
"Kamu udah gila ya?! It's too much Ka!! Kamu benar-benar berlebihan! Apa sih maksudmu kayak gini?"
Saka tergelak. Dia beringsut dari berlututnya dan duduk di seberangku. Ya, kursi yang awalnya ditempati oleh Nadya dan Pak Armand itu telah kosong.
Setelah Saka berlutut dan mengutarakan niatnya, kami semua diliputi keterkejutan. Aku terkejut hingga hanya bisa menatap Saka dengan mata terbelalak tanpa bisa berkata-kata. Nadya juga terkejut. Dia sampai menutup mulutnya. Ekspresi terkejut yang diberikan Nadya berbeda. Dia terlihat senang melihat pemandangan di depannya.
Sementara pria di sampingnya, tidak bereaksi apa-apa. Tangannya mengepal erat, hingga otot-ototnya terlihat. Matanya tanpa ekspresi. Namun bibirnya yang terkatup rapat hingga rahangnya mengeras, tak bisa menyembunyikan amarahnya yang tersembunyi.
Aku sudah takut pria itu akan menjungkirbalikkan meja dan melempar Saka. Rupanya kekhawatiranku terlalu berlebihan. Pak Armand tidak melakukan keduanya, namun dia melakukan hal yang tak kuduga.
Dia tiba-tiba saja berdiri. Tanpa sepatah katapun, dia berbalik dan meninggalkan kami. Mengabaikan Nadya yang memanggilnya berulangkali. Akhirnya Nadya juga ikut pergi, membuntutinya dari belakang.
Sekarang hanya tinggal aku dan Saka. Kutatap pria itu yang masih tergelak.
"Nggak usah ketawa. Nggak lucu!"
"Marah?"
__ADS_1
"Menurutmu?" Aku bersungut-sungut. "Sebenarnya apa sih maksudmu? Ini di luar skenario kita. Aku cuman minta kamu berpura-pura jadi pacarku. Kenapa pakai adegan melamar segala? Dan, dapat darimana cincin yang kelihatannya asli itu?" Menggelikan memang. Rasa marahku sedikit teralihkan melihat barang berkilau. Hah, dasar wanita.
"Memang ini asli." Saka menjulurkan kotak beludru berwarna biru tepat di depan mata. Menggoyang-goyangkan ke kiri dan kanan. Membuat mataku mengikutinya. Aku melebarkan mata untuk melihat secara saksama.
Cincin itu terbuat dari emas putih. Dipinggirannya bertabur berlian-berlian kecil sementara berlian solitaire yang cukup besar berada di tengah. Sangat indah dan berkilau, membuat yang melihat ...
Ah!! Kenapa aku malah fokus pada cincin? Sekarang masalah utama bukan cincin, melainkan sikap Saka yang tak terduga.
"Masalah cincin ini, kita bahas nanti. Yang aku tanyakan sekarang, apa maksud sikapmu tadi? Aku butuh penjelasan masuk akal."
"Nay, bosmu aneh. Bukannya dia ingin memastikan bahwa aku beneran pacarmu. Kenapa dia pergi?" Ekspresi wajahnya kembali seperti awal lagi. Ah, mungkinkah aku salat lihat?
"Aku nggak tau. Lagian kamu ekstrem banget. Pake acara lamaran-lamaran segala. Kenapa kamu jadi berlebihan gini?"
"Bagian dari improve. Biar kelihatan meyakinkan. Bukannya kamu ingin dia nggak mencampuri urusanmu?"
"Iya sih ...."
__ADS_1
"Coba kamu pikir. Kalau kita hanya berpura-pura pacaran saja, apa kamu pikir dia tidak akan mencampuri urusanmu?"
Sebenarnya aku juga kurang yakin. Akankah Pak Armand berhenti ikut campur? Atau malah sikapnya akan semakin menjadi-jadi?
"Trus?"
"Kita butuh ikatan nyata. Bukan sekedar pacaran saja. Aku harus menunjukkan keseriusan, dengan cara melamarmu seperti ini."
Aku tercenung. Menelaah setiap perkataan Saka.
"Jadi menurutmu, bila kita pura-pura bertunangan, dia tidak akan ikut campur lagi?"
"Yes, for sure. Jadi, cincin ini dipake saja. Dia akan tahu jawaban apa yang kamu berikan dengan melihat cincin ini. Oke?"
***
Happy Reading 😚
__ADS_1