Sebuah Kehidupan

Sebuah Kehidupan
Pulang Dari Merantau


__ADS_3

" Para mas-mas. Kita bisa bicarakan baik-baik di kursi duduk , jangan buat keributan seperti ini " usul Dirga


" Hah!!? Siapa kau!!? "


" bukannya ingin ikut campur , tapi pemandangan seperti ini sangat tidak mengenakkan di mata saya "


" Kau pikir kau!!! Berani mencampuri urusanku!! "


Preman tersebut ingin memukul Dirga , namun Dirga dengan cepat menangkap pukulan dari preman tersebut.


Preman tersebut menyuruh kawanannya untuk menyerang Dirga. Maju secara bersamaan sudah menjadi tradisi bagi para antagonis.


Bang!!! Pow!!!!! Brukk!!!!


Namun tetap saja , pukulan para preman tidak bisa mengenai Dirga. Sambil memegang tangan preman yang awal tadi ingin memukulnya , ia menghindari semua pukulan dengan lincah. Saat sudah berada pada momentum yang tepat , Dirga melempar tubuh preman yang dari tadi ia seret sambil menghindar kearah kawanannya , yang membuat mereka tak sadarkan diri.


" mbak , sebaiknya panggil polisi untuk datang "


" Ba-baik mas "


Gadis tersebut langsung menelpon polisi untuk segera datang menuju rest area. Setelah beberapa menit , polisi datang dan membawa para preman. Gadis tersebut sibuk di tanyai kesaksiannya. Dirga pun kembali ke tempat duduk untuk melanjutkan makannya.


Polisi mendatangi Dirga


" Mas Dirga yah? "


" iya pak "


" anda memang hebat , pahlawan masyarakat. Saya sudah mendengar tentang penanganan kasus pembunuhan berencana yang anda selesaikan "


" ahaha , bapak bisa aja. Saya tidak sehebat yang bapak pikirkan " tawa pahit Dirga


" nama saya Hermanto Sandoyo , orang yang melakukan penyelidikan tentang kasus pembunuhan berencana kemarin namanya Ali Halim. Senior saya "


" nama saya Dirga Prananda. Mahasiswa Weyangdarma. Terimakasih sudah membantu disini pak "


" ah , jangan panggil gitu dong. Saya juga seumuran dengan kamu "


" haha. Baiklah "


Mereka berbincang-bincang santai. Setelah beberapa menit , Hermanto berpamitan dengan Dirga untuk kembali ke polres membawa para tangkap. Dirga melambaikan tangan kearah Hermanto.


Dirga melihat gadis tadi yang tampak sedang memesan mobil. Gadis tersebut menghampiri Dirga untuk berterimakasih.


" Terimakasih atas bantuannya mas "


" iya , sama-sama. Saya seperti kenal dengan suara kamu nih......kalau tidak salah nama kamu adalah.......Nadila Ayundi kan? "


" Kok mas bisa tahu? "


" lho? Betul yah? "


Dirga melanjutkan pertanyaannya


" Kamu yang se-SMA dengan Dimas dan Dirga kan? "


" i-iya mas "

__ADS_1


" lho , ini aku. Dirga Prananda "


" A-apa benar? Kamu Dirga "


" iya "


" Tapi , Dirga yang aku kenal adalah orang yang culun di sekolah , ia selalu dibantu oleh Dimas kalau ada yang mengganggunya "


" ah , itu mah dulu. sekarang aku berlatih sedikit ilmu beladiri sama Dimas "


" Wah. Dimas hebat yah , mau membagi ilmunya dengan kamu. Yah tapi kamu memang temannya dari SMA sih "


" haha. Kamu mau kemana? "


" aku mau ke kampung halaman , Seuring "


" ooh , jadi pulang kampung ceritanya nih. Kamu memangnya habis dari mana? "


" oh , aku kuliah di universitas Weyangdarma "


" wah , kok aku ga pernah tahu kamu kuliah di sana. Padahal aku juga sama "


" Aku juga ngeh ada mahasiswa yang namanya Dirga Prananda , tapi saat aku melihat orangnya , kok kayak beda. Dari yang dulunya pakai kacamata dan culun banget , sekarang bahkan kuat menjalani sekolah militer. Jadi aku kira itu bukan orang yang aku kenal dulu "


" Haha. Eh udah jam 00:02 , kamu lagi nunggu Driver? "


" iya nih , tapi ga ada yang bisa sepertinya. Karena waktu yang sudah malam dan jauh juga jalannya "


" Mending kamu nebeng sama ku aja "


" iya. Tuh yang warna hitam "


" oh. Kamu sudah sukses sekarang yah "


" ah , biasa aja. Ayo kita naik "


Mereka berdua pun naik ke mobil Dirga dan melanjutkan perjalanannya sampai menuju desa Seuring. Sesampainya di desa Seuring


" makasih Dirga , karena sudah membiarkanku nebeng sampai ke desa Seuring "


" tidak apa "


Dirga turun dari mobil yang di parkirkan di balai desa. Ia pergi ke arah rumahnya. Melewati sawah dimalam hari , mengingatkan Dirga tentang masa-masa latihan mandiri bersama ayahnya.


Ia disuruh untuk berkonsentrasi pada keadaan sekitar. Dan tiba-tiba sebuah tongkat kayu melesat ke arah Dirga. Diwaktu itu , ia sangat sulit untuk menangkis tongkat-tongkat kayu yang mengarah ke arahnya.


Sampai ia babak belur saat pulang dari latihan mandiri tersebut , banyak bekas memar di bagian tangan , kaki , punggung dan wajahnya


" hah , sungguh nostalgia sekali. Memang saat-saat yang bikin ngangenin saat di ingat-ingat " pikir Dirga.


Dan akhirnya Dirga pun sampai di depan rumahnya.


" hari sudah tengah malam , tidak enak kalau aku mengganggu ibu dan ayah. Lebih baik aku tidur di luar saja lah "


Ia pun merebahkan tubuhnya di sebuah kursi panjang yang terletak di depan rumah untuk beristirahat. Keesokan harinya , ia di bangunkan oleh ibunya yang menyentuh lengannya.


Suryanto menyuruh Mina mundur. Kemudian Ia menyiram wajah Dirga dengan gelas minum

__ADS_1


Sfrrrusshh!!!!


Dirga terkejut dan terbangun


" Anak bandel ini sudah pulang "


Dirga pun memeluk kedua orangtuanya


" ayo kita masuk dulu , kamu pasti kedinginan karena tidur di luar kan? "


Dirga pun masuk kedalam rumah kecil tersebut. Didalam , Mina tampak sibuk memasak untuk anak dan suaminya.


Dirga datang membantunya


" Bu , sini biar Dirga bantu "


" iya nak "


" oh ya ibu. Sudah cek uang yang Dirga kirim untuk ibu dan ayah? "


" belum nak , kenapa emangnya? "


" coba deh ibu lihat uangnya "


Mina membuka Hpnya dan terkejut dengan jumlah yang dikirimkan oleh Dirga


" jadi rencana Dirga gini Bu. Ibu dan ayah bangun rumah ini menjadi lebih Bagus lagi , terus buka sebuah toko untuk mata pencaharian "


" tapi nak , kamu dapat uang dari mana sampai sebanyak ini? Kamu tidak memakai cara yang haram kan? "


" tidak kok Bu , tenang saja. Uang yang Dirga dapatkan ini halal kok "


Dirga mulai menceritakan kehidupan merantaunya. Mina sesekali mengangguk , menanggapi apa yang di ceritakan oleh Dirga. Ia sangat bangga kepada anaknya itu dan memeluknya.


" Ibu bangga sama kamu Dirga "


" iya ibu , ini juga semua berkat ibu yang telah mengurusi Dirga dari lahir "


Suryanto yang sedang ngopi pun masuk kedalam rumah karena mencium aroma sesuatu yang gosong. Saat ia melihat dapur


" Sayang!? Makanannya gosong!! "


Dirga dan Mina juga ikutan panik setelah melihat makanan yang mereka buat untuk sarapan malah gosong karena Dirga yang bercerita terlalu panjang. Dirga buru-buru mematikan kompor.


" Haish kamu ini , masih saja ceroboh seperti dulu Dirga " ucap Suryanto sembari menggelengkan kepalanya


" maaf ayah , ibu "


" sudah-sudah , ibu akan masak lagi yang baru "


Dirga dan Mina pun lanjut memasak untuk sarapan. Mina dan Dirga menyuguhkan makanan yang baru selesai dibuat , mereka makan bersama di halaman rumah. Mina menceritakan semuanya kepada Suryanto tentang perjalanan merantaunya Dirga.


" Dirga , uang yang kamu dapatkan itu uang halal kan? " tanya Suryanto curiga


" iya yah , ayah jangan khawatir dengan uangnya , semuanya dijamin halal " jawab Dirga sambil mengacungkan jempol kearah ayahnya


Mereka pun melanjutkan sarapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2