Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 66 - POV Armand


__ADS_3

Mengetahui background keluarga Arsha membuatku tak bisa memandangnya hanya sebagai staff biasa. Aku benar-benar menganggapnya seperti adik sendiri. Jiwa protektif dan posesif muncul seketika.


Aku jadi selalu mengkhawatirkan apapun yang dia lakukan. Setiap hari Arsha berkendara dari rumah ke kantor dengan menggunakan motor menempuh jarak hampir 40 km. Berangkat pagi-pagi sekali dan pulang paling malam. Hal ini sangat riskan untuk keselamatannya. Untuk itu aku menyarankan Pak Usman untuk membuat Arsha tinggal di daerah dekat kantor. Meskipun pada awalnya sedikit keberatan, pada akhirnya ideku dapat diterima.


Sama seperti anak baru lainnya, Arsha melakukan beberapa kesalahan yang bisa dibilang cukup fatal. Sebagai orang yang bertanggung-jawab terhadapnya, aku melakukan hal yang kubisa untuk melindunginya. Andaikan staff lain yang melakukannya, aku pun tetap akan melakukan hal yang sama.


Sebenarnya, bukan Arsha saja yang sering melakukan kesalahan. Staff lain yang sudah senior pun tak luput dari kesalahan. Selama kesalahan itu tidak menyangkut fraud, aku akan pasang badan untuk mereka.


***


Hari-hariku yang biasanya hambar kini menjadi sedikit berwarna. Entah mengapa kehadiran Arsha membuatku terhibur. Bocah ini sangat lucu dengan berbagai tingkah absurdnya.


Pernah suatu malam, ketika kami sedang lembur, dia hampir tertindih puluhan berkas. Secara refleks aku menggunakan tubuhku untuk melindunginya, sehingga membuat tubuh kami tanpa sadar berpelukan erat.

__ADS_1


Jarak kami begitu dekat. Bahkan bisa dibilang tanpa jarak. Di kondisi normal, mungkin akan terjadi sesuatu. Dua orang dewasa berada di satu tempat dalam keadaan tak berjarak. Namun aku tak melihat hal itu. Di mataku, Arsha hanyalah seorang adik kecil yang butuh dilindungi sehingga meski tubuh kami dekat sekalipun tak menimbulkan perasaan tertentu.


Yang membuat lucu, gadis itu justru memejamkan mata sembari menguncupkan bibir. Apa yang ada di pikirannya? Bukannya terlihat menggoda, dia malah terlihat sangat lucu. Aku menahan diri untuk tak mencubit pipinya kala itu.


Tingkah konyol Arsha tak berhenti sampai di situ. Ketika kami ditugaskan untuk melakukan OJT (On the Job Training), dia tertidur di bahuku. Lucunya dia ngiler. Aku sama sekali tidak jijik. Hanya merasa sangat lucu. Wajah polosnya saat tidur benar-benar sesuatu. Apa seperti ini rasanya memiliki adik perempuan? Lucu dan menggemaskan? Lagi-lagi aku menahan diri untuk tak mencubit pipinya. Alih-alih melakukannya, aku justru menyematkan anak-anak rambut yang menutupi wajahnya ke telinga.


Saat OJT ada begitu banyak momen lucu. Dari Arsha yang menggenggam tanganku erat saat pesawat lepas landas, hingga chatnya yang minta ditemani. Namun ada satu momen yang memacu adrenalinku. Momen saat Arsha hilang!


Aku tak pernah panik menghadapi apapun. Jangankan Nadya yang bertingkah di depan keluarga, blue print bernilai ratusan milyar hilang sekalipun tak membuatku hilang kendali. Namun, ketika aku tahu Arsha hilang, perasaan takut dan khawatir itu menguasai tubuh. Membuatku tak bisa berpikir. Bahkan untuk sesaat aku lupa cara bernapas. Otakku ngeblank seketika.


Semakin dalam memasuki hutan, rasa takut tak bisa menemukan Arsha semakin besar. Aku tahu lokasi training adalah tempat wisata, sehingga kemungkinan ada binatang buas juga kecil. Namun diberdayakan seperti apapun, hutan tetaplah memiliki penghuni alami.


Menggunakan fitur flashlight yang ada di ponsel, aku menyusuri daerah-daerah yang menjadi lokasi permainan. Karena tak berpikir jernih, aku kurang perlengkapan. Namun hal itu tak menghambatku dalam usaha mencari Arsha.

__ADS_1


Di setiap langkah, aku selalu meneriakkan namanya. Berharap mendengar sahutan. Semakin dalam menyusuri hutan, rasa takut menjadi semakin besar. Bukan takut untuk diri sendiri, tapi takut Arsha kenapa-napa.


Gadis itu sangat takut berada di kegelapan. Tidur sendiri dengan lampu dinyalakan saja dia ketakutan, apalagi di posisi saat ini. Tak terbayang rasa takutnya seperti apa. Aku jarang berdoa di sepanjang hidup. Namun kali ini aku berdoa, semoga Arsha baik-baik saja.


***


Gadis itu kutemukan tengah meringkuk sembari menangis terisak-isak. Perasaanku sangat lega luar biasa. Melebihi perasaan ketika memenangkan tender ratusan milyar. Gadis itu kupeluk erat. Takut kalau keberadaannya hanya halusinasiku saja.


Hal yang tak kumengerti, mengapa aku jadi sekhawatir dan setakut ini? Mengapa aku yang jarang memiliki emosi menjadi seberantakan ini? Hingga otak yang biasa mengandalkan logika tak bisa jalan. Bersikap tanpa perhitungan dan hanya mengandalkan perasaan.


Apa karena amanah orangtua Arsha? Aku takut tak bisa memenuhi janji ke mereka? Apa karena alm. Arsyad? Aku takut kejadian yang sama kembali terulang? Atau ada hal lainnya?


***

__ADS_1


Happy Reading 🥺


NB : Mohon maaf kalau bahasanya blepotan dan hambar ya 🥲🙏 POV Armand sengaja kupercepat agar segera selesai dan menuju POV Author 🙏


__ADS_2