gusdi "
" Waalaikumsalam. Eh? Ini kan yang merantau dulu waktu itu , yang menjual kalung emas sama saya kan? "
" hehe , iya pak. Saya baru pulang kemarin , besok juga akan langsung balik lagi ke kampus "
" wah , hebat kamu. Sudah bisa kuliah "
" haha , ia pak "
" Sudah-sudah , kita makan dulu "
__ADS_1
" eh , tidak usah repot-repot pak "
" ah , tidak apa. Makan dulu makan "
Pak Gusdi menyuruh Nadila agar tetap menyendokkan nasi ke piring untuk Dirga
Pada akhirnya Dirga tetap makan bersama dengan Nadila dan pak Gusdi.
Setelah selesai makan , mereka bertiga berbincang-bincang tentang perjalanan menuju ke desa ini , masa saat masih di kampus dan masih banyak lagi yang di ceritakan oleh Dirga dan Nadila.
Pak Gusdi mendengarkan cerita mereka berdua sembari menyeruput secangkir kopi.
" Wah , kamu hebat sekali Dirga. Tindakan yang heroik "
" sudah seharusnya pak , melihat orang yang harus di tolong "
Mereka mengobrol sampai waktu menunjukkan pukul 10:06 siang. Obrolan mereka berakhir karena pak Gusdi memiliki pelanggan yang ingin membeli emas.
" baiklah pak , maaf mengganggu. Makasih pak atas makanannya "
" haha , ia pak. Assalamualaikum "
" waalaikumsalam "
Dirga pergi ke sawah dimana tempat ayahnya bekerja. Ia melihat lahan padi tersebut sudah di panen.
" Ayah. Sudah di panen? " panggil Dirga dari kejauhan
" iya nak " sahut Suryanto sambil meletakkan karung padi
Dirga mulai mengingat kembali saat ia masih di latih oleh ayahnya.
***
Dulu di pagi hari setelah sholat subuh dan membaca Al Qur'an , Dirga dan Suryanto pergi ketengah tempat menanam padi yang sudah di panen padinya untuk berlatih.
__ADS_1
Mereka berdua mengambil tempat masing-masing untuk memulai latihan , Dirga dan Suryanto mengambil sikap kuda-kuda. Tanpa aba-aba apapun , Suryanto langsung berada di belakang Dirga dan ingin menyerangnya. Namun Dirga tidak semudah itu dapat di kalahkan ,
Meski pergerakannya yang lambat karena lumpur di sawah , itu tidak membuatnya terjatuh. Dirga mulai melancarkan serangannya balik kearah Suryanto. Adu sedang lah mereka berdua disana
Bang!! Buuk!!!! Baaaak!!! Pow!!!
" Haha , hanya segini saja kemampuan mu , Dirga? " ujar Suryanto
Pukulan terus dilancarkan oleh Dirga , tapi sayangnya semua dari pukulan yang Dirga lancarkan itu berhasil di tepis oleh Suryanto dengan mudah. Sampai beberapa menit kemudian , akhirnya satu pukulan Dirga mengenai dada ayahnya yang membuat mereka sama-sama terpukul mundur.
Dirga terpukul mundur karena kelelahan , dan Suryanto terpukul mundur karena pukulan dari Dirga
" baiklah , kerja bagus hari ini. Kita istirahat beberapa menit , setelah itu kita latihan refleks dan insting "
Setelah istirahat beberapa menit , mereka pun melanjutkan latihannya. Sekarang waktunya untuk melatih insting dan refleks , mereka berdua pergi ke sebuah hutan di desa tersebut sembari membawa tongkat kayu kira-kira sebanyak 30 tongkat.
Sesampainya di hutan tersebut , Suryanto menyuruh Dirga untuk berdiri di tengah-tengah hutan tersebut , sedangkan Suryanto pergi meninggalkannya sambil membawa tongkat yang banyak tersebut.
Dirga hanya diam berdiri diantara pepohonan yang menjulang tinggi di sekelilingnya. setelah beberapa menit berdiam , sebuah tongkat kayu melesat kearah punggung Dirga.
Buuuk!!
Dirga tersungkur karena tak bisa menghindar dari tongkat kayu itu , mengingat kecepatannya yang sangat cepat. Sebelum Dirga bisa bangkit dari tersungkurnya , dua tongkat kayu melesat lagi kearah Punggungnya. Sakit yang luar biasa di tahan sebisa mungkin oleh Dirga.
Dirga berusaha berdiri. Dirga menutup matanya dan berusaha untuk menggunakan insting dan refleks nya. Satu kayu melesat kearah wajahnya namun berhasil di hindari oleh Dirga , tongkat kayu tersebut terus melesat kearahnya. Meski tak banyak yang bisa di hindari oleh Dirga , namun sedikit demi sedikit ia mampu menggunakan insting dan refleks nya.
Baaak!!!! Buuk!!! Bang!!!!
Dan akhirnya latihan pun selesai. Tubuh Dirga dipenuhi oleh luka memar dan goresan yang membuatnya mengeluarkan darah. Namun semangat latihannya tidak menurun sedikit pun.
***
" hah , kalau diingat memang sakit rasanya tubuh "
Dirga pun mengambil karung padi tersebut dan membantu ayahnya membawa karung-karung itu ketempat yang biasa mengolah padi.
__ADS_1