Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 69 - POV Armand


__ADS_3

"Jauhi Arsha? Tidak ada laki-laki yang mengalah di kandangnya. Saya rasa Anda pun tahu tentang hal itu." Si Bocah masih berbicara dengan tenang dari sudut sofa. Dari sorot mata, aku bisa melihat keteguhan dari ucapannya. Tak ada niat baginya untuk patuh dan mundur.


"Ya, saya tahu. Tapi tidak ada juga laki-laki yang akan mundur jika sudah berani menyambangi kandang lawannya," balasku menggunakan idiom yang setara.


"Hahaha!' Bocah itu tertawa. Tawa yang congkak dan penuh rasa percaya diri. "Silahkan diminum Pak Armand." Dia menunjuk air mineral yang disediakan di meja. "Anda pasti haus sekarang."


"Jangan meremehkanku!" Aku tak mengendurkan tatapan kepada bocah yang merasa di atas angin ini.


"Pak Armand, menurut Tsun Zu, ahli perang Cina kuno. Petarung yang baik adalah yang sadar kemampuan diri dan kemampuan lawan." Dia menjeda kalimatnya sesaat dan menyesap air mineral kemasan yang ada di depannya. Sikapnya benar-benar mencoba mengintimidasi.


"Anda lihat sekitar Anda, ini kandang saya. Dan Anda bisa lihat seragam ini, saya sedang bertugas. Dan tugas kami adalah menjaga marwah instansi. Semua yang saya lakukan sekarang akan menjadi cerminan marwah instansi. Dengan semua kondisi ini apakah Anda merasa saya akan melunak?" Tatapan mata bocah ini menjadi serius.


"Saya hanya minta Anda untuk menjauhi Arsha!" Sekali lagi kuulangi. Aku tak gentar dengan ancamannya.


"Apa kapasitas Anda untuk melarang saya?"

__ADS_1


Ucapannya cukup menohok. Benar, apa kapasitasku sekarang? Aku pun bukan siapa-siapanya Arsha. Aku bertindak seperti ini pun karena termakan emosi. Ada rasa marah dan tak rela, melihat bocah ini bersama Arsha. Benarkah ini hanya perasaan seorang kakak yang melindungi seorang adik? Atau ada perasaan lain? Tidak mungkin karena cemburu bukan?!


"Dia bawahanku langsung. Aku harus menjaganya."


"Hahaha, alasan yang tidak masuk akal." Saka mengubah posisi duduknya menjadi condong ke arahku. "Seandainya saya datang ke ruangan kerja Anda dan mengutarakan permintaan yang sama. Apa yang Anda lakukan?"


Aku berdiri, sepertinya perbincangan ini tak perlu dilanjutkan.


"Kita atur waktu bertemu lagi di luar."


Aku sudah berjalan ke arah pintu dan berbalik begitu mendengar ucapannya.


"Daripada sibuk mengurusi bawahan, kenapa Anda tidak fokus saja mengurus istri yang akan melahirkan, Pak Armand?"


"Istri? Tidak ada istri yang perlu saya urus. Anda mengatakan akan mempertahankan Arsha? Terima kasih, kata-kata Anda telah membuat saya sadar. Saya juga akan memperjuangkannya. Mari kita lihat, siapa yang akan dia pilih pada akhirnya."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung ke luar dan meninggalkan pria itu tanpa menoleh lagi.


***


Memang benar. Menemui pria itu membuatku menyadari perasaan ini. Ini bukan perasaan atasan melindungi bawahan. Bukan pula perasaan seorang kakak pada adiknya. Atau bentuk tanggung jawab karena diberi amanah untuk menjaga. Perasaan ini melebihi itu! Ini adalah perasaan sayang seorang pria terhadap wanita!


Mengapa selama ini aku begitu bodoh? Sudah begitu banyak tanda-tandanya, namun aku selalu menepis. Selalu berlindung pada hubungan atasan bawahan atau adik kakak. Apa yang coba kutampik?


Aku menyukai Arsha. Aku menyayanginya. Kemungkinan besar, aku juga sudah mencintainya.


Bodoh! Mengapa begitu lama menyadari perasaan ini? Masih belum terlambatkah untuk mengutarakannya?


***


Happy Reading 😅🙏

__ADS_1


NB : Mangap kalo pendek2 😂🙏 Habis ini POV Author ya 😁


__ADS_2