Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 49 - Resmi Pacaran


__ADS_3

"Saka ...."


"Hem?"


"Beliau kenal orangtuaku. Bagaimana kalau beliau bertanya ke ayah ibu mengenai kita? Habislah kalau kita ketahuan bohong." Kami tengah berada di atas motor. Saka mengantarku ke kontrakan.


"Itu gampang."


"Gampang gimana?"


"Sebelum dia menghubungi ayah ibu, aku akan menghubungi lebih dulu."


"Memangnya kamu mau bilang apa?"


"Ya, aku bilang kalau aku pacaran sama kamu. Selama ini kita LDR. Dan aku ada niat buat melamarmu."


"Ish, gila kamu ya! Bahkan ke ortuku pun kamu ada niat buat bohong."


"Totalitas tanpa batas." Saka nyengir kuda. "Atau pengen nggak bohong?"


"Pengennya sih gitu. Tapi apa ayah ibu bisa mengerti?"


"Gampang Nay."


"Emang gimana?"


"Aku tinggal nemui ayah dan lamar kamu. Beres 'kan? Atau kalau perlu aku minta papa mama kesini buat lamar kamu. Gimana?"


"Jangan gila kamu, Ka!"


"Aku nggak gila."


"Kalau aku bilang gila, ya gila!"


"Nay ...."


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu tahu obatnya patah hati?"


"Apa?"


"Hati yang baru."


"Ish, kamu nih."


"Mau nyoba pacaran beneran sama aku?"


"Jangan bercanda deh."


"Aku serius."


"Aku nggak minat. Makasih."


"Kenapa?"


"Kenapa masih tanya? Tentu saja karena kamu temanku."


"Jawabanku tetap sama. Tidak. Makasih."


"Beri aku alasan masuk akal."


"Hem, alasan masuk akal ya? Hem, apa ya?" Aku memutar otak. Mencari perbedaan Saka dan Pak Armand. Dalam sekejab kilat aku langsung menemukannya.


"Kamu nggak buat aku berdebar."


"Kalau aku bisa membuatmu berdebar, apa kamu bisa mempertimbangkanku?"


"Tergantung."


"Jawab, iya apa nggak?"


"Tapi aku yakin ...."


"Jawab, iya apa nggak, Nay. Nggak ada opsi lain."

__ADS_1


"Oke. Iya!"


"Pegang ucapanmu ya. Kalau aku bisa membuatmu berdebar, kamu harus pacaran denganku."


"Ya, ya, ya!" Diiyain sajalah. Toh aku yakin tidak akan berdebar. Sedari awal bertemu Saka tidak ada debaran sama sekali. Meskipun pria itu berganti kulit menjadi sosok baru yang lebih charming, pada kenyataannya hati ini tak berdebar untuknya. Hati ini masih berdebar untuk yang lain, dan sekarang debaran itu masih diusahakan untuk dipadamkan.


"Pegang aku erat-erat."


"Mau apa?"


"Pegang saja." Saka mengambil tanganku dan melilitkan dipinggangnya. "Aku mulai!" teriaknya. Dan beberapa detik kemudian, motor yang awalnya hanya berkecepatan 40-50 km/jam itu melesat bagaikan angin.


Entah berapa kecepatannya saat ini. Yang jelas, telingaku mulai berdengung. Kaki seperti melayang, sementara suara-suara klakson kendaraan datang bersahut-sahutan.


Saka meliuk-liukkan motor dengan lincah. Sengaja memberi jarak dekat dengan kendaraan lain, ketika sudah hampir menabrak, sepersekian detik kemudian, dia akan meliuk dan menghindari tabrakan. Begitu berulang-kali hingga tak terhitung berapa makian yang sudah diterima.


Aku memejamkan mata. Tentu saja mengalami hal seperti ini membuat adrenalinku terpacu. Nyawaku serasa di ujung tanduk. Saka salah perhitungan sedikit saja, kita akan berada di alam yang berbeda.


"Gimana Nay?! Jantungmu sudah berdebarkah?!" tanyanya disela-sela kegilaannya dalam menggeber motor.


"Kamu gila!!" teriakku tanpa membuka mata. "Turunin aku!"


"Kamu belum jawab pertanyaanku, Nay!! Jantungmu sudah berdebarkah?!"


"Tentu saja berdebar! Kalau nggak berdebar, aku sudah mati!"


"Yes!! Berarti kita resmi pacaran ya!! Aku berhasil buat jantungmu berdebar!!"


"Saka!! Kamu gila!! Edan!! Ngerti edan?! Gendeng!"


"Hahaha, nggak peduli! Yang penting aku berhasil! Nay, malam ini kita resmi pacaran!! Titik!" teriaknya lagi.


"Nggak mau! Aku nggak sudi!"


***


Happy Reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2