
Dirga terbangun di atas ranjang rumah sakit. Dan mulai mengingat kembali pertarungan yang ia lakukan dengan Patan. Disaat yang bersamaan , Sari masuk ke dalam ruangan pasien dengan raut wajah khawatir.
Dirga pun duduk
" Eh kakak? "
" Haish , kamu ini. Kamu baru saja bisa mengendalikan aura petir , tapi sudah ingin mengeluarkan kemampuan lebih. Itu akan menghabiskan tenagamu dan malah akan membahayakan diri sendiri "
" Hehe , maaf telah membuat kakak khawatir. Tapi Dirga gapapa kok. Istirahat sebentar saja sudah bisa pulih total "
" Iya deh , kalau begitu ayo kita balik ke asrama "
Dirga mengangguk dan pergi bersama kakaknya untuk pulang ke asrama.
Keesokan harinya Dirga seperti biasanya mengikuti kelas dengan serius karena sebentar lagi para Mahasiswa akan dihadapkan oleh Ujian Tengah Semester. Mereka semua pada sibuk dengan buku dan pulpen mereka.
Tak terkecuali Dirga yang juga sama sibuknya dengan mahasiswa lain. Setelah semua kelas selesai , Dirga pergi ke kafetaria untuk makan malam. Semua orang ada di tempat itu , mengobrol santai sambil makan.
" Guys , lihat deh berita terbaru. Katanya para penculik sudah di berantas oleh kepolisian "
" Iya yah. Alhamdulillah kalau begitu , tapi ada sebuah video yang menunjukkan kalau kepolisian juga di bantu oleh seseorang yang seperti dewa petir gitu tau "
" Ah , yang bener kamu Ta. Coba dong bagiin Videonya "
Lita membagikan Video yang di maksud , dimana Dirga saat itu keluar dari tanah sambil menyeret tubuh Patan yang tak sadarkan diri.
" Eh iya dong , tapi kok kayak familiar dengan orang ini yah? " ujar Daniel
" Ah , perasaan kamu doang itu "
Dirga hanya tersenyum mendengarkan pendapat dari mereka semua sambil memakan makanan yang ia pesan.
***
Di kota Wayangandja , seorang dengan baju jas hitam sambil memakai topeng dengan paruh burung tampak kesal karena rekannya Patan sudah tertangkap.
" Patan bodoh!!!! "
" Hanya melawan bocah saja tidak mampu , membuat orang jadi susah saja "
Orang itu berdiri dan pergi kearah komputer yang berada di depan. Di layar komputer tersebut terpampang jelas wajah Dirga.
" Haha , bodoh sekali si Patan itu. Bahkan ia tidak bisa melawan keponakan ku ini? Haha. Bang Suryanto , hmm. Sudah lama sekali rasanya "
Ia mengeluarkan Aura Api dan memukul komputer yang ada di depan sampai hancur
Praaang!!!!
" Huh , Abang memang hebat bisa punya keturunan semenakutkan itu , sampai-sampai bisa menggunakan Aura petir biru. Tapi tidak apa , aku juga ingin sekali berhadapan dengan keponakan tersayang ku ini "
***
Keesokan harinya , Dirga belajar seperti biasanya. Mentor mengingatkan para mahasiswa dan siswi untuk belajar lebih giat lagi karena UTS sudah hampir tiba.
Semuanya menanggapi hal itu dengan jawaban " Iya Bu " dan pergi ke ke kafetaria untuk makan siang seperti biasanya.
Saat sedang makan , ia di hubungi oleh Walian. Dirga pun mengangkat telponnya
[ Dirga ]
Assalamualaikum pak
[ Walian ]
__ADS_1
Waalaikumsalam. Dek Dirga , ada waktu senggang ga yah? Saya mau ketemuan
[ Dirga ]
Aduh pak , saya sekarang masih ada kelas. Tapi nanti sore saya bisa ketemu dengan bapak
[ Walian ]
Oh baiklah kalau begitu , maaf sudah mengganggu waktu dek Dirga
[ Dirga ]
Iya pak , gapapa. Yaudah nanti ketemu di mana pak?
[ Walian ]
Di kantor saya saja seperti biasanya
[ Dirga ]
Oh baiklah pak. Assalamualaikum
[ Walian ]
Waalaikumsalam
Dirga menutup telponnya dan lanjut memakan makanan , dan Waktu istirahat pun habis. Dirga kembali ke kelasnya untuk melanjutkan pelajaran mereka.
Sesudahnya menyelesaikan semua kelas , Dirga pergi ke parkiran mobil untuk mengambil mobilnya , karena ia ingin menemui Walian di kantornya.
Ia pun tancap gas dan langsung pergi ke Asean ID Group , dimana tempat Walian bekerja.
Sesampainya disana , Dirga langsung naik keatas untuk menemui Walian. Di dalam kantornya , Walian duduk sambil memangku Putrinya yang bernama Salva Salsabila. Salva adalah salah satu korban dari penculikan di waktu lalu.
" Oh Dek Dirga , ayo silahkan duduk dulu "
Dirga pun duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Walian. Walian memperkenalkan anaknya kepada Dirga
" Sayang , ini adalah kakak Dirga , orang yang telah menyelamatkan kamu dan Sandra lainnya "
Saat melihat wajah Dirga , ia malah takut dan membelakangi Dirga.
" Lho? Kamu kenapa Salva? "
" Takut.....Dewa petir "
" Ha? Dewa petir? "
Walian bingung dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu dan mulai teringat dengan suatu video yang ia lihat di berita yang lagi panas , dimana seorang berperawakan seperti dewa petir keluar dari tanah sambil menyeret tubuh seseorang.
" Tidak mungkin.....Dewa petir itu kamu Dirga? Ini tidak mungkin kan sayang? "
Salva tidak menjawab dan tetap memeluk tubuh ayahnya tersebut.
" ahaha , pak Walian jangan takut. Itu memang saya tapi mohon untuk tidak di bocorkan "
" Tapi , ini sangat tidak mungkin. Kamu beneran manusia kan? "
" Iya pak , saya manusia betul. Ini hanya hasil latihan yang saya jalankan saja "
Dirga menunjuk Aura petir yang memancar ke seluruh tubuhnya
" Ini sungguh tidak dapat di percaya "
__ADS_1
" Mohon untuk bapak agar tetap merahasiakannya " ujar Dirga sambil membungkukkan badannya
" Eh , tidak perlu sampai seperti ini. Saya akan merahasiakannya kok. Dan bagaimana pun saya juga berterimakasih kepada dek Dirga karena sudah menyelamatkan Salva "
" haha itu sudah semestinya pak. Tidak perlu berterimakasih "
Dirga berusaha menenangkan Salva yang ketakutan
" De Salva , jangan takut. Petir kakak tidak akan menyakiti orang baik seperti Ade "
Salva mulai menoleh ke arah Dirga.
" Baik....kak Dirga "
" haha , baguslah kalau begitu "
Dirga dan Walian ngobrol-ngobrol santai sambil memakan camilan yang sudah di sediakan oleh Walian di meja kerjanya.
" Waktu itu di malam hari , saya merasakan gempa bumi. Apakah itu efek dari pertarungan dek Dirga? "
" hehe , iya pak. secara tidak sengaja memicu gempa , untungnya tidak terlalu serius gempanya "
" Haha , iya yah. Tapi ini pertarungan antara pesilat-pesilat yang kuat seperti yang ada di komik dan novel , meski dek Dirga sudah menunjukkannya tadi , saya masih tetap ga percaya "
" haha , saya juga ga percaya ada ilmu yang seperti ini. Tapi saat saya pulang ke kampung halaman , saya malah di turunkan kemampuan yang seperti ini oleh ayah saya "
" Haha , lebih berharga dari harta. Ayah kamu hebat sekali Dirga "
Karena hari sudah mulai malam , Dirga berpamitan dengan Walian untuk kembali ke kampus
" Pak , saya pamit dulu. Udah malem , besok masih harus ikut kelas "
" iya dah nak Dirga , hati-hati dijalan "
" Iya pak , assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
Dirga pun berjalan turun dari lantai kantor Walian dan pergi ke parkiran dimana mobilnya terparkir. Ia masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
Di perjalanan , ada dua mobil truk yang sedang mengikuti Dirga. Mobil truk tersebut menambah kecepatannya untuk menghimpit mobil Dirga supaya hancur.
" Haha , matilah kau dewa petir " ujar sopir yang mengendarai Truk tersebut.
Mobil Dirga terhimpit dan hampir membunuh Dirga namun Ia memecahkan kaca depan mobil menggunakan kakinya dan melompat ke luar dari kaca depan tersebut.
Bersamaan saat Dirga melompat , mobil Dirga meledak karena dihimpit oleh dua truk itu.
" Huh , hampir saja "
Mobil truk tadi juga ikut meledak karena terkena ledakan dari mobil Dirga. Sopir yang mengendarai truk tersebut jelas mati karena ikut meledak bersama mobil yang ia kendarai.
" Dirga menelpon pemadam kebakaran untuk menangani kebakaran mobil tersebut "
Banyak orang yang melihat kejadi tersebut dan mulai bertanya dengan Dirga , apa kenapa dan mengapa. Dirga menjawab mereka secara jelas dan tentunya bohong , Dirga mengaku itu adalah kecelakaan biasa.
Dan akhirnya ia terpaksa naik taksi dari pusat kota ke kampus , ia sampai sekitar jam 18:40.
Setelah membersihkan diri dan sholat Maghrib , ia pun pergi ke kafetaria kampus untuk makan malam bersama teman-temannya. Semuanya khawatir dengan keadaan Dirga karena berita sudah terekspos dengan sangat cepat.
" Dirga , kamu gapapa kan? Dikit lagi UTS , jangan nyari bahaya gitu dong "
" aku gapapa , siapa juga yang nyari bahaya "
__ADS_1
Mereka pun makan malam bersama. Setelah selesai makan , Dirga langsung pergi ke asrama putra untuk beristirahat karena besok masih harus mengikuti kelas.