
"Arsha ...."
"Y-ya?" Aku menatapnya dengan campuran rasa bingung, gugup, terkejut dan bertanya-tanya.
Raut wajah yang biasanya datar, berkumpul berbagai macam ekspresi di sana. Kelopak mata menurun, bibir setengah terbuka, dengan sorot mata yang penuh makna. Ada keinginan tersembunyi yang ingin diutarakan, namun terselip keragu-raguan.
"Arsha, aku ...."
Terdengar suara awak kapal tengah memberi pengumuman, yang menyatakan kapal akan segera merapat, para penumpang dihimbau bersiap-siap dan masuk ke dalam kendaraannya masing-masing.
"Oh, sudah mau merapat, Pak. Saya turun dulu." Aku menarik tangan dari genggamannya dan segera berlari ke bagian lambung kapal. Bergabung dengan yang lain dan masuk ke dalam bus.
Sebenarnya hal yang kulakukan ini percuma karena pada akhirnya selama lima jam kedepan, aku tetap akan duduk bersebelahan dengannya. Sebelum dia datang, aku cepat-cepat memasang penutup mata, menyandarkan kepala dan tubuh sesantai mungkin, dan berpura-pura tidur. Orang normal pasti tahu, bahwa saat ini aku sedang tidak ingin diganggu.
Kondisi di dalam bus sudah mulai rame. Puluhan orang berbondong-bondong masuk dan menempati kursi masing-masing. Tak berapa lama kemudian, aku merasakan kursi di sebelahku juga terisi. Dari aroma parfumnya saja aku sudah tahu siapa orang di sebelahku. Penghuninya tetap tak berganti.
Beberapa saat kemudian, kapal merapat di pelabuhan. Setiap kendaraan mulai menyalakan mesin dan secara bergantian keluar dari kapal.
"Tidur?" tanya pria di sebelahku. Tentu saja aku memilih bungkam dan menutup mulut rapat-rapat. Tubuh yang aku buat sesantai mungkin tiba-tiba menegang. Aku takut pria itu memaksaku untuk bangun dan kembali memulai pembicaraan.
Hening. Tak ada pembicaraan lanjutan. Bahkan selama beberapa menit ke depan. Aku menduga bus sudah keluar dari pelabuhan Gilimanuk dan melanjutkan perjalanan ke Denpasar selama kurang lebih 4 sampai 5 jam.
Aku lega. Setidaknya Pak Armand tidak berusaha untuk membangunkan dan mengajakku berbicara. Sepertinya aku bisa tidur dengan tenang.
Ah, kenapa tadi sikap Pak Armand sangat aneh? Kenapa dia menatap seperti itu? Apa yang ingin dikatakannya? Kenapa ucapannya sangat menggantung?
__ADS_1
Apa katanya tadi? Arsha, aku menyukai ....
Menyukai apa? Kopi? Teh? Laut? Kapal? Bali? Nadya? Sebenarnya dia mau ngomong apa sih? Ah, kenapa pula aku memikirkannya?
Meskipun dia masih membuat jantungku tidak tenang, dia tetaplah bukan pria yang bisa dimiliki. Hati dan jantungku saat ini mungkin belum bisa melupakannya sepenuhnya, namun aku yakin, suatu saat nanti semua perasaan ini akan hilang dengan sendirinya.
"Arsha ...."
Hah?! Dia memanggil lagi?! Setelah keheningan yang lama?! Apa sih maunya? Aku tidak boleh menjawab. Aku harus tetap berpura-pura tidur. Cara ini lebih aman untuk kesehatan hati dan jantungku.
"Kamu sudah tidur 'kan?"
Abaikan, jangan dijawab. Anggap saja ucapannya itu angin lalu.
"Kuharap, kamu benar-benar sudah tidur."
"Arsha ...."
Nggak usah panggil-panggil. Berisik. Tidur aja sih.
"Arsha .... Ingat pertemuan pertama kita?"
Ya ingatlah. Itu 'kan saat Anda mewawancarai saya dengan wajah judes dan kaku itu. Kenapa harus diingatkan untuk kejadian yang baru terjadi beberapa bulan yang lalu?
"Sepertinya kamu lupa. Awal bertemu, kamu tidak mengenaliku."
__ADS_1
Hah? Apa maksutnya?
"Ya, wajar kalau kamu lupa. Kamu 'kan masih bocah waktu itu. Kurus, item, dekil, hahaha."
Entahlah, aku mendengar tawa yang dibalut kesedihan. Mungkin aku salah dengar? Dan apa maksutnya dengan "bocah"? Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Dimana? Kapan?
Ah, ingin rasanya aku membuka mata dan menanyakannya secara langsung. Tapi bila melakukan itu, aku takut dia malah menarik diri. Dia menyangka aku sudah tidur, makanya dia berani bicara seperti itu.
Baiklah, untuk saat ini, mari kita dengarkan ucapan anehnya.
"Pertemuan pertama, kamu masih ceria. Pertemuan kedua, kamu sangat sedih. Aku tidak menyangka masih akan ada pertemuan ketiga."
Ngomong apa sih Pak? Aku nggak paham.
"Selama berbulan-bulan ini, berkali-kali aku meyakinkan diri, bahwa semua yang kurasakan dan kulakukan adalah murni sikap seorang kakak untuk melindungi adiknya. Aku sangat yakin dengan pemikiranku ini, hahaha." Kali ini terdengar tawa ironis.
"Kamu tau apa yang lucu?"
Nggak tahu!! Mau ngomong apa sih Pak? Ngalor-ngidul wae nggak jelas.
"Kehadiran tentara ingusan itu justru menyadarkanku."
Saka maksutnya Pak? Sadar tentang apa, Pak? Makin lama ngomongnya makin nggak jelas Pak.
"Arsha, sepertinya aku menyukaimu."
__ADS_1
***
Happy Reading 🥰