
"Boncel, bagaimana kabarmu? Masih ingat aku?" tanyanya dengan senyum dikulum dan mata bersinar jahil.
Aku tertegun. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku ingat mata dan senyum itu. Seperti pernah melihat, namun entah dimana. Aku mencoba menggali ingatan yang terkubur, mungkin saja ada hal yang terlewat, namun aku tak menemukannya. Selama 22 tahun aku hidup, belum pernah aku memiliki kenalan seorang tentara. Lalu, siapa pria ini? Mengapa memanggilku dengan panggilan "boncel" yang entah mengapa juga terasa sangat familiar?
"S-siapa ya?" Aku menyerah. Digali seperti apapun, tidak ada ingatan tentangnya. Mungkin pria ini salah mengenali orang.
"Wah, sepertinya aku menjadi lebih tampan, hingga seorang boncel tidak mengenaliku." Pria itu menggaruk rambut cepaknya sembari tersenyum lebar. Matanya bersinar dan menjadi lebih hidup, layaknya seorang anak kecil yang tengah mendapat hadiah yang diidam-idamkan. Dia sangat ekspresif.
"Lihat aku baik-baik. Lihat wajah ini. Tidakkah kamu mengingatnya?" Nada suaranya menjadi sedikit lebay. Dia meletakkan jari telunjuk dan jempol di bawah dagu. Satu tangan menopang tangan lain. Mata mengerling dengan senyum tersungging. Tingkahnya itu mengingatkanku akan anak alay yang berusaha memproklamirkan dirinya ganteng dan keren.
Sedikit demi sedikit bibirku mulai melebar. Aku menahan diri untuk tidak menyemburkan tawa yang sudah berada di ujung bibir. Setengah mati aku berusaha menahannya, hingga membuat tubuhku bergetar. Bayangkan saja, tubuh kokoh dan seragam jantannya sangat kontras dengan kelakuannya yang berlagak sok keren dan imut.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja. Kenapa pake ditahan-tahan. Aku emang selucu itu." Kali ini dia menjulingkan mata sembari mengerucutkan bibir. Aku tak bisa menahannya lagi. Tawaku meledak. Kututup mulut dengan tangan, untuk menahan suara tawa itu keluar.
Siapa sih pria ini? Kenapa dia sangat slebor? Apa dia tidak malu dengan seragamnya? Tubuh tinggi dan berototnya? Kenapa bertingkah lawak seperti ini?
Kesan menakutkan dan sulit untuk didekati yang awalnya melekat kini telah hilang. Pria itu terlihat lebih friendly. Aku menjadi rileks dan tak takut lagi.
Dia menatapku sembari tersenyum kecil. Binar di matanya masih menari-nari. Wajahnya sangat ekspresif. Dalam sekali lihat, aku bisa menebak isi kepalanya. Dia senang bertemu denganku. Mudah memahami pria seperti ini. Tidak seperti seseorang, yang sangat kaku dan ambigu. Membuatku berpikir keras hanya untuk mengetahui isi kepalanya.
"Sudah mengingatku?" tanyanya dengan nada berharap. Aku menggelengkan kepala. Ekspresi senang itu seketika berubah menjadi sedih. "Ckckck, padahal, aku adalah orang yang paling berjasa dalam hidupmu," ratapnya, kembali dengan nada lebay.
"Siapa sih?" tuntutku penasaran.
"Butuh clue?" tanyanya. Aku mengangguk. Dia mendekatkan kepala. Bibirnya mendekat ke telingaku. "Yakin butuh clue?"
"Iya. Siapa sih?"
"Nggak akan malu?" Aku menggelengkan kepala. "Yakin?"
__ADS_1
"Yakin!"
"Bukan salahku kalau kamu memaksa seperti ini." Dia berhenti sejenak, seperti memberi jeda untuk adegan menegangkan ala-ala sinetron. "Aku ... adalah orang yang menyelamatkanmu ketika cawetmu* hanyut .... Kalau bukan karena aku, kamu akan pulang tel*njang dan menjadi ledekan semua orang. Ingat?" (*cawet \= ****** *****)
Kilatan-kilatan ingatan itu seketika datang berkelebat. Datang serempak. Memenuhi otak. Ingatan memalukan yang ingin kulupa namun tak bisa. Sudah berusaha mengubur, namun kembali muncul ke permukaan begitu ada yang menyinggung.
Tanpa sadar, pupil mataku melebar. Mata membelalak dengan mulut menganga. Aku menatap takjub pria di depanku. Dilihat berkali-kali pun, pria ini tidak ada kemiripan dengan seseorang yang kukenal ketika masih kecil.
"K-kamu b-bukan Si Item Saka 'kan?" tanyaku ragu.
"Menurutmu?" Pria itu menaikkan alis. Meletakkan kedua jari di dagu dan bergaya seperti coverboy tahun 90'an. Mengerlingkan mata dengan genit. Ciri khas yang selalu ditunjukkan Saka ketika merasa dirinya ganteng.
"E-eh?? N-nggak mungkin sih. Saka 'kan pendek. Item lagi ...."
"Tarik ucapanmu itu, Boncel."
"B-beneran Saka?!"
"Yep!" jawabnya sembari menganggukkan kepala.
"A-astaga!! Y-ya ampun!!" Aku membungkam mulut dengan kedua tangan. Mata terbeliak. Rasanya tidak percaya. Orang yang belasan tahun tak terlihat kini berada di depan mata. Perasaanku campur aduk. Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas, perasaan bahagia lebih mendominasi diantara perasaan lainnya. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca.
Saka tersenyum manis. Tatapannya yang penuh kejahilan berubah menjadi lembut dan sarat akan makna. "Gimana kabarmu, Nay?"
***
"Aku masih nggak nyangka bisa ketemu kamu seperti ini. Kemana aja selama ini? Tau darimana aku di sini? Wah hebat, sekarang kamu jadi tentara ya." Aku tak mampu mengontrol semua pertanyaan yang berkecamuk di kepala. Aku begitu penasaran dengan kabarnya.
Kami memutuskan untuk pindah ke kantin perusahaan yang terletak di belakang gedung. Tentu saja hal itu kulakukan untuk tidak menganggu aktivitas operasional.
__ADS_1
"Wait, wait. Satu-satu nanyanya. Bingung harus jawab yang mana dulu." Saka mengangkat kedua tangan seolah-olah pasrah, sementara sorot matanya sangat jenaka. Sungguh, dia benar-benar telah berubah. Bila bertemu di jalan, aku tidak akan mengenalinya.
Namanya Sang Saka Sadewa. Dia adalah anak aneh yang tiba-tiba saja pindah ke desaku. Pertemuan pertama kami diikuti dengan kejadian memalukan. Seperti ceritanya, dia pernah menyelamatkanku dalam kondisi memalukan.
Kala itu, aku baru kelas 3 SD. Seorang gadis kecil tomboy yang hobbynya menjelajahi sungai dan perbukitan. Gadis yang tidak menyukai boneka, tidak memiliki teman sepantaran sehingga lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri.
Siang itu, seperti biasa, sepulang sekolah aku selalu mampir ke sungai. Tujuannya satu, sekedar say hello pada penghuninya dengan cara berenang. Seperti bocah kecil lainnya, aku selalu berenang tanpa menggunakan pakaian. Menikmati kesegaran air sungai selama berjam-jam.
Setelah berjam-jam berendam, tubuhku mulai kedinginan. Aku memutuskan untuk menyudahi ritual itu dan menghela tubuh ke pinggir sungai. Tak disangka, baju yang kuletakkan di pinggir sungai menghilang tanpa jejak. Aku yang kebingungan hanya bisa pasrah. Berharap ada orang yang datang dan meminjamiku pakaian.
Pada saat itulah Saka datang. Pria kecil itu melepas baju dan celananya. Menyuruhku untuk memakainya. Sementara dia sendiri hanya memakai ****** *****. Aku yang tak punya pilihan, pada akhirnya memakai baju itu. Kami pulang dengan banyaknya suitan di sepanjang jalan. Para anak laki-laki yang lebih tua banyak yang menggoda dan menjodoh-jodohkan kami. Mungkin hal itu menjadi hiburan mereka sendiri. Meskipun harus menanggung malu, semenjak itu Saka menjadi temenku.
"Kamu, jadi seperti cewek ya, sekarang," gumamnya. Satu tangannya menyangga kepala. Memandangku dengan tatapan malas namun sangat intens. Pupil mata bersinar dengan bibir yang sedikit terbuka. Gadis lugu akan berpikir bahwa pria di depanku ini sedang menunjukkan ketertarikan. Namun, tentu saja itu tidak berlaku untukku. Dia adalah Saka. Dan di mataku, Saka bukanlah seorang pria.
"Memangnya kamu pikir selama ini aku cowok gitu?!" dengusku sebal.
"Sepertinya begitu ...."
"Apa?!" Tanganku secara otomatis memukul-mukul tubuhnya. "Coba ulangi lagi. Aku cowok katamu?!"
"Hahaha, ampun, ampun, Nay." Tiba-tiba Saka memegang kedua tanganku hanya dalam satu genggaman. "Tanganmu kecil ya." Dia memperhatikan tanganku dengan seksama. Kedua tanganku terasa sangat kecil dan kontras berada dalam genggaman tangan berototnya.
"Apaan. Dari dulu tanganku emang kayak gini." Aku berusaha menarik tangan, namun Saka tetap menahannya. Dia malah menangkupkan tangan satunya. Membuat tanganku semakin terpenjara.
"I miss you, Nay."
***
Happy Reading 🥰
__ADS_1