Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 20 - Pagiku Bersamamu


__ADS_3

"Jadi, ini alasanmu mengirim chat seperti itu?"


"Ah, t-tidak Pak. S-saya mengirim chat bukan karena t-teman saya belum datang, t-tapi ...." Aku terdiam sejenak. Meskipun tidak masuk akal, selintas ide datang begitu tiba-tiba.


"Saya mau tanya rundown acara Pak. Kira-kira, detail acaranya seperti apa untuk training besok? Bapak 'kan tahu, kalau training ini adalah training pertama yang pernah saya ikuti. Saya tidak ingin membuat kesalahan yang menyebabkan nama cabang kita jadi jelek," ungkapku panjang lebar. Mencari pembenaran dari setiap perkataan. Menunjukkan gestur meyakinkan, meskipun mata ini tak mampu menatap netra gelap yang tengah memandangku dengan tajam.


Tak ada jawaban. Mungkin Pak Armand menyadari kebohonganku. Memang itu alasan yang cukup bodoh. Di rundown telah dijelaskan kegiatan apa yang akan dilakukan. Tak butuh orang cerdas untuk memahaminya. Namun aku, seorang wanita yang tengah putus asa, menggunakannya sebagai alasan. Pasti aku terlihat bebal di mata Pak Armand.


"Bawa rundownnya. Ikuti aku." Dia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, "pakai jaket tebal." Setelah mengucapkan hal itu, Pak Armand berlalu dari hadapanku.


***


Sesuai dengan perintah Pak Armand, aku mengambil rundown acara yang telah dicetak dan buru-buru mengikuti langkah beliau.


Perasaanku menyatakan, lebih menyeramkan berada sendirian di dalam kamar dibanding mengikuti Pak Armand, sehingga tanpa ragu, aku pun mengikutinya.


Aku pikir beliau akan membawaku ke tempat yang jauh, namun ternyata tidak seperti itu. Kami hanya berjalan sekitar dua puluh meter dan berhenti di sebuah hamparan rumput yang cukup lapang.


Di sekitaran terdapat beberapa bekas api unggun yang telah dipadamkan. Pak Armand mengumpulkan beberapa ranting kayu kering dan mulai menumpuknya hingga membentuk melingkar.

__ADS_1


Beliau juga mengumpulkan daun-daun kering dan menaruhnya dibawah tumpukan kayu. Beberapa saat kemudian, beliau mengambil korek dan mulai membakar dedaunan itu. Rupanya beliau tengah membuat api unggun.


Begitu nyala api mulai stabil, beliau menoleh padaku. "Sini," ajaknya. Dengan perasaan tak menentu, aku menghampiri beliau.


"Duduk." Beliau menunjuk tempat di sebelahnya. Lagi-lagi, tanpa berpikir, aku hanya bisa mengikutinya. Duduk disebelahnya dengan debaran dada yang tak menentu. Jantungku sedang tidak baik-baik saja.


"Rundown yang mana yang tidak kamu pahami?" Dan aku minta dijelaskan dari awal hingga akhir.


Pembahasan mengenai rundown acara training, membuat suasana mulai mencair. Rasa kaku dan sungkan sedikit demi sedikit mulai menghilang, digantikan rasa santai.


Di mataku, Pak Armand adalah sosok kaku, tegas dan menakutkan. Namun ternyata tak seperti itu. Beliau menjelaskan apapun yang kutanyakan. Perasaan ini membuatku sangat nyaman. Hingga tanpa sadar pembicaraan itu terus berlanjut.


Tidak ada tanggapan dari Pak Armand. Beliau hanya menjadi pendengar yang baik. Raut wajah beliau melembut. Membuat pertahanan diriku mengendur. Aku menganggap Pak Armand bukan sebagai ancaman, tapi kenyamanan.


Perasaan mengantuk mulai datang. Mata mulai berat. Tubuh terasa rileks. Beberapa kali kepalaku terantuk-antuk karena terbawa kantuk. Hingga akhirnya kepala itu menemukan sandaran yang nyaman, kokoh dan hangat. Aku tertidur lelap.


***


Suara katak, kicauan burung, dan jangkrik mulai bersahut-sahutan. Hembusan angin menembus kulit. Membuatku menggigil kedinginan.

__ADS_1


Aku mengerutkan badan. Bergelung mencari sumber kehangatan. Sebuah benda kokoh, cukup memancarkan rasa panas, membuatku semakin mendekat.


Aroma woody dan peppermint menguar. Aroma khas yang kukenali. Aroma yang mampu menghiasi indra penciumanku setiap hari. Aroma dari pria yang mengisi seluruh pikiranku ini. Aroma Pak Armand.


Seketika mataku terbuka. Nyawaku yang masih terisi separuh, langsung terisi penuh. Feelingku sangat tidak enak.


Hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah sebuah baju training berwarna hitam. Kutelan ludah dengan susah payah. Aku sudah bisa menebak, siapa si pemakainya.


Sejengkal, dua jengkal. Kuberanikan diri untuk menelusuri tubuh itu. Dari lengan kekar, dada, dagu, bibir, hidung dan terakhir ... Matanya ....


DEG


Jantungku seperti berhenti berdetak. Mataku bertatapan dengan mata paling gelap yang pernah kutemui. Mata tanpa ekspresi.


"Pagi," sapa suara serak itu.


***


Happy Reading πŸ™πŸ™‡β€β™€οΈ

__ADS_1


NB : Maaf kalau hambar dan kaku πŸ™‡β€β™€οΈLagi memaksakan diri untuk kembali menulis. Maaf kalau ada kemunduran dalam penulisan πŸ™πŸ™‡β€β™€οΈ


__ADS_2