
Tubuh Arsha menegang. Bahkan untuk beberapa detik ia lupa cara bernapas. Kepalanya kosong. Pikirannya berkabut. Matanya membelalak. Ia berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
Wajah tampan itu sangat dekat. Bahkan sangat dekat. Arsha bisa melihat arsiran alis tebal yang diciptakan Tuhan dengan begitu indahnya. Bulu mata panjang menghiasi mata yang tengah tertutup. Hidung mancung yang bergesekan dengan hidungnya. Satu hal yang tak bisa dilihatnya. Bibir. Karena bagian itu tengah melekat dengan bibirnya.
Ada sesuatu yang lembut, hangat, kenyal yang menyentuh bibirnya. Sesuatu itu bergerak secara perlahan. Awalnya hanya sentuhan ringan. Namun kemudian berubah menjadi kecupan-kecupan lembut berulang-kali.
Tubuh Arsha semakin menegang. Ia seperti tersengat aliran listrik ringan. Membuat ribuan kupu-kupu mengepakkan sayap di perutnya. Rasa itu menjalar ke sekujur tubuh. Menimbulkan sensasi kesemutan sekaligus geli. Entahlah, Arsha tak paham dengan perasaan ini. Dia bingung, merasa aneh, tak mengerti. Perasaan asing namun ia tak membenci. Anehnya, Arsha menyukai perasaan ini.
Wanita mungil itu secara berangsur ikut memejamkan mata. Menikmati rasa aneh yang tak dimengertinya. Ia tak membiarkan otaknya berpikir dan hanya menggunakan insting yang menyuruhnya untuk menikmati perasaan ini.
Dunia menjadi senyap. Waktu seolah berhenti. Hanya mereka yang bergerak dalam alam semesta ini. Panca indera Arsha menjadi lebih peka. Telinganya mampu mendengar suara napas hangat yang menerpa wajahnya. Penciumannya mampu menghirup aroma after shave yang menguar dan juga aroma mint yang tengah bertaut dengannya. Pusing namun juga sangat memabukkan. Sementara pertautan hangat itu masih terjalin.
Arsha yang awam hanya bisa terdiam. Berdiri mematung sembari meresapi apa yang tengah terjadi. Kehangatan dan kelembutan itu tak bergerak. Menyentuh bibirnya dengan lembut. Tak ada desakan. Tak ada tuntutan. Hanya kecupan ringan yang manis.
Bila otaknya sudah mampu menerima semua ini, dia pasti akan berteriak-teriak kegirangan. Bagaimana tidak? Pria yang sangat dicintainya, melebihi hidupnya sendiri, tengah menciumnya saat ini!! Mimpi apa ia semalam? Sepertinya semua sel di tubuhnya tengah bersuka-cita.
__ADS_1
Kehangatan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba saja kehangatan itu menjauh darinya ketika tubuhnya direnggangkan. Arsha tak rela. Ia sangat suka dengan sentuhan bibir mereka. Kenapa sekarang malah dijauhkan?!
Arsha protes. Tanpa ia sadari, kedua tangannya justru mengalung di leher Armand, sementara bibirnya mengerucut dengan mata terpejam, tak ingin pertautan itu selesai. Bukannya mendapat ciuman bibir seperti yang diinginkan, justru keningnya yang mendapat labuhan hangat itu.
"Kita lanjutin lagi kalau sudah keluar dari sini," ucap suara serak tepat di telinganya, membuat Arsha serta merta membuka mata. Tatapannya bertemu dengan mata paling tajam namun sekaligus hangat. Mata itu bersinar lucu. Terlihat geli.
Melihat pria di depannya membuat perasaan Arsha membuncah. Perasaan yang berusaha ditahannya selama ini. Perasaan yang coba ia lupakan karena tingginya tembok penghalang. Sekarang, tembok itu telah hancur. Tak ada lagi penghalang di antara mereka. Arsha bebas mencintai pria ini tanpa takut apapun.
Air mata Arsha kembali meluruh tanpa bisa ditahan. Dia menatap Armand dengan penuh cinta. Tanpa bisa ditahan, dia memeluk tubuh itu dengan erat. Menenggelamkan wajah di ceruk leher Armand.
"Iya, Arsha." Bibir Armand tersenyum kecil. Ia menepuk-nepuk punggung mungil yang tengah memeluknya erat. Ada satu hal yang sangat disyukurinya. Ia tak keberatan luka parah sekalipun kalau ganjarannya seperti ini. Armand melihat Arsha tak lagi menutup diri darinya. Wanita itu cenderung membuka perasaannya lebar-lebar. Kalau tahu efek terluka akan membuat Arsha seperti ini, sudah dari dulu akan ia lakukan.
"Janji ya, Pak?" Arsha menarik tubuhnya sejenak. Ia mengacungkan jari kelingkingnya. Menuntut janji pertautan jari. Tipikal hal yang dilakukan anak kecil ketika mengikat janji.
Lagi-lagi Armand mengangguk sembari tersenyum kecil.
__ADS_1
"Iya, janji." Dia mengambil tangan Arsha dan menautkan dengan jari kelingkingnya. "Sudah. Ada lagi?"
"Ada."
"Apa?"
Mata Arsha terlihat sangat hidup dan ceria. Pipinya bersemu merah. Armand seperti melihat Arsha yang dulu. Arsha yang selalu menatapnya dengan tatapan memuja.
"Kapan Bapak mau mencium saya lagi?" tanyanya tanpa malu-malu.
***
Happy Reading 🥰
NB : Jadi gess, Pak Kaku itu cuman kecup Arsha ya. Belum *******-lum*t. Ehem 😌
__ADS_1