Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 58 - Salah Paham


__ADS_3

"Sha, kamu kok pulang dulu kemarin? WA-ku juga nggak kamu balas. Kamu kenapa?"


"Aku hanya nggak enak badan, Kak."


"Pulang sama siapa? Pacar army-mu?" Aku mengangguk pelan. Kak Niar menepuk bahuku. "Sha, pacarmu gagah banget lho. Bilang ke pacarmu Sha, punya temen yang lagi jomlo nggak. Aku mau dikenalin."


Obrolan itu berlanjut selama beberapa saat. Kak Niar baru melepasku setelah aku berjanji untuk menanyakan pertanyaannya itu. Setelahnya aku pergi ke lantai dua.


Begitu kembali duduk di kursi, pertanyaan di kepalaku tak berhenti berputar-putar. Kenapa dia belum datang? Apa dia tidak masuk kerja?


Arsha! Stop pikirin dia! Fokus sama kerjaanmu! Bukankah kamu senang bila dia tidak datang?!


Aku memaki-maki diri sendiri karena pikiran dan perasaan bodohku yang masih saja terpaku pada dia. Aku berusaha fokus pada pekerjaan dan menyelesaikannya satu per satu.


Begitu waktu menunjukkan pukul 09.47 WIB, pria itu datang. Aku membenamkan kepala di bawah meja agar luput dari perhatiannya. Tapi percuma, mata elangnya mengetahui keberadaanku.


"Arsha, ke ruangan," ucapnya sembari menunjuk ruangannya. Ingin rasanya aku menghentak-hentakkan kaki seraya mencakar punggungnya. Namun tentu saja hal itu hanya berada dalam angan. Dengan gontai, aku melangkah ke ruangannya.


***


"Kemarin pulang sama siapa?"


"Tunangan."


Mendengar jawabanku, rahang Pak Armand mengeras. Matanya membatu. Sementara tangannya mengepal dan detik berikutnya, pena itu patah di tangannya.


"Kalian sudah bertunangan?"


"Ya. Saya memutuskan untuk menerima lamarannya." Aku bisa melihat buku-buku jari itu memutih. "Kalau tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan, saya ...."


"Aku menyukaimu," ungkapnya lagi. Mata itu menatap dalam-dalam. Seolah tengah mengorek isi hatiku yang terdalam. Aku tak boleh lengah. Tak boleh goyah. Pria di depanku sudah memiliki istri yang tengah mengandung. Aku tak boleh tergoda dengan rayuannya.


"Saya pamit dulu Pak. Saya harus ke BI." Aku beringsut berdiri.

__ADS_1


"Duduk," perintahnya dengan nada rendah.


"Kalau masih mau membahas hal pribadi, saya keluar dulu ...."


"Arsha, aku menyukaimu. Aku sayang kamu." Pengakuan yang dibuat dengan suara rendah. Dari sorot matanya, aku tahu dia tak berbohong dengan ucapannya. Namun hal itu tak membuatku senang. Mendengar ucapan dia justru membuat amarahku meluap. Ada kobaran di dada yang ingin kukeluarkan.


"Lalu kenapa? Apa yang Bapak harapkan dari saya? Apa saya harus membalasnya dan mengatakan hal yang sama?! Kalau saya tak merespon itu artinya saya tidak memiliki perasaan yang sama!"


"Arsha ...."


"Bapak tidak tahu malu ya. Bapak sudah menikah! Istri Bapak sebentar lagi mau melahirkan! Tapi Bapak masih menyatakan perasaan pada anak buahnya yang sudah memiliki tunangan?! Dengan cara memaksa lagi. Dimana etikanya?!"


"Arsha, kamu salah paham ...."


"Salah paham apa?!" Rasanya aku ingin tertawa histeris mendengar ucapannya. "Saya rasa percakapan ini cukup sampai di sini. Saya permisi. Masih mau ke BI." Selesai mengatakan hal itu, aku langsung berlari ke arah pintu dan memutar knopnya secepat mungkin agar tak kembali tertangkap seperti kejadian yang sudah-sudah.


"Arsha!"


Aku berhasil keluar dari ruangan itu. Suara dia masih bisa kudengar, namun kuabaikan. Aku yakin dia tidak akan berani mengejar. Kredibilitasnya sebagai atasan juga akan dipertanyakan.


Dasar kepala batu! Harus dengan apa membuatnya sadar? Salah paham katanya?! Hahaha! Alasan klasik! Semua laki-laki akan menggunakan alasan itu untuk menjerat korbannya! Dasar pria tak berperasaan. Tapi setidaknya aku berhasil mengeluarkan uneg-unegku meskipun tidak semua.


Andaikan tidak takut untuk ditangkap, mungkin aku akan memuntahkan segala ganjalan perasaan ini. Memaki-makinya untuk semua hal yang telah dilakukannya.


***


Berada di Bank Indonesia dan berkumpul dengan teman-teman dari bank lain membuat pikiranku sedikit teralihkan. Yah, meskipun hal itu tak lebih dari satu jam.


Menjelang pukul sebelas, aku kembali ke kantor. Di sepanjang perjalanan, perasaan kesal kembali datang. Aku tak bisa membayangkan hal apa yang akan dia lakukan ketika melihatku lagi.


Bekerja dengan membawa-bawa perasaan seperti ini membuat sangat tidak tenang. Apa seterusnya aku akan berada di kondisi seperti ini? Apa keputusanku untuk bertahan di tempat ini adalah keputusan yang tepat?


Tak sampai setengah jam, mobil sudah mendekati area kantor. Dari jarak tiga puluh meter, aku bisa melihat kepulan asap yang membungbung tinggi, sementara para karyawan berhamburan keluar.

__ADS_1


"Pak, ada apa itu Pak? Kok banyak karyawan pada keluar?"


"Sepertinya kebakaran, Mbak!"


"Yang benar, Pak?!"


"Iya, Mbak. Kantor kita yang kebakaran!"


"Beneran Pak?!"


"Benar Mbak! Liat itu! Asapnya berasal dari gedung kita. Itu anak-anak pada keluar, Mbak!" Pak Driver menunjuk para karyawan dengan seragam merah dan abu-abu. Aku mengenali mereka sebagai frontliner dan para marketing di kantorku.


"Pak, cepat!"


"Bukannya bahaya kalau mendekat Mbak?"


"Saya mau memastikan sesuatu. Cepat Pak!" Driver memacu mobil sampai jarak aman. Kemudian memarkir mobil di bahu jalan.


Aku turun dari mobil dengan tergesa-gesa kemudian berlari ke arah teman-teman yang tengah bergerombol di depan gedung sembari menatap kepulan asap. Banyak warga yang berkerumun. Ada yang mendokumentasikan lewat ponsel, ada pula yang cukup perhatian dengan menelepon pemadam kebakaran.


"Kak Niar!" Wanita yang kupanggil langsung menoleh. Wajahnya dipenuhi dengan kelegaan.


"Sha! Untung aja kamu nggak di dalem! Yang kebakaran di lantai 2, Sha! Dekat dengan ruanganmu." Dekat dengan ruanganku berarti dekat pula dengan ruangan Pak Armand!


Aku memperhatikan sekitar untuk melihat wajah-wajah dan mengabsennya satu per satu. Semua orang ada di sini, kecuali satu orang itu. Aku tak melihat wajah yang kucari. Tubuhku terasa ringan. Asam lambung naik, membuatku ingin muntah sementara kepala mulai pusing.


"P-pak A-armand d-dimana Kak?"


"Sepertinya masih di atas. Kami nggak tahu, Sha. Kami semua panik. Jadi masing-masing dari kita menyelamatkan diri tanpa tengok kanan-kiri. Mungkin ...."


Aku tak mendengar penjelasan itu sampai selesai. Langkahku terasa ringan. Bahkan aku merasa seperti terbang. Aku mengacuhkan semua teriakan. Dan menerobos gedung itu tanpa berpikir dua kali.


***

__ADS_1


Happy Reading 🥰


__ADS_2