Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 52 - Aku Menyukai


__ADS_3

"Sudah bangun?" tanya suara yang sangat dalam. Suara familiar yang dulu pernah menghiasi mimpi-mimpiku. Aku menoleh dengan cepat, untuk memastikan tidak sedang bermimpi.


Benar saja. Kursi kosong di sebelahku sudah ada yang menempati. Siapa lagi kalau bukan Si Paduka Kaku.


Rasa kantukku serta merta hilang. Kesadaranku pulih seratus persen. Tanpa sadar aku langsung berdiri.


"S-saya mau pindah."


"Duduk."


"T-tapi ...."


"Kamu tidak lihat bisnya lagi jalan? Duduk." Mau memaksa pun tidak akan bisa. Jalan keluarku dihalangi oleh kakinya. Mau ribut-ribut juga akan mempermalukan diri sendiri. Aku tak punya pilihan selain kembali duduk.


Kursi itu hanya cukup untuk diduduki oleh dua orang. Tubuh Pak Armand yang tinggi dan besar, membuat spacenya menjadi lebih sempit. Ketika sama-sama duduk, tubuh kami akan otomatis saling bersentuhan satu sama lain. Aku sudah berusaha menggeser tubuh sejauh mungkin, namun tubuh kami tetap saja bersentuhan.


Suasana di dalam bus cukup ramai. Hampir setiap orang berbincang-bincang dengan orang di sebelahnya. Hanya kami berdua yang saling berdiam diri. Atmosfer di sekitar kami terasa awkard dan kaku. Aku lupa, dia adalah pria tidak peka dan tidak memiliki perasaan, jadi mau ditempatkan di situasi apapun tidak akan masalah baginya.

__ADS_1


Keheningan ini begitu mencekam (untukku). Aku begitu bingung harus melakukan apa. Haruskah aku berpura-pura tidur? Oh, aku melupakan satu hal penting. Kemana Nadya? Mengapa pria ini justru duduk denganku? Bukan dengan istrinya?


Pertanyaan itu menghantui kepala, namun aku terlalu gengsi untuk menanyakannya. Aku tidak ingin dia melihatku terlalu kepo dengan kehidupannya. Semakin aku terlihat cuek dan tak peduli, akan semakin menyelamatkan harga diriku.


Mungkin aku sebaiknya tidur lagi. Pura-pura saja di sebelahku sedang tidak ada orang. Anggap saja dia patung. Jangan hiraukan.


Aku menarik masker, mendekap tas, mencari posisi nyaman dan memejamkan mata. Aku bersiap untuk tidur lagi.


"Jangan tidur. Sebentar lagi sampai pelabuhan." Awalnya aku ingin protes, namun mulutku langsung terbungkam begitu melihat bus mulai memasuki area pelabuhan Ketapang.


Setelah mengantri cukup lama, akhirnya bus masuk ke dalam kapal ferry dan seluruh penumpanganya berhamburan keluar. Tak terkecuali aku.


Desiran angin menghantam tubuh. Dinginnya menusuk kulit, membuatku harus merapatkan jaket tipis yang menempel di tubuh.


"Dingin?" Suara yang begitu familiar datang dari arah belakang, membuatku tertegun dan terkejut. Aku sudah berusaha menghindarinya, namun lagi-lagi dia berhasil menemukanku. Apa sih maunya?


Aku memilih untuk mengacuhkan dan tetap menatap laut dalam kegelapan. Di malam seperti ini, laut tak lagi indah, malah terlihat menakutkan. Hanya taburan bintang-bintang di langit yang mampu menyeimbangkan keindahan itu.

__ADS_1


"Teh?" Tangan itu mengangsurkan teh yang diletakkan dalam gelas plastik. Tangan itu sudah terulur sangat jelas. Satu tangan memegang teh sementara tangan yang lain memegang kopi. Akan sangat tidak sopan bila aku menolak pemberian itu. Dan dia masih atasanku, jadi aku tetap harus menjaga prilakuku.


"Terima kasih." Aku mengambil teh itu dan kembali menatap laut. Pria itu tetap berdiri di sampingku. Dia ikut-ikutan menatap laut. Kami berada di keheningan yang cukup lama. Kemudian dia berbalik arah dan menatapku lekat-lekat. Aku tak berani menatapnya langsung. Hanya sudut mataku saja yang bisa membaca sedikit gerak-geriknya.


Dia menatapku lama dan lekat. Membuatku sangat tidak nyaman. Bahkan teh di tangan mulai dingin. Rasanya aku ingin berkata, "Apa liat-liat?"


"Arsha," panggilnya.


"Hem." Aku benar-benar enggan untuk melihatnya. Tak sopankah bila aku mengacuhkan panggilannya itu? Tapi bila melihatnya, aku takut nantinya akan kembali lemah.


"Arsha, sepertinya aku menyukai ...."


"Aduh!!" Seseorang menyenggolku hingga teh di tanganku tumpah dan berhamburan ke tubuh Pak Kaku. "Aduh, maaf Pak, maaf. Untung tehnya sudah dingin. Maaf, Pak." Aku kalang kabut, mengambil tissue di tas dan membersihkan sisa-sisa air teh di kaosnya. Secara tiba-tiba, kedua tangan kokoh itu menggenggam tanganku. Menghentikan gerakanku yang tengah mengelap kaos.


"Arsha ...."


***

__ADS_1


Happy Reading 🥰


__ADS_2