Sebuah Kehidupan

Sebuah Kehidupan
Bangkitnya Protagonis


__ADS_3

Sesampainya di desa Seuring , Dayu dan Sari menopang tubuh Dirga untuk pulang ke rumah , Disana Mina dan juga Suryanto tampak sudah menunggu dengan wajah yang khawatir.


Saat mereka melihat Dirga , mereka berdua langsung beranjak dari duduknya dan pergi untuk membantu Dirga berjalan ke rumah.


Dirga di baringkan di kamarnya , Dayu setelah selesai mengantar Dirga langsung minta maaf kepada orang tua Dirga dan pulang.


Mina dan Suryanto beserta dengan Sari duduk di samping kasur Dirga. Suryanto bertanya perihal apa yang terjadi sebenarnya , kanapa Dirga bisa sampai seperti ini.


" Nak , sebenarnya kenapa kamu bisa jadi seperti ini? "


Dirga akhirnya menceritakan semuanya panjang lebar. Setelah satu jam bercerita , Suryanto akhirnya mengerti kenapa Dirga bisa kalah.


Suryanto mulai menjelaskan


" Haha , pantas saja kamu kalah. Musuh yang kamu lawan memiliki kekuatan jahat , kekuatan itu dia peroleh pasti dengan cara menumbalkan orang. Kamu diserang oleh roh-roh orang yang telah ia bunuh "


" Wah , memangnya bisa seperti itu yah? "


" bisa. Tapi tidak boleh di tiru. Meski kekuatan itu sangat kuat , tapi memiliki efek samping tersendiri "


" apa efek sampingnya yah? "


" Ayah tidak tau , tapi yang pasti itu ilmu yang tidak boleh di tiru. Kamu bilang kamu di pukul dengan tangan orang tersebut dan saat ingin memukul kamu , tangan orang itu berubah jadi hitam? "


" iya yah "


Suryanto mulai menjelaskan


" Ia menggunakan jurus bernama Aura spiritual. Tidak seperti aura kehidupan yang biasa kamu rasakan , Aura spiritual ini bisa membuat serangan mu menjadi sangat kuat karena adanya energi spiritual yang membantu menambah kecepatan dengan efesiensi pukulan "


Dirga mengangguk menanggapi penjelasan ayahnya


" Bedanya Aura spiritual dan Aura kehidupan adalah. Kalau aura kehidupan bisa kamu rasakan terhadap siapapun kecuali ia adalah benda mati. Sedangkan Aura spiritual terletak pada tubuh mu , ia terus mengalir ke seluruh tubuh yang membuat kamu jadi tidak mudah lelah dan menambah kekuatan Insting beserta fisik "


" ooh , jadi kalau aura kehidupan bisa di rasakan terhadap makhluk hidup kecuali benda mati dan Aura spiritual berada di tubuh kita dan terus mengalir "


" iya. Aura Spiritual terbagi menjadi beberapa jenis , ada jenis Air , api , angin , kegelapan dan yang paling kuat adalah petir. Jenis petir sangat susah untuk di latih karena memiliki persentase kecocokan yang sangat kecil. Kalau ayah memakai aura jenis Air "


Suryanto menunjukkan tangannya yang di aliri oleh air.


" Wah , keren sekali "


" ya , tapi bagaimanapun kamu harus sehat dulu. Baru bisa berlatih "


Dirga mengangguk dan kembali beristirahat. Keesokan harinya , Dirga tidak bisa melakukan apapun karena Sari yang tidak memperbolehkan Dirga kemana-mana


" kamu cukup baring diam di sini , biar Kakak yang lakuin "

__ADS_1


Karena tidak terbiasa mengandalkan orang lain , Dirga menjadi kurang nyaman dengan keadaan seperti ini. Setiap harinya ia melakukan terapi agar tubuhnya pulih kembali , ia juga di bantu oleh Sari untuk melakukan terapi.


Hari demi hari sudah Dirga lewatkan. Dirga akhirnya pulih total seperti sedia kala , ia dan Sari ingin kembali ke kampus mengingat mereka izin pulang ke kampung. Sehari sebelum pulang , Suryanto mengajak Dirga ke halaman belakang rumah.


Disana Suryanto ingin menunjukkan sesuatu seperti ruang bawah tanah.


" Sekarang mungkin sudah waktunya kamu belajar jurus Aura spiritual " ucap Suryanto sembari membuka sebuah pintu yang terdapat anak tangga menuju kebawah.


Mereka berdua menuruni anak tangga tersebut dan mendapati diri mereka berada di ruangan yang terdapat banyak buku.


" wah , ruangan ini seperti perpustakaan " ucap Dirga kagum melihat sekitarnya


Suryanto pergi ke satu rak buku dan mengambil benda. Benda itu adalah buku jurus pelatihan Aura seperti yang di katakan oleh ayahnya. Buku itu berukuran sangat kecil , muat untuk dibawa kemana-mana.


Sebelum memberikan buku tersebut kepada Dirga , Suryanto mengingat Dirga


" Nak , ayah harap kamu menggunakan ilmu ini supaya menjadi amal jariyah untuk ayah , jangan malah menjadi dosa jariyah "


" pasti ayah , aku akan terus menggunakan ilmu yang ayah ajarkan untuk kebaikan "


" baiklah , ayah percaya pada mu Dirga "


Suryanto memberikan buku kecil tersebut kepada Dirga dan kembali ke atas untuk berangkat ke kampus. Setelah berpamitan dengan orangtuanya , Dirga dan Sari berjalan ke halte bus untuk pergi ke universitas Gunadarma.


" de , kepala kamu aman , kan? Kalau sakit lagi bilang ke kakak yah? "


Sari dan Dirga pun berangkat. Perjalanan mereka memakan waktu satu setengah hari. Setelah sampai di Universitas , Dirga dan Sari langsung menuju asrama masing-masing untuk beristirahat.


Rendi dan Daniel terkejut melihat Dirga yang masuk ke kamar , dan ngobrol-ngobrol santai disana.


Mereka berdua baru saja selesai mengikuti kelas dan ingin beristirahat sebentar , Dirga juga masih harus mengikuti kelas. Ia berlari ke arah kelas sambil membawa buku dan pulpen , untungnya dosen belum datang dan para teman-teman Dirga juga terkejut melihat Dirga yang lari-lari seperti sedia kala.


Dirga masuk kelas dan disambut dengan hangat oleh mahasiswa lainnya.


Sebelum dosen datang , mereka semua ngobrol-ngobrol santai.


Seusainya mengikuti semua kelas , Dirga pergi ke kafetaria kampus untuk makan malam bersama teman-temannya


" Rey , mobil ku masih di rumah? "


" tidak. Ada di parkiran , karena terlalu gelap jadi susah untuk di lihat mata "


" haha , makasih-lah udah mau bawain "


" makasih apanya , aku menggunakan mobil mu untuk mengangkut barang. Tidak perlu berterimakasih seperti itu "


" haha "

__ADS_1


Mereka semua makan malam sambil berbincang-bincang santai di sana. Sesudahnya makan , mereka semua balik ke asrama masing-masing untuk beristirahat. Rendi dan Daniel sudah tertidur namun tidak dengan Dirga yang masih terjaga karena ia masih latihan ilmu spiritual dengan buku yang di berikan oleh ayahnya. Ia pergi ke atap asrama untuk latihan.


Latihan di jam-jam pertama ia hanya merasakan aura di sekitarnya , namun seiring berjalannya waktu , ia mulai merasakan ada aura yang asing baginya.


Dirga terus berkonsentrasi , instingnya menguat yang membuat kekuatan spiritual di sekitarnya mengumpul menjadi berbentuk manusia.


Kekuatan spiritual yang mengumpul itu mulai berbicara


" Kau cepat seperti petir. Berkekuatan besar dan juga memiliki tekad yang kuat. Kau tenang seperti air. Cepat seperti petir dan tenang seperti air "


Kekuatan itu masuk kedalam tubuh Dirga yang membuat langit gelap , petir pun menggelegar dan menyambar Dirga. Ia tidak merasakan sakit , karena sejatinya awan beserta petir itu adalah kekuatan spiritualnya.


Jam menunjukkan pukul 3:58 pagi , Dirga menyudahi latihannya dan membuka matanya yang berubah warna menjadi biru terang. Ia tak sadar kalau pakaiannya hancur karena tersambar oleh petir yang membuatnya setengah telanjang.


Ia turun dari atap dan masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap sholat subuh. Ia membangunkan Rendi dan Daniel untuk bersiap sholat subuh , dan pergi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai sholat subuh dan membaca Al Qur'an , Dirga seperti biasanya joging pagi. Ia juga melihat kakaknya dan Putri yang sedang lari bersama.


" Assalamualaikum mbak Putri , kak Sari "


" Waalaikumsalam "


" Kamu ini Dirga!! Bukannya istirahat malah joging , nanti kalau kamu pingsan bagaimana? " ujar Sari


" Tidak mungkin kak , Dirga udah pulih total "


" Tapi tetap saja..... "


Pandangan Sari seketika teralihkan oleh mata Dirga yang bewarna biru terang , terlihat beda.


Sari mulai berbisik


" de , kamu sudah mempelajari ilmu spiritual yang di berikan oleh ayah ya? "


" iya "


" wah , hebat sekali bisa secepat ini "


" hm , mungkin karena insting Dirga yang kuat sehingga dapat dengan mudah merasakan aura spiritual di sekitar "


Putri mulai bertanya perihal apa yang di bicarakan mereka berdua


" hey , kalian berdua bisik-bisik apa? "


" ah , tidak ada "


Mereka melanjutkan lari paginya.

__ADS_1


__ADS_2