Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 65 - POV Armand


__ADS_3

Kenangan 10 tahun yang lalu terlintas. Waktu itu aku berusia 19 tahun. Seorang mahasiswa baru di salah satu universitas terkemuka di Surabaya. Karena kecintaanku pada bangunan, aku memutuskan untuk mengambil jurusan arsitektur.


Selama masa ospek, sebenarnya tidak ada hal yang menonjol. Kecuali kelakuan beberapa kating yang mengganggu salah satu mahasiswa baru. Mahasiswa itu berperawakan kurus. Memakai kacamata dengan lensa tebal. Rambut tak disisir. Gestur tubuhnya terlihat gugup dan canggung.


Dia tipe-tipe mahasiswa yang bisa dibully oleh kating maupun teman seangkatan. Tak ada power, tak ada kepercayaan diri untuk melawan. Tipe yang biasanya dijadikan bulan-bulanan.


Awalnya aku tak begitu peduli. Aku memang tak pernah mau ambil pusing dengan urusan orang lain, tak terkecuali urusan dia. Namun pikiranku berubah ketika tak sengaja melihat sketsa bangunan yang dibuatnya.


Pria yang setelahnya kuketahui bernama Muhammad Arsyad Usman itu sangat jenius. Desain yang dibuatnya sangat tak terpikirkan oleh kami kebanyakan. Dia mendesain bangunan modern dengan kecanggihan smarthome secara detail. Dia seolah memiliki penerawangan akan masa depan.


Jujur saja, aku tertarik dengannya. Aku ingin lebih banyak belajar mengenai desain bangunan. Untuk itu aku mulai mendekatinya dan kami pun berteman.


Dia dipanggil Arsyad. Merupakan mahasiswa jalur undangan prestasi. Dia dari keluarga yang kurang mampu dan kuliah dari beasiswa.


Sebenarnya kami berdua sama-sama diuntungkan dari pertemanan ini. Aku mendapat banyak ilmu darinya, sementara dia terbebas dari gangguan kating dan para pembullynya. Tidak bermaksud arogan, background keluargaku cukup membuat mereka segan dan tak mengganggu lagi.


Kedekatanku dengan Arsyad membuat teman-teman yang awalnya meremahkan juga ikut mendekat. Lambat laun temannya pun semakin banyak.


Selama berteman dengannya, Arsyad adalah sosok yang sederhana. Dia memiliki orangtua yang mendukung apapun cita-citanya dan seorang adik yang masih duduk di kelas 6 SD.


Arsyad tinggal di salah satu kos kumuh dekat kampus. Aku cukup sering berkunjung ke kosnya untuk belajar desain bangunan. Hingga suatu hari aku bertemu dengan keluarganya yang datang berkunjung untuk pertama kali.


Seperti dugaanku, keluarga Arsyad pun sangat sederhana. Tipe-tipe keluarga Jawa yang sangat sopan dan ramah. Baru pertama kali bertemu, sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.


Beda lagi dengan adik laki-lakinya. Bocah itu terlihat sangat pemalu. Setiap melihatku, dia akan bersembunyi di balik tubuh ibunya, namun bila aku tak memperhatikan, dia akan balik memperhatikanku dengan diam-diam. Mungkin sebenarnya bocah ini ingin main, tapi karena malu dia selalu bersembunyi seperti itu. Mereka memanggil namanya Nay.


Bila pertemuan pertamaku dengan keluarga Arsyad adalah di rumah kosan, maka pertemuan kedua itu dilakukan di rumah sakit, lebih tepatnya di kamar mayat. Perasaan bahagia dan ceria di pertemuan pertama, berubah menjadi histeria dan penuh airmata di pertemuan kedua. Arsyad meninggal karena kecelakaan.

__ADS_1


Kondisiku saat itu tak memungkinkan untuk ikut ke Jember. Kondisi Mama yang tengah sakit dan adanya ujian semester. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk ke Jember ketika Mama sudah sembuh dan ujian selesai.


Bodohnya, aku tak memiliki nomor telepon keluarga Arsyad. Mengandalkan alamat yang diberi pihak kampus, aku mencari rumah Arsyad di Jember. Sayangnya, aku tak pernah menemukan alamatnya itu.


Dan sekarang, 10 tahun kemudian, aku justru bertemu dengan keluarganya dia. Kenapa dunia penuh dengan kebetulan?


***


"Waktu itu saya ke Jember untuk mencari alamat, Bapak."


"Untuk apa, Nak?"


"Mengunjungi makam almarhum. Maaf, waktu itu saya tidak bisa ikut mengantar."


"Tidak apa-apa, Nak. Semuanya sudah berlalu. Kami berusaha untuk hidup normal sekarang." Pak Usman menepuk-nepuk bahuku. Aku masih bisa melihat genangan bening di pelupuk matanya. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, aku sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Kalau boleh tau, Bapak dan Ibu sedang menunggu apa? Apa ada masalah untuk transaksi perbankannya?"


"Iya, Pak."


"Wah, kebetulan. Anakku juga kerja di sini. Ini hari pertamanya bekerja. Katanya lembur, makanya kami tunggu sampai selesai."


"Adiknya almarhum? Nay?"


"Iya, adiknya Arsyad. Wah, kamu masih ingat namanya." Setelah sempat tertutup mendung, wajah itu akhirnya kembali ceria.


"Tidak ada karyawan baru laki-laki di sini, Pak. Mungkin dia kerja di gedung sebelah." Aku menunjuk deretan gedung-gedung yang lain.

__ADS_1


"Kerja di sini kok. Dia bilang kerja di bank J****. Namanya Arsha Nayyara Usman. Ada 'kan karyawan atas nama itu?"


Ingatanku langsung mengcompare dua sosok yang sangat berkebalikan. Yang satu, bocah kelas 6 SD dengan rambut pendek, hitam, dekil, dan kurus. Sementara yang satunya seorang wanita berusia 22 tahun, dengan kulit kuning langsat bersih, berwajah imut, dengan mata bulatnya.


Apa benar mereka orang yang sama?!


***


Setelah berhasil menguasai diri, aku menjelaskan pada mereka bahwa karyawan atas nama itu memang bekerja di tempat kami. Aku juga menjelaskan, bahwa 'Nay' berada di bawah tanggung jawabku secara langsung.


Pak Usman dan istri terlihat sangat senang. Mereka menitipkan 'Nay' padaku layaknya tengah menitipkan seorang anak bungsu kepada anak sulungnya.


"Nak, maaf bila permintaan Bapak dan Ibu terdengar kurang ajar dan tidak tahu malu. Nay tidak punya kakak. Setelah kehilangan Arsyad, kami menjaganya dengan ketat. Setelah bekerja, dia jauh dari kami. Kami berharap dan meminta tolong, agar kamu bisa menjaganya layaknya adik sendiri. Maaf ya Nak, kalau permintaan kami terlalu kurang ajar."


Tentu saja aku mengiyakan permintaan itu. Tanpa diminta pun, aku akan melakukannya. Mengetahui 'Nay' adalah adik alm. Arsyad, secara tak langsung membuatnya seperti adikku sendiri.


Untuk membuat 'Nay' tidak manja dan tetap respect padaku, keluarga memintaku untuk tidak menceritakan semua kebetulan ini pada Nay. Di depan Nay, keluarga bersikap sangat respect padaku. Menganggapku hanya sekedar atasan 'Nay' dan menggunakan bahasa formal. Sementara di belakang 'Nay', mereka menganggapku seperti anaknya sendiri.


***


Aku berbaring sembari menatap langit-langit kamar. Semua terasa masuk akal sekarang. Alasan mengapa wajah Arsha sangat familiar. Ternyata aku pernah bertemu dengannya 10 tahun yang lalu.


Muhammad Arsyad Usman dan Arsha Nayyara Usman. Dari namanya saja sudah mirip, mengapa aku tak menyadari sebelumnya?


Ingatan tentang Arsyad kembali berkelebat. Andaikan dia masih hidup, mungkin sekarang dia sudah menjadi arsitek terkenal. Dia akan melimpahi keluarganya dengan kasih sayang dan materi berkecukupan. Melihat mobil pick up ayahnya yang sudah tua, sepertinya kehidupan mereka tak berubah menjadi lebih baik.


Setidaknya putri kecil mereka saat ini sudah bekerja di sini. Meskipun tak bisa merubah perekonomian secara drastis, setidaknya untuk kebutuhan bulanan bisa terpenuhi. Tugasku adalah menjaga Arsha agar dia betah bekerja di sini dan juga menjaganya dari laki-laki yang salah, seperti Haidar atau laki-laki lainnya.

__ADS_1


***


Happy Reading 🥰


__ADS_2